Asmara Sang Pengawal

Asmara Sang Pengawal
# Part 17 Asmara SP


__ADS_3

Jam dinding sudah menunjukkan dini hari tetapi matanya belum juga bisa tertutup. Ia hanya membolak-balikkan badannya ke kiri dan ke kanan dengan gelisah.


Daniel Smith akhirnya bangun dari posisinya kemudian turun dari ranjangnya. Bayangan Suzanne yang akan kembali ke New Zealand besok pagi membuatnya resah.


Entah kenapa ia sangat tidak ingin berpisah jauh dari Suzanne yang manja itu. Tetapi ia tidak ada hak untuk menahan kepergian gadis itu dari negara ini.


Sang Daddy, Vedran Sean Kingston akan membantu pihak kepolisian Moskow untuk menangkap pembunuh itu bersama dengan orang-orang Alexander Smith. Tetapi Suzanne harus kembali ke negaranya sendiri agar lebih bisa beristirahat untuk memulihkan kesehatan gadis itu.


Tak terasa pagi menjelang dan Daniel belum berhasil menutup matanya. Ia baru merasakan kantuk setelah melaksanakan sholat subuh. Dan akhirnya ia tertidur pulas diatas sajadahnya.


🍀


Harry Sean Kingston terbangun pagi itu di dalam kamar yang bernuansa putih dengan pencahayaan yang sangat terang.


Pria itu pun memperhatikan keadaan sekeliling dan baru sadar kalau semalam ia memang berada di Rumah Sakit.


"Oh My, ada apa denganku sampai aku tidak sadar seperti semalam? Dan dimana dokter itu? Ia pasti mengira aku benar-benar gila." ujarnya kemudian turun dari atas ranjang.


Seorang perawat pun masuk ke kamar itu dan menyapanya.


"Bagaimana kabar anda pagi ini Tuan?"


"Aku baik." jawab Harry singkat. Dan segera mengambil tasnya yang tersimpan di atas meja. Ia pun berniat keluar dari ruangan itu kemudian tersadar kalau tas yang ada di tangannya itu bukanlah tasnya.

__ADS_1


"Dimana Dokter yang memeriksaku semalam?" tanyanya pada perawat itu. Ia memandang kembali tas yang ada ditangannya yang nampak sangat mirip dengan tasnya sendiri.


"Dokter Elmira baru saja pulang, Tuan. Semalaman ia berada di ruangan ini bersama anda," jawab perawat itu dengan ramah.


"Hah? kenapa bisa seperti itu? memangnya aku sedang sakit keras sampai Dokter itu menjagaku seperti itu?"


"Aku tidak tahu Tuan. Tapi sepertinya semalam anda memang butuh perhatian khusus." Harry menarik nafas panjang kemudian meninggalkan ruangan itu dengan wajah bingung. Ia berusaha memikirkan apa yang terjadi semalam.


Harry Sean Kingston berjalan ke arah bagian administrasi untuk membayar tagihan perawatannya semalam sekaligus menanyakan ruangan perawatan adiknya.


Ia memperlihatkan kartu identitasnya karena pasien yang ia cari itu tidak boleh ditemui oleh sembarang orang. Hanya keluarga inti dan juga pihak kepolisian yang boleh menemui gadis itu.


"Ruangan Nona Suzanne Sean Kingston berada di lantai 5 gedung ini Tuan. Ruangan itu di nomor 1 VVIP." ujar staf bagian informasi di gedung Rumah Sakit itu.


"Baik. Terimakasih banyak." balas Harry dengan senyum diwajahnya.


"Dokter Elmira Omar Yusuf, Tuan. Ia juga adalah dokter yang menangani Nona Suzanne Sean Kingston."


"Oh bagus kalau begitu. Apakah ia akan datang siang ini?" tanya Harry lagi dengan senyum diwajahnya.


"Tentu saja Tuan. jadwalnya pada jam 1 siang. Ia akan datang sebelum itu." jawab sang perawat tersenyum. Ia sangat suka pada pria tampan bermata biru itu. Dan dengan senang hati akan menyediakan waktunya menjawab pertanyaan-pertanyaan pria itu.


"Aku minta maaf karena merepotkanmu. Terimakasih banyak." Akhirnya Harry benar-benar pergi dari depan gadis itu. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan adiknya yang sangat manja itu.

__ADS_1


Tidak cukup 10 menit, pria itu pun sampai di dalam ruang perawatan sang adik.


Ia membuka pintu ruangan itu dan mendapati adiknya sedang disuapi bubur oleh Shania, sang Mommy.


"Assalamualaikum Mom," sapanya dengan wajah cerah. Beristirahat di tempat tidur pasien semalaman membuat tubuhnya lebih segar.


"Waalaikumussalam sayang," jawab Shania dengan wajah tak kalah cerahnya. Rindunya pada putra pertamanya itu kini terobati.


"Bagaimana kabar adik kecilku yang sangat manja ini, Mom?" tanyanya seraya melangkah mendekati kedua perempuan kesayangannya itu.


"Alhamdulillah baik kak. Tapi aku marah padamu karena kamu meninggalkan aku bersama sahabatmu yang sangat menjengkelkan itu." gerutu Suzanne dengan bibir manyun.


"Hey, hey, Daniel tidak seperti itu ya." timpal Harry dengan menggoyang jarinya di depan hidungnya. Suzanne kembali mencebikkan bibirnya karena tidak setuju dengan pendapat kakaknya.


Saat ini ia sangat kesal karena Daniel Smith tidak pernah datang menjenguknya padahal kecelakaan yang teramat padanya itu karena membantu pria itu mengemudikan Maybach 62 yang sangat kencang larinya itu.


Shania hanya tersenyum melihat tingkah putrinya yang sejak sadar dari anestesi setelah operasi selalu nampak kesal dan suka menyalahkan semua orang.


Ia jadi curiga ada hal besar yang terjadi pada putrinya selain kejadian pembunuhan itu.


🍀


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2