Asmara Sang Pengawal

Asmara Sang Pengawal
# Part 54 Asmara SP


__ADS_3

Auckland, New Zealand.


Harry Sean Kingston menghampiri kedua orangtuanya yang sedang duduk santai di dalam Ruang keluarga di Mansion itu. Ia membawa serta Suzanne bersamanya. Ada hal penting yang ingin ia bicarakan pada sang Daddy dan Mommynya mereka.


Akhir pekan seperti ini biasanya kedua orang itu akan pergi bersama dengan Conan Doyle dan juga Alma untuk berpiknik atau keliling pulau menggunakan sebuah Yacht. Jadi sebelum mereka berdua pergi, Harry harus menyampaikan maksudnya.


"Excuseme Dad, " ucap Harry meminta izin untuk bicara. Kedua orang paruh baya itu langsung menghentikan obrolan mereka. Nampak sekali mereka sedang sibuk membicarakan tentang rencana pesta pernikahan Daniel dan juga Suzanne.


"Ada apa Harry? Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" Vedran menyentuh tangan istrinya agar berhenti bicara terlebih dahulu. Ia ingin mendengar apa yang akan disampaikan oleh putranya.


"Aku ingin meminta izin untuk mengantar Suzanne ke Moskow siang ini Dad," izin Harry seraya mengangkat tangan sang adik yang sedang ada dalam genggamannya. Vedran dan Shania saling berpandangan.


"Kalian akan pergi hari ini juga?" tanya pria itu pada kedua putra-putri nya.


"Iya Dad. Kalau Aku tunda, putrimu ini bisa-bisa tidak ada keinginan untuk makan dan berakhir sakit." Jawab Harry dengan senyum diwajahnya. Ia sengaja mengucapkan itu untuk menggoda sang adik.


"Jangan bawa-bawa namaku ya kak. Bukannya kamu juga sangat tidak sabar bertemu dengan gadis Moskow itu?"


Suzanne langsung mencibir karena Kakaknya itu menyebutkan namanya sebagai alasan padahal ia tahu kalau pria itu juga ingin sekali pergi ke Moskow untuk mengobati rindunya pada Elmira.


Harry menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa yang dikatakan oleh Suzanne benar adanya. Selama hampir sepekan tidak bertemu dan mendengar kabar tentang dokter cantik itu, ternyata rindunya benar-benar sangat menyiksanya.


Shania tersenyum mendengar dua orang putra-putrinya saling menggoda. Ia pernah merasakan begitu tersiksanya perasaan di dalam hati ketika rindu tak terobati.


"Baiklah, kamu bisa pergi Harry. Dan pastikan adikmu itu aman dan baik-baik saja." Vedran pun angkat bicara. Ia mengizinkan putranya mengantar Suzanne asalkan ia bisa menjaga kenyamanan dan keselamatan sang putri.


Pengalaman buruk beberapa saat yang lalu yang selalu menghampiri Suzanne membuatnya sangat protektif pada Putrinya itu


"Ah iya Tentu saja Dad. Dan Aku yakin setelah kami tiba di Moskow Suzanne pasti melupakan Aku. Aku akan seperti orang hilang yang tidak mempunyai keluarga di sana. Mereka akan berduaan terus sepanjang waktu."


"Awww!" Harry tiba-tiba berteriak kesakitan karena tangannya mendapatkan cubitan dari gadis yang ia goda.


"Daddy, Mommy lihatlah Kak Harry. ia selalu menggodaku dengan kata-katanya yang seperti itu."


Shania dan Vedran kembali tersenyum. Mereka sangat bahagia melihat keakraban dua orang itu.

__ADS_1


"Persiapkan diri kalian. Kami akan mengantar kalian ke Bandara." ujar Vedran kemudian mengajak istrinya ke kamar untuk bersiap juga.


Jadwal check in mereka sekitar satu jam lagi. Jadi mereka harus segera mempersiapkan segala sesuatunya sebelum berangkat.


🍀


Moskow, Rusia.


Setelah keputusan tentang perjodohan antara putra dokter Sergey Abdullah dan juga Elmira putri Omar. Kedua keluarga itu semakin sering membicarakan kapan waktu yang tepat dan cocok agar pernikahan itu segera terjadi.


Elmira sendiri tidak lagi bersemangat melalui hari-harinya di rumahnya sendiri. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di Rumah Sakit dan bahkan sering lembur dan tak ingin pulang.


Anna, sebagai seorang ibu yang sangat mengerti perubahan yang terjadi pada putrinya merasa sangat sedih. Berhari-hari ia memikirkan ini dan akhirnya ia pun berniat membicarakannya dengan Omar, sang suami.


Sore itu, ia mendatangi Omar di ruang kerjanya. Ia pun memulai mengutarakan maksudnya dengan sebuah pertanyaan.


"Sayang, tidakkah kamu lihat kalau Elmira sangat sibuk akhir-akhir ini?"


"Ah iya. Aku juga memperhatikannya. Kita jarang sekali makan malam bersamanya di rumah ini."


Perempuan itu menghampiri Omar untuk menyatakan keresahan hatinya. Anna duduk di samping sang suami seraya meraih tangan suaminya dan menggenggamnya.


"Sayang, tidakkah perlu untuk menanyakan pada Elmira terlebih dahulu, sebelum kita memutuskan menerima lamaran dari dokter Sergey Abdullah?"


"Untuk apa Anna? Mira sudah tahu dari dulu 'kan kalau Aku selalu mengerti apa yang terbaik untuknya."


"Tapi bagaimana dengan hari ini sayang? Aku pikir keluarga sahabatmu itu juga tahu kalau Elmira sepertinya tidak menyambut baik rencana kalian."


"Elmira yang kita tahu sangat pintar menghargai orang lain kini samasekali tidak ingin keluar dari kamarnya."


"Bukankah itu sudah menunjukkan kalau ia tidak ingin perjodohan ini terjadi?" Omar meraup wajahnya kasar. Ia baru menyadari kalau ia bersalah pada putrinya itu.


"Apa maksudmu Anna?"


"Kamu bisa lihat sendiri kan. Sejak kamu mengatur tentang kehidupan pribadinya, putri kita itu jadi tidak ingin lagi tinggal di rumah ini meskipun akhir pekan tiba."

__ADS_1


Omar menatap wajah Anna dengan tatapan tak terbaca. Pria itu mulai memikirkan kata-kata sang istri dengan penuh pertimbangan.


"Apakah benar yang kamu katakan Ann?"


"Iya sayang. Elmira sudah banyak mengikuti keinginanmu. Dan sekarang mari kita mendengarkan apa yang ia mau."


"Siapa tahu ada seseorang yang sudah mengisi hatinya dan kita tidak tahu tentang itu."


"Lalu bagaimana dengan Sergey, apa yang harus Aku katakan padanya?"


"Saat ia tidak berhasil Aku jodohkan Aisyah Aku sudah berjanji akan melakukan sesuatu agar hubungan baik kami bisa lebih terjalin kedepannya."


Anna menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia hanya ingin mengatakan bahwa suaminya harus bisa menentukan cara yang baik untuk kebahagiaan semua orang.


"Katakan padanya sayang, tentang masalah ini. Anak-anak itu juga belum pernah bertemu 'kan?"


"Ah iya. Kamu benar sekali. Mungkin Elmira dan Victor harus saling bertemu terlebih dahulu agar mereka bisa saling mengenal."


"Aku setuju itu. Setelah mereka bertemu dan berkenalan mungkin hubungan ini bisa dilanjutkan. Tetapi jika mereka tidak saling menyukai. Kita batalkan saja."


"Iya, kebahagiaan Elmira tentunya lebih penting daripada hubungan baik ini."


"Terimakasih banyak Anna, kamu sudah mengingatkan Aku agar tidak salah mengambil keputusan."


"Ah Iya. Kurasa itulah gunanya Aku menjadi istrimu sayang." Anna tersenyum kemudian menjatuhkan dirinya kedalam pelukan sang suami tercinta.


Omar tersenyum seraya mengelus lembut punggung istrinya. Ia juga mengecup pucuk kepala sangat istri dengan perasaan sayang.


🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2