Asmara Sang Pengawal

Asmara Sang Pengawal
# Part 41 Asmara SP


__ADS_3

"Daniel!" Suzanne berteriak histeris dari dalam mobil seraya memukul kaca jendela kendaraan roda empat itu saat melihat seorang pria asing dari arah depan mengarahkan moncong senjatanya ke arah dua orang yang sedang berduel itu.


Door


"Aaaargh!"


"Daniel!"


Suzanne menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya kemudian jatuh pingsan. Tubuhnya sudah tidak sanggup menyaksikan begitu banyak hal buruk yang terjadi di depan matanya beberapa jam ini.


Door


Door


Adu tembak kembali terjadi di luar sana. Teman-teman Javier Mascherano dari Gengster Black Power ternyata baru saja tiba dari arah bandara untuk menyelamatkan pria penculik itu. Mereka langsung berhadapan dengan Harry yang juga baru tiba di tempat itu.


"Daniel!" Harry berteriak seraya melemparkan satu senjata ke arah sahabatnya itu. Daniel melompat dengan sangat ringan ke Udara dan menangkap benda yang sedang dilempar oleh pria Auckland itu.


Javier Mascherano yang sudah tidak berdaya ternyata masih menyimpan di dalam hatinya. Ia berusaha untuk menyeret tubuhnya untuk mengambil pisaunya yang sempat terjatuh tadi.


Door


Door


"Aaaargh!" Teriakannya begitu memilukan ketika Daniel melepaskan dua tembakan yang langsung bersarang di jantung pria itu sebelum berhasil mendapatkan benda tajam yang ia andalkan sebagai senjatanya.


Door


Harry berhasil menjatuhkan lagi satu pria yang ingin menolong Javier. Tiga orang lawan mereka sudah terkapar tak berdaya di tengah jalan yang masih tampak sepi dan lengang itu.

__ADS_1


Tak ada lagi bunyi tembakan yang berbunyi. Yang terdengar hanya helaan nafas lega dan juga lelah. Harry menghampiri Daniel yang nampak pucat. Darah segar habis tusukan pisau dari Javier sepertinya belum berhenti mengalir dan membasahi kemeja biru pria itu.


"Terimakasih banyak Harry. Kamu datang tepat waktu." ujar Daniel seraya menyentuh bahu sahabatnya itu. Wajahnya sedikit mengernyit karena baru merasakan sakit dan perih.


"Jangan berterimakasih. Lukamu parah Daniel!" balas Harry dan langsung berlari ke arah mobilnya untuk mencari kain agar bisa menutup luka pria Moskow itu.


Daniel hanya tersenyum dengan kepanikan Harry sang sahabat. Pria itu menyentuh bahunya dan merasakan darah betul-betul masih mengalir dan semakin merembes membasahi kemejanya.


Daniel tidak perduli itu. Ia hanya memikirkan Suzanne yang masih berada di dalam mobil Javier. Ia sangat khawatir karena tidak ada lagi pergerakan di dalam kotak besi itu yang bisa menunjukkan ada kehidupan di dalam kendaraan roda empat itu.


Tangannya berusaha membuka pintu mobil yang ternyata sedang terkunci itu. Hatinya dipenuhi perasaan buruk kalau sebuah hal buruk mungkin telah terjadi pada Suzanne.


Door


Satu tembakan ia arahkan ke pegangan mobil itu dan akhirnya ia bisa membukanya.


"Suzanne!" teriak Daniel panik karena mendapati gadis manja itu sudah lemas tak sadarkan diri. Tubuhnya tertelungkup dibawah jok mobil bagian belakang mobil itu.


"Apa yang terjadi pada Suzanne?!" tanya Harry ikut panik. Ia menyentuh tubuh adiknya yang sudah didudukkan oleh Daniel di jok bagian depan mobil itu. Tak lupa ia pasangkan seatbelt agar tubuh gadis itu aman.


"Aku tidak tahu, tetapi sepertinya ia sedang pingsan," jawab Daniel kemudian bersiap menyalakan mesin mobilnya.


"Tahan darahmu dulu!" teriak Harry dengan melambaikan kain yang ada di tangannya. Ia ingin membalut luka pria itu tetapi Range Rover Evoque itu meninggalkannya dengan secepat kilat.


"Ya Ampun Daniel. Kamu bisa kehabisan darah Bodoh!" Harry masih berteriak kesal di tengah jalan itu karena lebih mengkhawatirkan sahabatnya daripada adiknya sendiri.


Pria itu segera meninggalkan tempat itu setelah beberapa polisi datang untuk mengamankan lokasi insiden berdarah itu. Ia mengikuti arah mobil Daniel dari belakang yang ia pastikan akan ke rumah sakit.


"Daddy!" panggilnya kepada Vedran Sean Kingston yang sedang menghubunginya lewat sambungan telepon.

__ADS_1


"Harry? apa ada kabar baik tentang adikmu?!" tanya pria itu dari seberang sana.


"Suzanne sedang dibawa ke Rumah Sakit oleh Daniel Dad." jawab pria itu sembari terus melajukan mobilnya mengikuti kemana arah kendaraan Daniel berjalan.


"Apa? jadi Suzanne celaka?" Suara Vedran melengking keras dari arah seberang sana. Harry sampai mengernyit karena kupingnya terasa berdenging.


"Aku tidak tahu Dad. Tapi ia sekarang tidak sadarkan diri. Aku tidak tahu apa sedang terjadi padanya."


"Baiklah kalau begitu. Kita akan bertemu di Rumah Sakit." balas Vedran dengan perasaan khawatir. Sudah dua kali Suzanne mengalami hal naas seperti ini. Dan ia berjanji akan menjaga putrinya itu lebih baik lagi kedepannya.


"Iya Dad."


"Lalu bagaimana dengan bajingan tengik itu Harry?!" Vedran Sean Kingston seketika teringat akan pria bajingan yang menjadi pelaku utama dari kejadian besar ini.


"Daniel Smith sudah berhasil melepaskannya Dad. Kamu tidak perlu khawatir." jawab Harry tersenyum bangga.


"Oh, begitu ya? padahal Aku juga sangat ingin menghancurkan Kepalanya itu Harry." Pria itu menggeram kesal dengan berita yang ia dengar. Harry hanya tersenyum dengan perkataan sang Daddy.


"Kenapa kamu tidak menyisakannya untukku Ha!" Rupanya Vedran masih belum puas juga dengan berita kematian Javier Mascherano itu.


"Dad, ingat usiamu. Berikan saja pada kami yang masih muda ini hahahhaha." Harry tertawa terbahak-bahak membayangkan Daddynya itu pasti sedang ingin memecahkan handphone yang ada ditangannya.


"Harry!"


"Siap Dad!"


🍀


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2