Asmara Sang Pengawal

Asmara Sang Pengawal
# Part 50 Asmara SP


__ADS_3

Daniel Smith membaringkan tubuh Suzanne di atas ranjang king size milik gadis cantik yang sudah sah menjadi istrinya itu. Ia tersenyum samar seraya menyentuh kembali bibir Istrinya dengan jari-jarinya. Bibir yang merekah indah dan sangat legit rasanya.


"Kamu manis sekali sayangku," bisiknya dengan suara bergetar menahan sesuatu yang sangat luar biasa. Sebuah hasrat yang sedari tadi menggedor-gedor pertahanan dirinya.


Suzanne tersenyum kemudian meraih jari telunjuk suaminya dan mengulumnya dalam mulutnya. Rupanya ia juga sudah ikut terbakar karena peraduan bibir mereka yang cukup lama beberapa saat yang lalu.


Daniel menutup matanya merasakan dirinya semakin terbakar. Entah darimana istrinya yang manja ini belajar sampai bisa membuatnya kehilangan kewarasannya saat ini.


Daniel menyentuh wajah sang istri dan membelainya dengan tangannya yang lain. Pria itu kemudian membuka matanya ketika ia merasakan jarinya sudah terlepas dari mulut Suzanne.


"Sue, kamu cantik sekali sayangku," ujar Daniel dengan tatapan penuh cinta dan pemujaan pada gadis yang juga sedang menatapnya itu.


"Kamu juga tampan tetapi kadang sangat menjengkelkan Dan," jawab Suzanne dengan wajah dibuat kesal.


Ia baru ingat bisikan dari Nikita, sang kakak ipar kalau ia tidak boleh tampak sangat menginginkan pria itu. Dan malam ini ia harus melakukannya untuk memenangkan tantangan dari kakak kandung dari suaminya itu.


"Yang terpenting hatimu sudah menjadi milikku sayang, dan Aku juga adalah milikmu." Daniel berucap seraya membuka stelan jas yang sedang dipakainya.


Ish!


Tidak semudah itu Tuan Smith! cibir Suzanne dalam hati. Ia berjanji akan memenangkan tantangan dari Nikita sang kakak ipar.


Gadis yang sudah dinikahi oleh Daniel itu bangun dari posisinya saat ini dan berniat untuk mengganti dress yang baru saja dipakainya untuk akad nikah.


Langkahnya yang ingin memasuki Walk in Closet tertahan saat melihat Daniel baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya yang kuat.


Mata Suzanne serasa mendapatkan vitamin penyegar. Perut kotak-kotak pria itu begitu menggoda imannya. Apalagi titik-titik air dari rambutnya yang basah dan mengalir seksih di dada bidang itu.


Suzanne menelan salivanya kasar. Ia berusaha memandang ke arah lain tetapi hatinya melarangnya. Mati-matian ia bertahan untuk tidak melihat ke arah suaminya yang sedang memandangnya dengan tatapan lapar.

__ADS_1


Gadis manja itu akhirnya menghentakkan kakinya karena kesal. Ia pun berlari ke dalam ruangan tempat semua pakaian dan barang-barang pribadinya berada.


Sungguh Ia sangat ingin menyentuh perut rata dan berotot itu dengan tangannya tetapi bisikan Nikita selalu terngiang-ngiang dikepalanya. Ia harus kuat dan bertahan agar ia bisa memenangkan tantangan ini.


Sungguh ia ingin melihat Daniel menderita kemudian menceritakannya pada kakak iparnya itu.


"Aku bisa membantu melepaskan pakaianmu Sue." Suzanne tersentak kaget karena Daniel tiba-tiba sudah berada di belakang punggungnya.


Ia bisa melihat wajah tampan suaminya dari dalam kaca besar dihadapannya sedang tersenyum samar.


"Aku bisa melakukannya sendiri," jawabnya dengan suara tercekat. Nampak sekali kalau ia tidak kuat menatap mata biru pria yang berasal dari Moskow itu meskipun hanya melalui kaca besar di hadapannya.


"Kalau begitu lakukanlah, Aku menunggumu Nyonya," ujar Daniel dengan tubuh ia mundurkan satu langkah.


Pria itu ingin tahu apa sebenarnya yang ingin diperbuat oleh istrinya yang tiba-tiba berubah seperti itu. Baru saja hasratnya dipancing dengan sedemikian rupa, sekarang Suzanne malah menunjukkan sebuah penolakan.


Akhirnya ia hanya menunggu dan terus memandang istrinya itu dengan dada berdebar penuh hasrat. Ia juga harus bertahan dan melihat sejauh mana cinta dan gairah ini membawa mereka berdua ke dalam pusaran kenikmatan yang tak bertepi.


"Apakah kamu bisa keluar dari ruangan ini Dan? Aku jadi tidak bisa mengganti pakaian ini jika kamu ada di sini." Akhirnya keluar juga kata-kata pengusiran darinya.


Gadis itu tahu kalau ia akan kalah sebentar lagi. Dan tantangan Nikita pun tidak bisa ia lakukan jika Daniel terus memandanginya seperti itu.


"Kenapa?" Daniel tersenyum kemudian melangkah mendekati gadis yang masih perawan itu.


"Aku tidak bisa membuka ini kalau kamu menatapku seperti itu Dan," jawab Suzanne dengan tangan sudah berada pada kancing bagian belakang dress-nya.


"Aku kan bisa membantumu sayang," ujar Daniel dengan segera menyingkirkan tangan Suzanne agar ia bisa membuka pakaian panjang itu. Suzanne tak bisa berkutik. Ia tidak punya cara lain lagi untuk menolak.


Bunyi resleting dress-nya yang ditarik oleh Daniel sang suami, terasa begitu nyaring di dalam ruangan yang sepi dan hening itu.

__ADS_1


Suzanne tiba-tiba merasakan tubuhnya dingin oleh udara dari Air Condition di dalam ruangan itu. Udara yang sangat dingin yang berhembus ke dalam pori-pori kulitnya.


Ia terlalu menjiwai drama tarikan resleting itu hingga ia tidak sadar kalau Daniel sudah berhasil membuka dress panjang itu dari dalam tubuhnya.


Yang tersisa sekarang adalah sebuah underwear yang begitu sangat terbuka dan kurang bisa menutup bagian-bagian penting dari tubuh indah miliknya.


"Aaaaakh," tanpa sadar ia mendesah karena punggungnya yang terbuka itu dikecup oleh sang suami. Daniel Smith bahkan mulai meremass dua bongkahan daging bagian belakangnya dengan sangat lembut.


"Aaaaaakh Dan," sekali lagi mulutnya mengeluarkan suara lucnut yang membuat Daniel diatas angin. Ia terbakar dengan inti dirinya yang mulai bangun dan siap mencari lawan.


Pria itu tersenyum dengan penuh kemenangan seraya memutar tubuh istrinya agar bisa berhadapan dengannya.


"Maafkan Aku Tuan Smith, tetapi Aku harus ke kamar mandi sekarang, Aku ingin mandi." ujar Suzanne yang kembali tersadar. Ia mendorong tubuh suaminya itu ke samping agar ia bisa lewat.


Ia melenggang santai dan melalui sosok Daniel yang terbengong-bengong dengan apa yang terjadi di depan matanya. Syaraf-syarafnya yang sudah bergetar dan mengantarkan pesan-pesan indah kini dipaksa untuk berhenti.


"Ada apa dengan Suzanne? Ia seperti sengaja membuatku frustasi seperti ini," ujarnya seraya meraup wajahnya kasar. Tangannya segera mengelus sesuatu yang sedang berontak kecewa dari dalam handuknya.


Suzanne tersenyum menang. Ia yakin akan bisa memenangkan tantangan dari Nikita malam ini. Dengan hati gembira ia memasuki kamar mandi dan membuka underwear nya.


Ia mulai mengguyur tubuhnya dibawah shower untuk meredakan hasrat yang juga sudah menyiksanya sedari tadi.


"Tak apa Sue, biarkan ia memohon padamu sayang," bisiknya disela-sela kucuran air yang membasahi sekujur tubuhnya.


🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2