
Daniel Smith melajukan Range Rover Evoque milik Daddynya ke Bandara Alexander S. Pushin Moskow dengan kecepatan yang cukup tinggi. Rasa khawatir karena tidak bisa bertemu lagi dengan si gadis manja membuatnya panik.
Beberapa menit yang lalu pria itu baru saja bangun dari tidurnya dan mendapati pesan dan panggilan dari Elmira kalau Suzanne sudah bisa keluar dari Rumah Sakit.
Dan yang lebih mengejutkan adalah gadis itu akan langsung terbang ke New Zealand meninggalkan Moskow saat itu juga tanpa mampir ke Rumah keluarganya.
"Aku harap pesawatnya delay dan Aku masih bisa menyatakan perasaan sayangku pada gadis itu." ujarnya seraya melirik penanda waktu di pergelangan tangannya.
Terbayang kembali bagaimana gadis itu akan berteriak-teriak histeris jika ia mengemudikan mobilnya seperti saat sekarang ini.
Gadis itu begitu takut kalau kendaraan yang membawa mereka seperti sedang berada di atas awan. Terbang dengan laju kecepatan yang sangat tinggi.
Tanpa sadar, ia tersenyum dengan dada berdebar tak menentu. Tak diragukan lagi, ia sangat ingin memiliki gadis itu seutuhnya.
Ciiiiiit
Range Rover Evoquenya ia parkir di Valet Bandara kemudian berlari cukup kencang ke dalam Terminal Keberangkatan penumpang Internasional.
Ia masih sangat berharap bisa tepat waktu dan bertemu dengan Suzanne meskipun hanya beberapa saat sebelum gadis itu dibawa pergi oleh keluarganya.
Langkahnya ia hentikan tiba-tiba saat tak sengaja berpapasan dengan seorang pria yang sangat mirip dengan sketsa wajah yang ia gambar atas kesaksian gadis itu.
Ya, pembunuh itu juga ada dan berkeliaran disini. Sedangkan polisi sampai sekarang belum berhasil meringkusnya.
"Suzanne kembali berada dalam bahaya." ujarnya dengan suara pelan bagaikan gumaman. Dengan cepat ia meraih handphonenya dan menghubungi polisi dan juga keluarganya.
Setelah itu Ia berpura-pura membuat masalah dengan orang itu agar ia bisa menahannya dan tidak pergi kemana-mana.
Bugh
Pria berperawakan tinggi dengan kacamata hitam itu menatap Daniel Smith dengan wajah garang. Ia paling tidak suka jika harinya yang cukup menyenangkan saat ini diganggu oleh orang lain.
"Hey, ada apa denganmu?" tanya pria itu karena tiba-tiba ditabrak oleh seorang pria muda dengan tampilan yang sangat tampan dan juga maskulin.
"Anda yang tidak bisa melihat jalan Tuan!" tantang Daniel dengan wajah terangkat. Pria itu mengerang kesal kemudian meninggalkan putra kedua Alexander Smith itu dengan langkah terburu-buru. Pembunuh itu sedang ingin memburu Suzanne yang sedang memasuki pintu utama Bandara.
Daniel Smith tidak tinggal diam. Ia langsung memburu langkah pria itu dan memukul bahunya dari belakang.
__ADS_1
Bugh
"Brengsek kamu ya!" teriak pria itu karena merasakan bagian belakangnya sangat sakit oleh pukulan tangan kuat pria itu. Ia langsung memberikan serangan balasan dengan menggunakan tangan kosongnya.
Bugh
Bugh
Mereka berdua berduel dengan sengit. Kekuatan kedua pria itu sepertinya seimbang. Setiap Daniel menyerang bagian atas tubuhnya, maka pembunuh itu bisa menangkisnya dengan baik. Begitupun sebaliknya.
Polisi dan petugas Bandara yang bertugas di sana, entah kenapa tidak ingin merelai perkelahian itu. Mereka terpana dan terpukau oleh jurus-jurus yang sangat indah dari kedua orang itu.
Sampai terdengar Announcement Boarding bahwa pesawat yang akan berangkat dengan tujuan New Zealand terdengar. Mereka berdua berhenti saling menyerang dan saling bertatapan.
Pria itu berlari masuk ke dalam gate yang disebutkan oleh suara pengumuman itu tetapi langkahnya tertahan karena Daniel Smith melompat dan berhasil meraih jaket kulit yang sedang dipakai pria itu.
Bugh
Bugh
Daniel Smith menarik nafas lega. Ia tersenyum lebar karena pada akhirnya dirinyalah yang menemukan orang itu tanpa sempat lagi mencelakai Suzanne Sean Kingston.
"Kenapa kamu berada di sini Daniel?" tanya Alex pada putranya saat residivis itu sudah dibawa pergi oleh beberapa petugas kepolisian.
Pria muda itu tersentak dan baru teringat kalau sebenarnya ia datang ke Bandara karena ingin menemui Suzanne Sean Kingston.
Daniel Smith tidak menjawab pertanyaan Daddynya dan langsung berlari ke arah petugas pemeriksa tiket pada gate 12 untuk penerbangan menuju ke New Zealand.
"Bisakah aku masuk Nona?' tanyanya dengan dada berdebar-debar.
"Perlihatkan tiket Anda Tuan." Daniel tersenyum meringis kemudian menggelengkan kepalanya.
"Mohon maaf Tuan. Kami tidak bisa memberikan izin untuk masuk bagi calon penumpang yang tidak mempunyai tiket. Dan lagi pula penumpang pesawat yang melalui gate ini juga sudah take off beberapa menit yang lalu." jelas pria berseragam biru itu.
"Mohon ulangi sekali lagi? Pesawat ke New Zealand sudah take off?" tanya Daniel Smith ingin memastikan pendengarannya.
"Iya Tuan. Anda benar sekali. Penerbangan ke negara itu masih akan ada pada malam hari pukul 22.00." Daniel Smith merasakan tubuhnya lemas tak bertenaga. Ia meninggalkan tempat itu dengan bahu menurun karena kecewa.
__ADS_1
"Bagaimana Daniel, Apakah yang kamu cari sudah kamu temukan?" tanya Alex dengan senyum samar diwajahnya. Daniel menggelengkan kepalanya lesu. Ia sudah tidak bersemangat lagi kini.
Tubuhnya bagaikan kehilangan energi ribuan volt. Rasa kecewa dihatinya membuatnya tidak bersemangat lagi untuk mengendarai mobilnya pulang.
"Dad, Drive me please." pria itu menyerahkan kunci mobilnya ke telapak tangan sang Daddy. Rasanya untuk membuka pintu mobil pun ia sudah tak sanggup.
"Hahaha, as you wish my son." Alex tertawa kemudian segera melangkah mendahului putranya ke arah Valet Bandara. Mereka berdua pulang ke rumah dengan membawa hasil yang baik tetapi dengan rasa kecewa yang bersamaan hadir di dalam hati.
Sementara itu di dalam pesawat tujuan New Zealand. Suzanne Sean Kingston menyusut airmatanya yang terus menerus menetes membasahi pipinya.
Ia berusaha menyembunyikan kesedihan dan kekesalannya pada Daniel dengan memandang awan putih dari balik jendela pesawat.
"Ada apa?" tanya Harry seraya menyentuh lengan sang adik yang sejak tadi tidak menampakan wajah bahagia.
"Tidak apa-apa kak."
"Kamu yakin Suzanne?" tanya Harry tidak percaya dengan jawaban adiknya itu.
"Iya. Kak."
"Lalu kenapa kamu menangis?"
"Aku tidak menangis kak Harry. Aku hanya menyesal karena datang dan pergi dari Moskow dengan perasaan yang sama." jawab Suzanne dengan rasa kesal yang kembali memuncak.
"Hahaha," Haryy tertawa garing. Pria itu juga merasa hal yang sama saat ini. Ia menyesal pergi ke Kashmir. Karena di negara itu ia merasakan sedih dan gembira secara bersamaan. Dan ia sangat tidak suka itu.
Tawa dan tangis Zara Mukesh kembali terbayang di pelupuk matanya. Yang justru membuat hatinya sangat nyeri dan sesak.
Kedua orang bersaudara itu saling merasakan perasaan yang sama. Sama-sama menderita dalam kerinduan.
🍀
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1