Asmara Sang Pengawal

Asmara Sang Pengawal
# Part 48 Asmara SP


__ADS_3

Shania Galdwin Kingston kembali ke ruang keluarga dengan perasaan yang sangat resah dan juga khawatir. Langkahnya ia percepat untuk bertemu dengan suaminya dan juga Alex serta Aisyah.


Beberapa menit yang lalu, ia baru saja memasuki kamar Suzanne untuk memberitahu tentang lamaran keluarga Smith pada sang putri. Akan tetapi matanya tidak sengaja menyaksikan Daniel dan Putrinya sedang berada pada posisi yang sangat mengkhawatirkan.


Perempuan itu ingin menegur tetapi ia urungkan karena takut mereka berdua jadi malu. Akhirnya ia putuskan untuk memberi tahu suaminya agar pernikahan putra-putri mereka dilaksanakan saat ini juga untuk menghindari fitnah yang lebih besar.


"Sayang, ada apa?" Vedran yang merasa curiga dengan gerak-gerik istrinya itu memandang wajah cantik Istrinya. Ia mengelus lembut lengan perempuan cantik itu agar bisa tenang.


"Aku ingin Daniel menikahi Suzanne saat ini juga Ved," jawab Shania berusaha menghalau pikiran-pikiran buruk yang berseliweran di kepalanya. Ia jadi menyesal sendiri kenapa tidak menegur dua muda-mudi yang sedang dimabuk cinta itu. meskipun mereka berdua akan malu nantinya. Daripada ditinggalkan malah lebih mengkhawatirkan.


"Itu bagus sayangku. Aku sangat mengerti perasaanmu. Kamu ingin putri kita terjaga dengan baik bukan?" Shania mengangguk dengan cepat.


Perempuan cantik itu lantas ingin berdiri dari duduknya untuk kembali ke dalam kamar Suzanne untuk menghindari satu perbuatan yang sangat meresahkannya. Akan tetapi tangannya di tarik oleh sang suami. Ia ingin memperingatkan kepada mereka berdua untuk menahan hasrat mereka sebelum akad menikah.


"Duduklah, kita bicarakan ini dengan Tuan Smith dan juga Istrinya." Shania tersenyum kemudian kembali duduk. Mereka pun tanpa segan dan malu meminta kepada pihak keluarga Daniel untuk menikahkan putra-putri mereka saat ini juga.


"Aku minta maaf kalau kami memaksa Daniel menikahi putri kami sebelum kalian kembali ke Moskow," ujar Vedran Sean Kingston seraya menatap wajah Alexander Smith dan Aisyah bergantian.


"Wah, itu ide yang bagus, tetapi tidakkah ini terlalu cepat? kami baru saja melamar Suzanne, putrimu." jawab Alex tersenyum. Ia menggenggam tangan istrinya yang nampak sangat kaget dengan permintaan dari keluarga gadis Auckland ini.


"Kami juga ingin acara pernikahan ini kita laksanakan dengan sangat meriah. Bukankah ini acara pernikahan pertama di keluarga ini Tuan Kingston?"


"Keluarga Smith juga belum berada di sini semuanya." lanjut Alexander Smith memberikan alasannya.


Akan tetapi Shania Galdwin Kingston yang sudah merasa sangat resah karena kedua anak muda itu belum juga kembali bergabung bersama mereka langsung ikut berbicara.


"Tidak, ah iya. Tetapi kami tidak ingin sesuatu terjadi pada putri kami. Kalian mengerti kan tentang keselamatan Suzanne yang akhir-akhir ini terancam?" Nampak sekali kalau ia sangat gelisah saat ini.


Membiarkan dua pria dan wanita dalam satu kamar yang sepi adalah sebuah kesalahan besar. Dan ia benar-benar sangat takut sesuatu yang buruk sedang terjadi pada calon pengantin itu.

__ADS_1


Aisyah tersenyum maklum dan sepertinya sangat memahami apa yang dipikirkan oleh perempuan cantik itu. Sesama perempuan dan juga seorang ibu membuatnya sangat memahami ketakutan Shania.


"Baiklah, kita nikahkan saja mereka terlebih dahulu di sini, saat ini. Dan tentang pesta pernikahannya kita bisa rayakan di dua negara, bagaimana?" timpal Aisyah seraya menatap suaminya.


"Saat ini?" tanya Alex tidak percaya dengan apa yang diusulkan oleh Aisyah. Perempuan asal Dagestan itu tersenyum kemudian mengangguk.


"Iya sayangku. Saat ini dan di tempat ini. Dan kurasa Tuan Kingston pasti bisa menikahkan putrinya sendiri. Iyyakan?" Kali ini Aisyah memandang calon besannya dengan tersenyum.


Vedran Sean Kingston merasakan tubuhnya gemetar dengan dada berdebar-debar. Ia tiba-tiba merasa takut dan khawatir. Ia rasanya lebih baik bertemu dengan musuh bebuyutannya Gengster Black Power daripada harus menikahkan putrinya sendiri.


"Vedran sayang, kamu tidak perlu gemetar seperti itu. Kamu dan Tuan Smith bisa belajar lewat MOU Tube sayang. Ini demi kebaikan putri kita, Okey?" Shania mengelus lembut tangan suaminya untuk memberikan semangat.


"Baiklah, Aku akan belajar. Tetapi tunggi sampai Aku bisa ya?" Vedran menarik nafas panjang kemudian tersenyum meringis. Aisyah dan Shania tersenyum kemudian sama-sama berdiri dari duduknya.


"Kita akan mempersiapkan pernikahan ini Nyonya Smith, mari ikut denganku. Dan para gadis juga harus ikut membantu," ujar Shania kemudian meraih handphonenya. Ia akan menghubungi Alma dan juga keluarganya yang lain.


Aura panas di dalam ruangan segi empat yang luas itu cukup membuat dua insan yang sedang memadu kasih itu lupa akan segalanya.


Daniel Smith melepaskan rengkuhannya pada tubuh Suzanne. Ia menatap gadis itu dengan tatapan penuh cinta.


"Kamu sudah percaya padaku Sue?" tanyanya seraya menyentuh bibir gadis itu dengan ibu jarinya, nampak bibir itu masih basah dan juga membengkak karena perbuatannya beberapa saat yang lalu.


Suzanne tidak menjawab. Ia hanya menutup wajahnya dengan telapak tangannya karena sangat malu saat ini. Dadanya saja sudah berdebar tidak karuan oleh perlakuan manis pria itu padanya.


Daniel kembali ingin menenggelamkan dirinya pada sesuatu yang sudah ia rasakan nikmatnya tetapi sebuah pukulan keras pada kepalanya membuatnya harus menelan ludahnya sendiri.


"Daniel! Kamu segera keluar dari kamar ini!" Sentak Aisyah dengan suara menggelegar marah. Perempuan itu tidak segan-segan memukul putranya yang baru keluar dari Rumah Sakit itu berulang-ulang sampai Daniel segera kabur dari tempat itu.


"Apakah Daniel melakukan sesuatu yang buruk padamu sayang?" tanya Aisyah dengan tatapan khawatir pada Suzanne.

__ADS_1


Perempuan itu sangat malu pada keluarga Vedran Sean Kingston, Apalagi ada Shania yang juga berada di tempat itu dan menyaksikan apa yang telah dilakukan Daniel. Sungguh Ia begitu malu karena putranya tidak tahu tempat dan suasana.


"Tidak Onty. Aku juga salah. Maafkan Aku ya?" Suzanne memeluk tubuh Aisyah kemudian menangis. Shania pun ikut memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Persiapkan dirimu. Hari ini juga kamu akan menikah dengan Daniel," ujar Shania seraya menepuk bahu putrinya.


"Mommy, Aku minta maaf. Aku dan Daniel tidak sengaja melakukannya." Suzanne akhirnya menangis histeris. Ia merasa sangat bersalah karena tidak mendengarkan nasehat Perempuan yang telah melahirkannya itu.


Selama ini sang Mommy selalu memberinya peringatan untuk berhati-hati bergaul dengan laki-laki.


Karena pada dasarnya tidak ada hubungan yang murni jika menyangkut dua orang beda jenis kela*min. Apalagi mereka itu yang tidak punya ikatan kekeluargaan.


Hubungan itu pada akhirnya akan mengarah pada sebuah ikatan asmara atau hasrat yang tak terbendung.


"Tidak sayang. Jangan menangis. Untuk itulah kami akan menikahkan kalian. Agar perasaan kalian terjaga dan dirahmati oleh Tuhan."


"Terimakasih banyak Mommy, Onty," Suzanne kembali memeluk dua orang perempuan yang sangat bijaksana itu dengan rasa haru dan bahagia.


🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Ada gak yang mau jadi saksi pernikahan mereka berdua??


Kirim bunga atau kopi dong sayangku 😘


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2