
Nord-Pas-de-Calais, Prancis.
Badan Intelijen Prancis sudah mendapatkan informasi dari Vane tentang keberadaan Adam Millford. Mereka pun sudah mengetahui tentang rencana Adam yang akan menggelapkan senjata militer Prancis yang akan dilaunching bulan Agustus ini.
Hal itu membuat mereka, bergegas menuju salah satu perumahan elit di kawasan Nord-Pas-de-Calais. Walaupun mereka belum mengetahui wajah Adam yang sekarang, tapi mereka cukup geram karena sudah sering mereka mencoba menangkap dia tapi selalu gagal.
"Tuan Adam!"seru Rius asisten Adam.
"Ada apa?"tanya Adam.
"Intel Prancis sudah mengetahui keberadaan kita di sini"jelas Rius.
"Bagaimana bisa? Aku memilih perumahan elit yang tidak mungkin dicurigai"timpal Jade Haydey ayah Steven yang berada di samping Adam.
"Saya juga belum tahu, siapa yang memberitahu keberadaan kita. Tapi untuk saat ini kita harus pergi dari sini"sambung Rius.
"Baiklah. Jade bawa semua dokumen penting. Jangan sampai ada yang tertinggal. Buat rumah ini seperti layaknya rumah yang ditinggal penghuninya bekerja"titah Adam.
Jade membereskan dokumen penting yang sudah dia siapkan untuk menggelapkan senjata milik pemerintah Prancis. Sementara Rius berkemas membawa laptopnya. Mereka keluar dari rumah lewat pintu belakang dimana mobil mereka memang sengaja tidak diparkirkan di depan rumah. Dengan segera mereka meninggalkan rumah itu.
Tak berapa lama setelah kepergian Adam, tim intel Prancis sampai di kediaman Adam. Mereka langsung berpencar mengepung rumah itu untuk menangkap Adam.
Tanpa mereka ketahui, di dalam mobil yang terparkir di jalan perumahan, Adam sedang mengawasi pergerakan mereka. Rius sudah meretas semua semua CCTV yang ada penjuru kompleks perumahan itu, menghilangkan semua bukti terutama wajah Adam dan Jade agar mereka tidak mengetahui wajah kedua bosnya.
Sesampainya di dalam rumah, mereka tak menemukan sosok buronan mereka. Rumah itu kosong namun rapi. Mereka pun berpikir apa benar Adam bersembunyi di sini atau justru dia berhasil kabur.
"Vérifiez tous les CCTV dans ce logement"ucap komandan intel.
*Periksa semua CCTV di perumahan ini.
Salah satu anak buahnya mengecek CCTV perumahan itu, namun dia tidak menemukan pergerakan mencurigakan. Semua nampak normal seperti biasa.
"Damn, They ran away!"teriak komandan intel.
Karena tidak menemukan apapun, mereka pun memutuskan pergi meninggalkan rumah itu. Adam tersenyum puas saat melihat kegagalan di wajah para intel Prancis itu.
"Mereka pikir, mereka bisa dengan mudah menangkap kita"seru Jade.
"Kita jauh lebih licik dan cerdik dari mereka"kata Adam dengan senyum jahatnya.
"Tuan, sepertinya kita harus membatalkan rencana kita menjual senjata terbaru militer Prancis. Karena jelas setelah kejadian ini mereka akan memperketat penjagaan saat melaunching senjata itu. Dan posisi kita di negara ini sudah tidak aman"jelas Rius.
"Sial! Padahal jika kita bisa menjual senjata itu ke Spanyol, kita akan mendapat uang milyaran dolar"gerutu Adam.
"Tenanglah Adam. Ini bukanlah akhir, setidaknya kita harus pergi dari negara ini dan bersembunyi"ucap Jade.
"Benar yang dikatakan Tuan Jade. Kita akan pergi dari Prancis"sambung Rius.
"Tidak hanya mencari tempat persembunyian, kau harus cari tahu siapa yang memberi tahu intel Prancis tentang keberadaan kita"tegas Adam.
"Baik Tuan"jawab Rius lalu menjalankan mobilnya.
"Memang mau kau apakan orang itu?"tanya Jade.
"Menurutmu? Ya aku akan menghabisinya lah"teriak Adam.
"Kontrol emosimu, atau teriakanmu akan membangunkan seluruh penghuni perumahan ini"ucap Jade.
__ADS_1
"Tenang Tuan Adam, saya akan lakukan apapun untuk masalah ini"tegas Rius.
*****
Dua hari yang lalu, Vane mendapatkan telfon dari Pak Indro bahwa Vane akan mendapatkan fee dari kelas memasak Rey. Bayaran yang sengaja Vane tangguhkan menunggu Rey selesai syuting. Vane pun memutuskan untuk pergi ke kediaman Rey, pagi ini karena kebetulan hari ini Vane libur.
Vane pun pergi ke rumah Rey sore harinya. Baru saja Vane sampai di depan rumah Rey, pemandangan lautan manusia pembawa kamera tersuguhkan. Vane membelalakkan matanya melihat jumlah wartawan yang bejibun nangkring di rumah Rey.
"Astaga, ini gila. Mereka nggak ada kerjaan apa?"ucap Vane menggelengkan kepala.
"Nggak ngerasa laper apa haus gitu? Nggak capek? Orang Rey aja anteng-anteng aja di rumah"kata Vane yang masih memerhatikan kumpulan wartawan.
Vane yakin bagaimana Rey akan naik darah melihat kelakuan wartawan itu.
Vane memajukan sedikit mobilnya agar bisa menerobos masuk. Vane menurunkan kaca mobilnya agar wajahnya terlihat oleh pasukan satpam yang berjaga. Tentu saja para wartawan melihat wajah Vane sekilas. Setelah pintu gerbang terbuka, Vane langsung tancap gas dan menerobos masuk. Setelah memakirkan mobilnya, Vane pun masuk ke dalam rumah Rey.
"Hai Sita"
"Hai Chef"
"Rey ada?"
"Ada kok chef"
Belum sempat Vane mengucap kalimat lagi, Vane mendengar suara dua orang yang sedang beradu argumen di meeting room.
"Seharusnya kamu dengerin saran Om Indro bulan lalu untuk menggelar konferensi pers dan menyangkal tuduhan Clara, Rey. Sekarang semua sudah seperti ini, kamu mau apa? Kamu tahukan gosip Clara ini bisa menghancurkan karir kamu Rey"
Vane akhirnya tahu jika suara pertama yang dia dengar adalah suara Ibu Sarah.
"Mamah nggak usah terlalu khawatir deh. Karirku nggak bakal ancur-ancur banget. Soundtrack filmku bakal launching, terus film juga bakal tetap dirilis kok, tinggal nunggu hingar bingar gosip ini mereda aja"jawab Rey.
"Wartawan juga butuh makan, Mah. Biarin aja mereka mau ngomong apa. Yang jelas aku nggak bikin Clara hamil dan fans setiaku tahu itu. Untuk pengunjung website bukan jadi tolak ukur kesuksesan karir aku, Mah"balas Rey.
"Mamah nggak ngerti sama kamu. Mamah sudah bilang dari awal kalau mamah nggak suka sama Clara. Dia terlalu muda buat kamu dan emosinya nggak stabil, tapi kamu nggak mau dengar. Terus aja pacaran sama dia"
"Ini bukan sepenuhnya salah Clara, Mah. Kalau dulu Rey lebih perhatian dan sensitif terhadap segala kebutuhan Clara, dia nggak bakal balik ke Dani"
Wait a minute? Dani? As is Vokalis Band D'Dragon, mantan pacar Clara sebelum dia pacaran sama Rey? No way, sekarang Vane benar-benar terkejut ditambah saat melihat Sita yang sudah terlihat sangat setres karena dia bahkan sudah memegangi kepalanya.
"Di saat seperti ini kamu masih bisa belain mereka! Clara itu mungkin udah selingkuh dari kamu sejak kalian masih pacaran, Rey"bentak Sarah.
"Mah, what do you want me to do? Bilang ke semua orang kalau bayi itu anak Dani, bukan anak aku? Aku ngga bisa ngehancurin karir Dani. Dia temen aku, Mah"jelas Rey.
"Ka...karir dia? Terus gimana dengan karir kamu Rey? Kamu biarin karir kamu hancur secara perlahan-lahan gitu? Jangan gila, Rey!"omel Sarah.
"Mah, please understand"
"Aarrgghh...kamu emang keras kepala"teriak Sarah beranjak meinggalkan Rey.
"Mah..."Rey mencoba membujuk mamahnya.
Sebelum Vane mengeluarkan pertanyaan pada Sita, kepala Sarah sudah nongol di depan pintu meeting room. Wajahnya kaget melihat kehadiran Vane. Terbesit rasa malu karena tertangkap basah bertengkar dengan anaknya.
"Kamu sudah lama disini?"tanya Sarah menuduh.
Belum sempat menjawab, Rey tiba-tiba ikut muncul di belakang Sarah, berdiri dengan tegap. Rey tak kalah terkejut karena dia tidak tahu jika Vane akan datang hari ini.
__ADS_1
"Chef Vane datang ke sini mau mengambil fee dari kelas memasaknya dengan Rey"jawab Sita gugup.
"Selamat siang Ibu Sarah...Rey"sapa Vane canggung.
"Siang"jawab Sarah.
"Sita, tolong kamu urus fee untuk Vane. Kalau ada apa-apa saya ada di...di..."
"Pokoknya ada di atas. Kamu tinggal cari saya aja kalau ada perlu"tukas Sarah lalu berlari menaiki tangga menuju lantai atas.
Rey sejenak memandangi penampilan Vane hari ini. Nampak segar dengan memakai jumpsuit warna biru dan open toe heels dengan model hak kaca dan sepuluh detik mampu membuat Rey terpaku. Rey langsung sadar hilangnya mamahnya dari hadapannya. Rey pun langsung naik tangga ke lantai atas untuk menyusul mamahnya.
"Mari Chef Vane"ajak Sita menuju meeting room.
"Yaa"
"Chef mau makanan atau minuman apa?"tanya Sita.
"Eemm jus jeruk, dan mungkin cemilan aja. Terserah kamu cemilannya apa"ucap Vane.
"Oke, chef tunggu Om Indro aja, sementara aku ambilin chef minum dan cemilan"kata Sita lalu meninggal Vane.
Tak berapa lama setelah kepergian Sita, Indro pun datang dan langsung menghampiri Vane.
"Hai Chef"sapa Indro.
"Hai Pak Indro"balas Vane.
"Udah dari tadi?"tanya Indro menaik alis.
"Nggak juga sih"ujar Vane.
"Baguslah"kata Indro.
Vane hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Indro. Pasalnya, perdebatan Ibu Sarah dengan Rey masih terngiang di telinganya.
"Chef ini jus jeruk sama cemilannya"ujar Sita menyodorkan segelas jus dan banyak cemilan.
"Makasih Sita"kata Vane ramah.
"Om Indro mau dibikinin kopi atau teh?"tanya Sita.
"Nggak usah Sit, saya mau ke ruang tim editing film. Oh ya Rey sama Mba Sarah kemana?"ucap Indro.
"Di atas"jawab Sita dengan ekspresi datar seperti jalan tol.
Indro sudah bisa menebak jika terjadi sesuatu diantara ibu dan anak itu. Tapi Indro tidak mau ikut campur saat ini. Walaupun statusnya adik kandung Sarah, tapi Indro membiarkan masalah ini dibahas oleh mereka.
"Vane, saya tinggal dulu ya"ujar Indro.
"Silahkan Pak"jawab Vane.
Indro pergi ke ruang tim editing film yang ada di sebelah meeting room.
"Chef sebenarnya, saya nggak tahu masalah fee Chef Vane. Mungkin Chef bisa menunggu Rey"ujar Sita.
What? Sita nggak tahu apa-apa? Pak Indro juga santai banget, terus ngapain gue di sini Tuhan, gerutu Vane.
__ADS_1
"Ya udah, aku tunggu Rey aja"ujar Vane dibalas anggukan dari Sita. Lalu Sita meninggalkan Vane di meeting room.
Untung saja Vane membawa laptopnya, sehingga dia bisa mengisi waktu luang dengan mengecek pekerjaannya. Dan dengan baik hati Sita juga memberitahu sandi Wifi di kantor Rey.