
Harry Sean Kingston membuka layar handphonenya dengan senyum yang selalu terbit dari bibirnya. Ia merasa sangat tepat menitipkan adiknya yang sangat manja itu kepada Daniel Smith.
Gambar-gambar Suzanne yang sedang menikmati makanan di rumah sahabatnya itu membuatnya sangat tenang melaksanakan tugas negara. Hatinya tidak perlu merasa khawatir lagi.
Dan sekarang ia akan mengirimkan gambar adiknya itu kepada kedua orangtuanya di New Zealand agar mereka semua tenang sampai masalah itu selesai.
Pria itu kemudian menutup layar handphonenya dan mulai melanjutkan berkeliling ke seluruh kamp pengungsi perang dua negara ini.
Pria itu ikut mengecek barang-barang bantuan yang baru tiba dari Unicef berupa buku atau materi yang bisa digunakan oleh anak-anak korban perang itu untuk belajar.
Setelah itu ia dan kawan-kawannya membawa paket-paket itu ke kamp-kamp pengungsian agar bisa langsung digunakan untuk mengisi waktu kosong anak-anak.
Langkahnya terpaku hanya dengan melihat Zara Mukesh sedang menghibur anak-anak korban perang dengan nyanyian yang sangat merdu dari bahasa asli daerah itu.
"Salaam paman!" sapa anak-anak itu serentak padanya. Harry tersenyum kemudian melambaikan tangannya.
"Salaam!" balasnya seraya melangkahkan kakinya ke dalam tenda.
Sekotak besar cokelat ditangan kirinya dan Sekotak besar buku untuk mewarnai gambar ditangan kanannya ia letakkan di depan perempuan cantik berkerudung ala daerah itu.
"Vaare’ chhiva? Apa kabar?" sapanya lagi pada anak-anak itu seraya mengacungkan kotak coklatnya.
"Ba chhus thek , Shukriya. Baik-baik. Terimakasih." jawab anak-anak dengan antusias. Mereka sangat senang karena disapa oleh prajurit itu dengan bahasa asli mereka.
"Maaf ya Nona Mukesh. Aku ambil perhatian anak-anak ini dulu." ujar Harry kepada Zara Mukesh yang nampak ikut gembira dengan kedatangan salah satu dari anggota pasukan PBB itu.
"Silahkan Tuan. Mereka juga sudah mulai bosan denganku, hehehe." ujar perempuan cantik itu terkekeh. Harry tersenyum kemudian mengacungkan kembali beberapa batang coklat kepada anak-anak itu.
"Siapa yang suka coklat?" tanyanya dengan wajah ceria dan langsung dibalas dengan teriakan ribut anak-anak itu.
"Saya! Saya!" semuanya berteriak dan berebut meminta coklat itu. Sampai ada yang histeris dan menangis.
Zara Mukesh yang sudah menduga kerusuhan seperti ini akan terjadi langsung berteriak kencang dengan menghitung angka satu sampai tiga agar mereka semua diam.
Akhirnya suasana kembali kondusif. Rupanya anak-anak itu sangat menghormati Nona Zara Mukesh. Dan juga takut padanya.
__ADS_1
Harry tersenyum dengan kesabaran perempuan cantik itu menghadapi semua anak yang berbeda karakter itu.
"Maaf ya Tuan. Lain kali kalau ingin membagikan makanan anda harus taat pada aturan saya. Supaya tidak terjadi kekacauan seperti tadi." ujar Zara Mukesh dengan senyum diwajahnya.
"Oh maafkan saya Nona Mukesh. Lain kali aku akan belajar padamu bagaimana menaklukkan anak-anak ini." ujar Harry seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mereka sebenernya seperti bom. Gampang meledak dan sangat berbahaya ketika tidak mengenalnya dengan baik," ujar perempuan itu dengan pandangan ia lemparkan ke arah anak-anak yang sudah aman dan tenang.
"Oh ya? jadi malam itu kamu memperhatikan aku?" tanya Harry berusaha menerka-nerka.
"Tidak juga. Aku hanya ingin tahu dimana orang-orang itu memasang Bom hingga aku bisa berhati-hati ketika melewati jalanan itu." jawab Zara Mukesh tersenyum.
Harry ikut tersenyum dan merasa semakin dibuat penasaran dengan perempuan cantik itu.
"Tuan, kapan coklatnya dibagi?" tanya seorang anak laki-laki yang sudah tidak sabar menunggu coklat-coklat itu dibagikan. Harry menatap Zara meminta izin. Perempuan cantik itu mengangguk lalu berucap.
"Coklatnya baru kita bagi kalau kalian teratur dan tidak ribut."
"Iya Kakak. Kami akan jadi anak yang baik " jawab mereka semua serentak.
"To’h kyaa chhu naav? Siapa namamu?" tanya Harry pada seorang anak lelaki yang mempunyai nomor urut pertama yang akan menerima coklat itu.
"Gigimu sangat bagus. Bagaimana kalau kamu tidak perlu aku kasih coklat." ujar Harry memberikan penawaran. Anak itu menggeleng kepalanya kemudian menjawab.
"Cokelat ini bukan untuk saya Tuan. Tapi akan aku berikan kepada Kakak Zara yang sebentar lagi akan berulang tahun." Harry mengalihkan pandangannya pada Zara Mukesh yang sepertinya sedang berpura-pura tidak mendengar kata-kata anak itu.
"Baiklah Aryaan. Aku beri kamu dua coklat. Katakan pada Kakak Zara Mukesh kalau coklat yang satunya dariku, Okey?"
"Okey. Terimakasih banyak Tuan. Akan aku sampaikan saat waktunya tiba." balas anak itu kemudian duduk kembali karena anak-anak yang lainnya sepertinya sudah tidak sabar untuk mendapatkan giliran berikutnya.
Setelah semua anak sudah mendapatkan coklat. Harry pun memulai membagi buku mewarnai beserta pensil warnanya kepada semua anak-anak.
Mereka semua berwajah sumringah bahagia. Karena mendapatkan sebuah hiburan untuk mengisi hari-hari yang cukup membosankan berada di kamp pengungsian yang dilindungi oleh pasukan perdamaian PBB itu.
"Khuda Hafiz!. Sampai jumpa lagi semuanya. Assalamualaikum." ujar Harry kepada semua yang ada di dalam tenda-tenda darurat itu dengan wajah bahagia dan haru.
__ADS_1
Diusia yang masih muda, anak- anak itu sudah dihadapkan pada kekerasan dan penderitaan semacam ini. Orang tua dan saudara mereka mati terbunuh padahal mereka tak tahu apa-apa.
Mereka hanya rakyat sipil biasa yang selalu menjadi korban perebutan wilayah yang tidak pernah ada habisnya.
Harry menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Melihat kondisi seperti ini ia jadi merasa sangat bersyukur karena hidup dan bekerja di sebuah negara yang aman dan damai.
Dan sekarang ia juga bersyukur karena ikut terlibat dalam Organisasi besar in untuk membantu meringankan beban yang mereka alami.
"Baiklah Nona Zara. Aku permisi. Sampai jumpa lagi." ujar Harry seraya mengulurkan tangannya ingin bersalaman.
Zara Mukesh membalas jabatan tangan prajurit itu dengan senyum diwajahnya.
"Saya berterima kasih pada anda Tuan. Setelah kedatangan anda daerah perbatasan sudah lebih aman. Tak terdengar lagi korban dari bom yang meledak ditempat-tempat tertentu."
"Itu adalah tugasku dibawa ke daerah ini Nona Mukesh. Dan sungguh aku sangat senang mengenalmu." ujar Harry dengan senyum diwajahnya.
Zara Mukesh balas tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia tak ingin menjadi tontonan anak-anak kalau sedang bicara terlalu lama dengan seorang pria.
"Salam Nona Mukesh. Aku akan datang lagi besok. Katakan apa yang ingin kamu inginkan. Aku akan mencarinya untukmu."
"Hah?" Zara Mukesh menatap wajah pria bermata biru itu dengan tatapan bingung tak mengerti.
"Iya. Terkadang kita mungkin bosan dengan keadaan yang seperti ini. Mungkin kamu ingin makan sesuatu yang tidak ada di tempat ini?"
"Tidak Tuan. Semua yang ada di sini sudah sangat bagus. Ada banyak bantuan makanan yang masuk dari berbagai tempat."
"Kami hanya ingin kembali ke rumah dengan aman. Dan hidup seperti orang lain ditempat lain dibelahan bumi ini yang hidup dengan tenang." ujar Zara dengan mata berkaca-kaca. Harry ikut merasakan haru dan sedih.
Semua orang tidak yang ingin hidup dalam ketakutan setiap saat. Mereka juga ingin hidup tenang dengan keluarga mereka. Harry pun pergi dari sana dengan perasaan berat.
Sungguh ia ingin memeluk perempuan itu untuk memberinya kekuatan tetapi ia tidak punya hak untuk itu.
🍀
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍