
Daniel Smith baru saja sampai di depan Mansion keluarga Vedran Sean Kingston saat sebuah mobil yang ia kenal sebagai milik dari pria asing yang membawa Suzanne juga baru tiba.
Pria itu menyandarkan tubuhnya pada body mobil Harry yang baru ia gunakan sembari menuggu gadis yang sangat ia khawatirkan itu turun dari sana dengan selamat.
Bugh
Terdengar bunyi pintu mobil ditutup dengan keras oleh dua gadis berhijab yang baru saja turun dari kendaraan mewah itu. Javier juga ikut turun untuk berbasa-basi.
"Terimakasih banyak ya Javier. Kami cukup senang hari ini," ujar Suzanne tersenyum manis pada pria itu. Ia tidak menyadari bahwa seorang pria dari arah belakangnya sedang menatapnya dengan tatapan tajam bagaikan laser.
"Aku tidak sabar menunggu besok Suzanne. Aku yakin besok adalah hari yang lebih menyenangkan daripada hari ini."
"Aku harap begitu. Tetapi Aku harus meminta izin pada Daddy dan Mommy kalau kita akan keluar besok, iyyakan Ramy?"
Suzanne semakin bersemangat karena ini adalah pengalaman baru baginya keluar rumah tanpa pengawasan yang ketat dari orang-orang kepercayaan sang Daddy.
Ramanda hanya mengangguk dengan tatapan tak lepas pada seorang pria yang sempat ia lihat di Sky Tower beberapa jam yang lalu. Gadis itu sedikit heran dengan keberadaan pria itu di tempat ini.
"Baiklah Suzanne, Aku akan pergi sekarang juga. Besok Aku akan datang lagi kemari untuk menjemputmu." ujar Javier kemudian melambaikan tangannya pada gadis itu.
"Iya Javier. Aku dan Ramy akan menunggumu." Suzanne balas melambaikan tangannya. Tetapi Javier kembali berbalik dan tidak jadi memasuki mobilnya.
"Aku takut tidak kuat menunggu besok Suzanne," ujarnya seraya menatap wajah gadis itu dengan penuh perasaan.
"Kenapa?" tanya Suzane dengan senyum diwajahnya. Javier melangkah mendekati gadis itu dan mengikis jarak dengannya.
"Karena Aku akan sangat merindukanmu," jawab pria itu dengan suara pelan dan begitu manis di telinga seorang gadis yang tidak pernah merasakan rayuan manis seperti itu.
Suzanne tiba-tiba merasakan pipinya menghangat. Ia merasa melambung ke udara. Hingga tangannya tiba-tiba ditarik dengan paksa oleh seseorang.
"Aaaaaaaaw!" gadis itu tersentak kaget karena Daniel Smith sudah berada dihadapannya dengan tatapan tajam seakan menembus jantungnya.
"Daniel? kamu disini?" tanyanya dengan suara tercekat. Dadanya berdebar sangat keras hingga membuatnya merasa sesak dan tidak bisa bernafas. Pria itu adalah sosok menyebalkan tetapi sangat dirindukannya.
"Suzanne, aku pergi ya. Ingat untuk memakai hadiah dari ku," ujar Javier seraya meninggalkan tempat itu. Ia yakin gadis itu pasti sudah terpesona padanya.
"Aku past memakainya. Terimakasih Javier." ujar Suzanne tersenyum tanpa memperdulikan tatapan Daniel Smith yang seakan ingin menelannya bulat-bulat.
"Kirimkan gambarnya padaku jika kamu sudah memakainya, sampai jumpa besok." Javier akhirnya benar-benar pergi dari sana setelah yakin sudah berhasil memberi kesan yang sangat manis pada gadis yang dianggapnya masih ingusan itu.
__ADS_1
"Bye Javier!" ujar Suzanne seraya melambaikan tangannya di depan wajah dingin Daniel. Pria itu hanya bisa mengepalkan tangannya dengan sangat kesal.
"Dari mana saja tadi?" tanya Daniel saat mobil Javier sudah meninggalkan halaman Mansion. Suzanne memandang wajah pria itu kemudian tersenyum.
"Kamu bertanya padaku Tuan Danie Smith?"
"Tentu saja. Nona Suzanne Sean Kingston!"
"Ramy, katakan pada pria ini kalau kita baru saja menghabiskan waktu yang sangat menyenangkan bersama dengan Tuan Javier Mascherano." jawab Suzanne seraya melenggang santai di depan Daniel Smith.
Gadis itu masih sangat kesal dengan pria yang sangat dingin itu. Datang dan pergi begitu saja dan tidak pernah peduli pada perasaanya yang sangat tersiksa.
Ia meraih tangan Ramanda untuk mengikutinya memasuki Mansionnya.
"Pria itu orang asing Suzanne. Ia mungkin saja merencanakan hal yang buruk padamu. Jadi tolong untuk menghindari orang itu." ujar Daniel dengan nada tegas.
Suzanne menghentikan langkahnya kemudian mencibir ke arah Daniel Smith lalu berucap,
"Sayangnya dia adalah pria yang sangat manis Tuan. Dan aku sangat suka."
Daniel Smith mengerang kesal tetapi tidak bisa berbuat banyak. Ada gadis lain diantar mereka berdua, jika tidak. Ia bisa pastikan akan memberi pelajaran pada gadis cantik dan manja itu.
Baru saja ia ingin kembali ke Hotel tempat ia akan menginap dengan Elmira selama beberapa hari di kota ini, Harry pun tiba di tempat itu bersama dengan sepupunya, Elmira Omar Yusuf.
"Eh, tapi hotel itu." Daniel menatap Elmira tetapi gadis itu hanya tersenyum seraya mengangkat bahunya.
"Eh tidak masalah. Jangan pikirkan itu. Di sini lebih nyaman daripada di Hotel." ujar Harry dengan senyum diwajahnya.
"Kamu sahabatku. Dan rasanya tidak sopan kalau Aku membiarkan kalian menghabiskan waktu di tempat itu padahal kami semua sudah lama merindukan kamu untuk datang kemari."
"Ah iya baiklah Harry. Aku dan Elmira akan menemui mommymu terlebih dahulu." ujar Daniel tersenyum kemudian melanjutkan,
"Semoga pemilik Mansion ini mengizinkan kami menghabiskan waktu di sini."
"Tentu saja Daniel. Mommyku kan perempuan yang sangat baik."
"Ah ya. Aku percaya itu."
Mereka pun tak terasa sudah sampai di dalam Mansion. Daniel dan Elmira dipersilahkan untuk duduk. Sedangkan Harry melangkah masuk ke dalam mencari Shania Galdwin Kingston sang mommy.
__ADS_1
Di dalam ruangan itu ia menemukan Suzanne dan Ramanda sedang menonton Televisi. Mereka sedang menyaksikan acara live konser artis favorit mereka.
"Suzanne, apa yang kamu lakukan di Sky Tower tadi?" tanyanya pada sang adik dengan perasaan kembali kesal karena telah dibuat begitu khawatir oleh gadis itu beberapa saat yang lalu.
"Ramy dan Aku hanya hanging out kak. Tidak masalah 'kan?" jawab Suzanne seraya mencolek lengan Ramanda agar mau membelanya.
"Kamu kan punya trauma ke tempat tinggi seperti itu. Jadi kenapa kamu kesana? Dan ya, siapa pria yang kamu temani itu?"
"Dia Javier. Aku mengenalnya di Moskow. Dia meminta Aku dan Ramy menemaninya mengunjungi tempat wisata di kota ini kak."'
"Di Moskow?" kening Harry mengernyit bingung. Ia sungguh tidak percaya kalau Suzanne mempunyai kenalan disaat-saat menegangkan pada saat itu.
"Iya kak. Dia adalah orang baik pertama yang Aku temui. Dan temanmu itu adalah orang terburuk pertama yang Aku temui di kota itu."
Suzanne menjawab dengan tanpa sadar memandang wajah Daniel yang ternyata ikut masuk ke dalam ruangan itu.
Deg
Dada mereka berdua berdebar kencang karena saling menatap satu sama lainnya.
"Daniel Smith?" Shania sang Mommy tiba-tiba juga muncul di ruangan itu yang langsung menyentak kedua orang yang saling bertatapan itu. Tatapan mereka terputus.
"Assalamualaikum Onty." sapa Daniel seraya tersenyum. Ia memanggil Elmira yang ada di belakangnya untuk ikut menyapa ibu dari Harry Sean Kingston itu.
"Waalaikumussalam Daniel, ini Dokter Elmira?" MasyaAllah. Aku sangat senang sekali karena kalian berdua bisa datang berkunjung ke rumah kami."
"Iya Onty kami berdua juga sangat senang." jawab Elmira tersenyum kemudian mencium pipi kiri dan kanan perempuan paruh baya itu. Yang masih sangat cantik di usianya yang tidak muda lagi.
"Hai dokter, jadi kalian datang berdua?" sapa Suzanne ikut memeluk dan mencium sosok dokter cantik yang tiba-tiba ia cemburui itu. Entah kenapa kedatangan dua orang dari Moskow itu membuat Hatinya tidak nyaman.
"Mereka berdua adalah tamu istimewa dan akan menginap beberapa hari di Mansion ini." ujar Harry tersenyum cerah.
Ia melirik Elmira yang juga sedang meliriknya. Sedangkan Suzanne langsung memasang wajah cemberut di depan Daniel Smith.
Perasaannya kembali sangat kesal karena ternyata pria itu datang dengan seorang dokter dari Moskow. Ia pikir akan bisa mengobati rindunya pada pria itu ternyata tidak.
🍀
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍