Asmara Sang Pengawal

Asmara Sang Pengawal
# Part 20 Asmara SP


__ADS_3

Rumah Kediaman Alexander Smith.


"Kamu hebat Daniel. Daddy bangga padamu." ujar Alex pada putranya yang sudah berhasil menangkap pembunuh berbahaya itu.


Dan dengan usaha putranya itu akhirnya menguak siapa dalang sebenarnya dari pembunuhan berencana dari peristiwa besar ini. Seorang mafia yang cukup berbahaya di Kota Moskow setelah mundurnya Klan Smith di dunia gelap penuh intrik ini.


"Untunglah kamu bertemu dengan residivis itu sebelum ia menemukan Suzanne." lanjut Alex dengan senyum bangga diwajahnya.


"Meskipun sebenarnya Daddy yakin Vedran Sean Kingston tidak akan berpangku tangan melihat putrinya dalam keadaan bahaya. Iyyakan Daniel?"


"Iya Dad."


"Daddy tetap bangga padamu nak. Aku yakin Vedran belum mengetahui hal ini." ujar Alex kemudian meraih Handphonenya dan berniat menghubungi sahabatnya itu.


Daniel tersenyum tipis. Ia senang dengan pujian Daddynya tetapi hatinya sendiri tidak gembira dengan apa yang sudah terjadi. Ia sangat rindu pada gadis manja itu sekarang.


"Wah kamu hebat ya Daniel," puji Nikita yang baru tiba bersama suaminya Crisstoffer Anderson. Meskipun hal ini adalah hal yang biasa dalam kehidupan keluarga Smith tetapi untuk sebuah hal yang baik, haruslah diberikan penghargaan dengan sebuah pujian.


Daniel kembali tersenyum tipis kemudian melanjutkan kegiatannya menggambar wajah seorang gadis yang selama ini mengganggu pikirannya.


"Awww!" tanpa sadar Daniel berteriak keras karena mendapatkan pukulan di bahunya oleh Nikita sang kakak.


"Hey! kenapa kamu memukulku?" tanya Daniel seraya memandang tajam perempuan cantik yang mempunyai dua anak kembar itu.

__ADS_1


"Kamu mengabaikanku Daniel. Dan aku tidak suka!" jawab Nikita dengan bibir mencibir. Daniel tidak menjawab tetapi melanjutkan lagi kegiatannya yang terjeda.


"Hey! Ada apa denganmu? kamu bahkan tidak menyapa putriku?!" Nikita Kembali mengganggu adiknya itu seraya menarik kertas yang sedang dipakai oleh adiknya itu. Ia benar-benar tidak suka kalau tidak dipedulikan oleh sang adik.


"Berikan kertasnya Niki!" seru putra kedua dari Alexander Smith itu. Ia berdiri dari duduknya dan memburu kakaknya itu yang membawa lari kertas yang berisi gambar Suzanne itu.


Alexander dan Aisyah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat putra-putrinya bertingkah seperti anak-anak itu.


"Aawww, lepaskan aku Daniel!" Nikita berteriak nyaring karena tangannya dipiting agak keras oleh Daniel karena tanpa sadar merobek kertas yang sangat istimewa bagi adiknya itu.


Crisstoffer Anderson yang menyaksikan Nikita berteriak keras segera melompat untuk menolong istrinya itu.


Ia tahu kedua kakak beradik itu hanya bercanda tetapi putri mereka sudah menjerit-jerit menangis jika ibunya sedang berteriak dan dalam masalah besar.


Nikita yang sudah menyadari kalau ekspresi wajah Daniel sudah mulai kesal segera menyerahkan kertas yang sudah hancur itu dan berlari ke arah suaminya. Ia mulai takut kalau Daniel akan marah padanya.


Pria itu pun meraih kertas itu dan segera pergi dari ruangan itu meninggalkan semua orang. Wajahnya tampak ditekuk tapi tidak ingin memarahi kakaknya.


"Hey, maafkan aku ya." Nikita kembali mendekati sang adik yang sudah melangkah menjauh dari tempat itu. Daniel tidak menjawab dan terus melangkah tanpa memperdulikan kata-kata kakak perempuannya itu.


"Aku kan cuma bercanda Daniel. Jangan marah ya, please?!" Nikita melompat mendahului langkah adiknya seraya melipat tangannya di depan dadanya.


Daniel tersenyum kemudian menghalau kakaknya agar pindah dari hadapannya. Pria itu membuka pintu kamarnya dan berniat untuk masuk.

__ADS_1


"Aku senang karena kamu sudah bisa melupakan Elif." ujar Nikita dan langsung membuat langkahnya terhenti.


Deg


Pria muda itu bertanya-tanya dalam hatinya, apa benar ia sudah bisa melupakan cinta masa kecilnya.


"Apa gadis dalam gambar itu yang berhasil membuatmu melupakan Elif?' tanya Nikita dengan perasaan haru dihatinya.


Perempuan itu sangat senang jika itu terjadi. Sungguh ia sangat takut kalau adiknya itu tidak pernah bisa membuka hati untuk orang lain padahal usianya sudah cukup matang untuk berumah tangga.


Daniel tersenyum dengan dengan hati yang tiba-tiba berdebar hanya karena mengingat seorang gadis yang mampu membuatnya melupakan Elif si gadis Turki.


"Kejar cintamu Daniel. Jangan sampai ia menjadi milik orang lain lagi." ujar Nikita dengan wajah penuh perhatian kemudian melanjutkan.


"Dan aku takut kamu akan menangisi nasib buruk percintaanmu di dalam kamar ini sendirian, hihihi." Nikita cekikikan kemudian segera berlari meninggalkan adiknya yang mulai mengeluarkan dua tanduk di atas kepalanya.


"Awas Kamu Niki!" geram Daniel dengan tekad bulat dihatinya. Ia yakin akan mendapatkan Suzanne sesegera mungkin.


🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2