Asmara Sang Pengawal

Asmara Sang Pengawal
# Part 56 Asmara SP


__ADS_3

Aisyah begitu senang melihat Suzanne ada di rumahnya siang itu. Ia sampai kaget dan tidak percaya karena tidak pernah mendengar kabar kalau menantu barunya akan datang.


Perempuan cantik itu pun menghampiri istri dari putranya itu dan langsung memeluknya dengan perasaan sangat senang.


"Kamu datang bersama siapa sayang?" tanyanya pada Suzanne setelah meminta menantunya itu untuk duduk.


"Aku datang bersama dengan Harry Mom. Tetapi ia langsung pergi ke tempat Kak Elmira," jawab Suzanne tersenyum.


"Oh ya? apakah mereka ada hubungan spesial sayang?" Aisyah nampak tertarik dengan berita yang disampaikan oleh sang menantu.


"Aku pikir juga seperti itu Mom. Kak Harry sudah sangat rindu pada Kak Elmira hehehe." Suzanne menutup mulutnya terkekeh.


Aisyah ikut tertawa dibuatnya. Ia sangat paham bagaimana rasanya jika sedang jatuh cinta. Karena ia juga selalu mengalaminya pada Alex suaminya. Selalu ada rindu dan ingin bertemu.


Dan sekarang ia yakin Suzanne dan Daniel pun merasakan hal yang sama. Mereka saling merindukan tetapi jarak yang terbentang jauh membuat mereka tidak bisa bertemu.


"Apa kamu mau makan dulu sayang?" Suzanne tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.


"Aku sudah makan di Bandara tadi Mom. Aku hanya ingin beristirahat. Aku lelah sekali."


"Hem, baiklah. Aku akan mengantarmu ke kamarmu sayang. Kamu bisa menunggu Daniel di sana."


"Suamimu masih belum pulang. Sudah dua hari ini ia lembur." jelas Aisyah mengenai kesalahan putranya yang sedang memburu untuk mengerjakan proyek besar itu agar bisa berakhir pekan di Auckland new Zealand.


Aisyah pun mengantar sang menantu untuk beristirahat di kamar putranya dengan perasaan senang. Mereka banyak mengobrol selama dalam perjalanan ke kamar Daniel yang berada di lantai 2 Rumah itu.


"Bagaimana dengan Asma Mom. Apakah ia juga ada pekerjaan siang ini?"


"Iya sayang. Asma sekarang menjadi sekretaris Daddy Alex. Jadi ia lebih banyak menghabiskan waktunya di Kantor."


"Oh iyaa. Asma pasti sangat senang bisa bekerja diluar rumah ya Mom?"


"Untuk sebagian orang. Ada yang suka bekerja dan ada yang lebih suka di Rumah saja. Aku pernah menjadi kepala Sekolah di sebuah sekolah dibawah Yayasan sosial keluarga Smith."


"Akan tetapi untuk saat ini aku lebih ingin menghabiskan waktuku di Rumah saja. Daddy Alex terlalu manja dan selalu ingin bersama." Aisyah tersenyum mengingat bagaimana tingkah suaminya itu yang tidak pernah berubah samasekali.

__ADS_1


"Apakah Daniel akan seperti itu juga Mom?" tanya Suzanne ikut tersenyum. Ia sangat ingin melihat suaminya itu mencurahkan semua perasaannya pada dirinya saja seperti yang ia lihat pada Daddynya sendiri kepada Mommynya.


"Tentu saja sayang. Daniel sangat mencintaimu. Ia pasti akan memberimu banyak cinta dan kasih sayang."


Tanpa sadar mereka pun sampai di depan kamar Daniel. Aisyah mendorong pintu kamar itu dan mempersilahkan Suzanne untuk masuk. pelayan yang membawa tas perempuan itu itu pun ikut masuk.


"Kamu istirahat ya sayang. Kamar ini adalah milikmu juga. Jadi kamu bebas melakukan apa saja, right?" Suzanne tersenyum kemudian memeluk tubuh Aisyah. Ia terharu dan merasakan seperti bersama dengan Shania sang mommy kandung.


"Terimakasih banyak Mom. Aku sangat senang bisa masuk kedalam keluarga ini. Kalian semua baik dan sayang padaku."


"Hey, tentu saja kami menyayangimu. Kamu kan putri kami juga. Jadi kalau Daniel tidak memperlakukan kamu dengan baik, laporkan padaku ya." Suzanne tersenyum kemudian menyusut airmatanya yang tiba-tiba saja menganak sungai dipipinya.


"Insyaallah Daniel akan cepat kembali. Kamu istirahat saja dulu." Aisyah pun membawa menantunya itu untuk duduk di atas ranjang putranya.


"Aku akan keluar. Dan ya, kamu bisa meminta pelayan untuk melakukan apapun yang kamu inginkan sayang," ujar Aisyah sebelum meninggalkan kamar itu.


"Ah iya Mom. Terimakasih banyak." ujar Suzanne seraya memandang tubuh ibu mertuanya yang meninggalkannya sendiri di kamar itu.


Suzanne mengarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamar itu. Daniel ternyata seorang pria yang mencinta otomotif dan senjata. Hampir semua pernak pernik di dalam kamar itu berisikan kesukaannya itu.


Perempuan itu tersenyum sendiri karena ia menikah dengan pria itu tanpa tahu apa kesukaan dan kebiasaannya.


"Daniel, Aku merindukanmu," bisiknya pelan seraya memeluk dan mencium bantal yang sedang ia gunakan.


Ia membayangkan bahwa tubuh suaminya lah yang sedang ia peluk. Apalagi aroma tubuh Daniel sepertinya masih sangat menempel pada selimut dan juga bantal itu. Tak lama kemudian Suzanne tertidur dengan lelapnya. Ia merasa kalau suaminya lah yang sedang memeluknya.


Sementara itu, di lokasi proyek Real Estate yang sedang dikerjakan oleh Daniel dan rekannya. Sebuah insiden buruk sedang terjadi.


Beberapa pria yang mengaku suruhan dari seorang pimpinan mafia di kota itu sepertinya sedang ingin menggagalkan proyek yang sedang mereka kerjakan.


Mereka merasa bahwa tanah yang ditempati membangun bangunan itu adalah daerah kekuasaannya. Dan itu berarti Daniel selaku pelaksana proyek itu haruslah membayar sejumlah Dollar untuk membuat tempat itu menjadi aman dan tidak ada gangguan dari pihaknya.


Daniel memandang mereka dengan tatapan tak suka. Ia paling anti dengan yang namanya pemerasan dengan berkedok sebagai pemilik daerah itu.


"Apa yang akan kalian lakukan jika Aku tidak mau?" tantang Daniel dengan bibir terangkat.

__ADS_1


Bugh


Tangannya langsung meninju wajah pria itu sampai berdarah. Ia sudah tidak sabar lagi dengan ulah mereka. Setiap saat para pekerjanya melaporkan kalau mereka selalu mendapatkan gangguan dari para mafia ingusan itu.


"Aaargh!" pria itu mengerang kesakitan. Darah keluar dari hidungnya dan langsung mengalir membasahi bibirnya.


"Lenyapkan pria ini bodoh!" teriak pria itu kepada teman-temannya agar membantunya membalas Daniel.


Bugh


Bugh


Tiga pria itu menyerang Daniel dengan membawa senjata tajam.


Cling


Daniel melompati Ke udara dan memberikan tendangan memutar pada tiga pria itu. Ketiganya terjengkang ke belakang. Tendangan Daniel benar-benar berhasil bersarang pada perut mereka.


"Aaargh!"


Daniel terjatuh. Salah satu pria itu berhasil memukul punggungnya dengan satu balok kayu yang ia ambil dari tempat itu. Pria itu merasakan nyeri yang teramat sangat dibagian punggung kanannya bekas tembakan dari New Zealand.


Door


"Aaaaakh!"


Door


Door


Alexander Smith menembaki semua pria yang telah membuat putranya tak berdaya seperti itu.


"Daniel! kamu baik-baik saja?" tanya Alex dengan rahang mengeras. Untung saja ia datang tepat waktu.


🍀

__ADS_1


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


__ADS_2