
Alexander Smith menutup panggilan telepon dari Vedran Sean Kingston dengan wajah tak terbaca. Kabar tentang musibah yang menimpa putranya di kota Auckland itu harus ia sampaikan pada sang istri tercinta dengan kata-kata yang baik agar Aisyah tidak terkejut mendengar ini semua.
"Ada apa Alex?" Aisyah bertanya pada suaminya yang nampak diam setelah mendapatkan telepon dari seseorang yang ia tidak tahu entah siapa. Alex menatap istrinya kemudian tersenyum.
"Kamu pernah mengatakan kalau ingin berkunjung ke New Zealand, iyyakan?" Alex balas bertanya seraya memandang wajah istrinya yang selalu tampak cantik di matanya itu.
"Ah iya, Daniel dan Elmira kan ada di negara itu. Mereka pasti sedang bersenang-senang di sana." jawab Aisya tersenyum kemudian berucap kembali,
"Apakah mereka baik-baik saja?" Alex tersenyum dan menjawab, "Ya, tentu saja. Dan kurasa Tuan Kingston mengundang kita untuk datang berkunjung ke kota Auckland saat ini."
"Oh ya? sungguh kebetulan yang sangat menyenangkan. Aku suka mendengarnya sayang," Aisyah nampak sumringah. Ia tersenyum senang.
"Kalau begitu bersiaplah. Kita akan berangkat sekarang juga." Alex berdiri dari duduknya dan segera berjalan ke arah Walk in Closet yang berada dalam kamar mereka. Ia harus menyiapkan kebutuhannya sendiri tanpa bantuan dari istrinya.
Aisyah terlongo tidak percaya kalau ia akan berangkat ke New Zealand saat ini juga. Dalam hati ia mencurigai sesuatu tetapi ia tidak ingin bertanya. Mungkin suaminya belum mau membaginya dengan dirinya sendiri.
Ia pun ikut masuk ke dalam Walk in Closet itu untuk mengambil pakaian dan perlengkapan lainnya yang akan ia bawa untuk perjalanan panjang ini.
🍀
"Aku yang akan mendonorkan darahku kak," ujar Suzanne dengan cepat. Gadis itu segera menghampiri perawat yang baru saja menyampaikan keadaan Daniel yang sedang kritis.
"Su, kamu sedang tidak sehat. Aku akan mencari darah yang lain," tolak Harry seraya menggeleng-gelengkan kepalanya tanda menolak.
"Aku sehat dan kuat Kak Harry. Daniel butuh bantuan aku sekarang ini dan Aku rasa Daddy pun pasti mengizinkannya."
"Baiklah. Tetapi berjanjilah kalau kamu juga kuat." ujar Harry pada akhirnya. Ia juga tidak punya pilihan lain karena keselamatan Daniel sangatlah penting.
"Aku akan mencari susu dan makanan untukmu," lanjut pria itu seraya menyentuh lengan sang adik. Suzanne tersenyum dengan dada berdebar.
Tak berhenti ia berdoa semoga dokter juga mengizinkannya karena sungguh dirinya sangat lemah sekarang ini. Ia terlalu khawatir pada apa yang terjadi pada Daniel hingga membuat tubuhnya ikut melemah.
__ADS_1
"Baiklah Nona, mari ikut saya ke dalam," ujar sang perawat kemudian membawa gadis itu ke dalam ruangan operasi.
Suzanne pun ikut dengan hati yang berdebar sangat keras. Ia ingin melihat kondisi Daniel saat ini dan sangat berharap darahnya benar-benar bisa mengalir dalam tubuh pria yang selalu berhasil membuat hatinya resah dan gelisah.
"Perasaan anda baik-baik saja 'kan?" tanya perawat itu setelah memeriksa tekanan darah dan kesiapan kesehatan gadis itu.
"Iya suster. Perasaanku sangat baik dan Aku berharap semuanya lancar dan berjalan dengan baik." Suzanne tersenyum dan memperlihatkan kalau ia sangat sehat lahir dan batin.
Gadis itu ingin sekali Daniel sehat kembali seperti sedia kala dan bisa mengerti perasaannya pada pria itu.
Akhirnya Donor darah pun berlangsung dengan baik dan juga lancar. Peluru yang bersarang di tubuh pria itu pun sudah dikeluarkan dan sekarang dua luka yang berhasil merobek kulit pria itu sedang ditutup dengan jahitan.
Harry tersenyum bahagia karena masa kritis Daniel Smith bisa terlewati dengan cepat. Ia pun meminta adiknya sendiri yang nampak pusing dan pucat untuk segera meminum susu segar dan juga roti isi daging favoritnya yang baru saja diantar oleh Mommynya dan juga Elmira.
"Makanlah sayangku. Kamu pasti merasakan tubuhmu lemas ya." Shania mengelus lembut punggung putrinya.
Perempuan cantik kesayangan Vedran Sean Kingston itu tidak ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi hingga putrinya itu bisa bersama dengan Daniel di Rumah Sakit ini. Ia akan menunggu sampai gadis itu bercerita sendiri.
"Terimakasih Mom. Tubuhku memang lemas dan sangat lapar," ujar Suzanne dengan senyum lebar diwajahnya. Ia segera meraih makanan yang diberikan oleh Shania setelah mencuci tangan dan wajahnya di wastafel.
"Ini enak sekali Mom. Dagingnya sangat lembut. Aku suka," jawab Suzanne dengan senyum diwajahnya. Ia belum berhenti mengunyah dan bahkan menyelinginya dengan susu.
"Alhamdulillah. Kondisimu pasti akan segera pulih Su," ujar Elmira seraya menatap gadis itu dengan tatapan takjub. Dalam hati dokter cantik itu berpikir kalau Daniel menyukai gadis ini pasti karena sifatnya yang apa adanya.
Suzanne manja tetapi tidak menutup-nutupi karakter aslinya yang ceria dan sebenarnya baik hati.
"Terima kasih Kak Mira. Dan Aku rasa Daniel juga akan sangat suka masakanmu Mom," ujar gadis itu seraya memasukkan gigitan terakhir dari rotinya. Shania dan Elmira tersenyum dengan kata-kata gadis itu.
"Semua orang suka masakanku sayang, dan kurasa kamu sudah seharusnya belajar memasak sesuatu mulai sekarang." Shania memberikan beberapa lembar tissue pada putrinya itu untuk membersihkan tangan dan juga bibirnya.
"Eh kenapa? Mommy kan ada jadi Aku tidak perlu belajar. Aku akan tinggal bersama denganmu selamanya." Suzanne memeluk tubuh perempuan yang telah melahirkannya itu dengan perasaan sayang.
__ADS_1
"Eh, kamu mungkin akan segera menikah dan tinggal di rumah sendiri. Setidaknya kamu bisa memasak sesuatu untuk suamimu sayang."
"Ah tidak Mom. Daniel tidak ingin makan masakanku. Ia pernah menghinaku karena Aku tidak bisa melakukan apapun," gerutu Suzanne yang langsung dijawab dengan tawa Shania dan juga Elmira.
"Daniel? kamu menyebut Daniel sayang?" tanya Shania dengan tatapan tajam pada putrinya. Suzanne langsung menutup mulutnya karena tidak sadar menyebut nama pria itu dalam keluhannya.
"Ups! Aku tidak menyebutkan namanya Mom. Ah, ini pasti karena Aku sudah membantunya jadi Aku teringat padanya." Suzanne menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk menutupi rasa malunya karena perasaannya ketahuan oleh dua perempuan cantik itu.
"Ah iya. Kamu pasti salah sebut nama ya?" tanya Elmira berusaha untuk menutupi senyumnya. Suzanne langsung mengangguk dengan cepat.
"Mana mungkin Aku menyukainya. Kamu tahu 'kan Daniel itu pria yang sangat dingin dan datar," ujar Suzanne berusaha menutupi perasaannya.
"Ah iya, kami mengerti. Daniel memang sangat datar dan juga tidak berperasaan." Shania cepat menimpali karena melihat wajah putrinya sudah tampak memerah malu.
"Daniel sudah sadar," ujar Harry dari arah pintu yang terbuka di ruangan itu. Ia tampak tersenyum lebar karena bahagia.
"Alhamdulillah, Apakah kami bisa melihatnya sekarang?" tanya Shania dengan langkah cepat menuju putranya.
"Iya mom," jawab Harry singkat. Mereka pun menuju ruangan tempat Daniel dirawat. Tampak sekali kalau orang-orang itu sangat bahagia dengan berita baik ini. Tetapi sesampainya mereka ditempat itu, hati Suzanne mencelos kecewa.
Semua orang bisa disapa oleh Daniel tetapi dirinya sendiri tak disapa maupun dikenali oleh pria itu. Gadis itu menangis dalam diam. Ia berusaha menunjukkan kalau hatinya baik-baik saja meskipun dunia tahu begitu kecewanya ia saat ini.
🍀
Daniel, ada apa denganmu? 🤔
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1
Eits, mampir dulu dong dikarya teman othor nih, dijamin oke punya.