Asmara Sang Pengawal

Asmara Sang Pengawal
# Part 30 Asmara SP


__ADS_3

Di sebuah hotel apartemen sederhana, Javier sedang sangat senang karena sudah mendapatkan kiriman gambar dari Suzanne kalau gadis itu sudah memakai jam tangan pemberiannya.


Berkali-kali ia hubungi gadis itu agar bisa mengikuti instruksinya agar ia bisa melacak apa saja yang dilakukan oleh gadis itu saat ini.



"Oh Shi*t!" ia menatap foto-foto Suzanne yang terlihat sangat cantik menggunakan hadiah pemberiannya. Dan entah kenapa hatinya yang selama ini sangat membenci dan ingin melenyapkan gadis itu kini berubah melunak.


Ia kini terobsesi pada saksi kunci yang menyebabkan kakaknya itu mendapatkan hukuman mati. Dadanya berdebar keras saat memandang kembali gambar Suzanne yang pernah ia curi diam-diam. Gadis itu tertawa lepas dan begitu sangat cantik.


"Sial!" pria itu memukul meja dihadapannya karena tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu. Ia pun meraup wajahnya kasar kemudian segera meminum cairan alkoholnya untuk meredakan hasrat yang tiba-tiba saja menggila karena memikirkan gadis itu.


"Tenang Javier. Kamu akan mendapatkan dirinya kemudian melenyapkannya. Ingat dendam kakakmu!" ujarnya untuk menstimulasi otaknya agar kembali ke tujuan awalnya.


Pria itu tidak boleh kalah sebelum berhasil mendapatkan gadis itu dan melenyapkannya. Kembali ia menenggak minumannya kemudian meraih handphonenya.


Ia ingin menghubungi Suzanne sekali lagi agar mengikuti instruksinya. Ia juga sangat ingin mendengar suara gadis itu. Dengan itu ia bisa membayangkan gadis itu sedang bersamanya saat ini. Melalui malam yang panjang ini bersama dengan bayangan Suzanne.


Tuuut


Tuuut


Tuuut


"Oh Sh*it!" Javier melempar handphonenya ke atas mejanya karena gadis itu malah menonaktifkan nomornya dan tidak bisa lagi dihubungi.


🍀


Harry meraih jam tangan itu dan membolak-baliknya. Jarinya meraba seluruh permukaan jam tangan yang dipenuhi permata kecil di sekeliling benda yang berbentuk bundar itu.


Dan tanpa sadar ia menekan satu salah satu permata pada arah angka 12. Terdengar bunyi klik yang sangat halus dari benda yang ada di tangannya itu.


Ia yakin hanya ia saja yang mendengar bunyi itu karena jaraknya dengan Daniel cukup berjauhan. Jarinya yang lain mulai meraba bagian bawah jam itu kemudian memandang pria Moskow yang sedang duduk dihadapannya.


"Apa yang kamu temukan Harry?' tanya Daniel dengan wajah penasaran. Harry membalik jam benda penanda waktu itu dan memperlihatkan sebuah alat yang sangat halus sebagai alat pelacak.

__ADS_1


"Dan jika permata kecil ini ditekan maka sebuah kamera perekam juga akan berfungsi disini. Sangat halus karena hanya menyerupai aksesoris pada jam tangan ini."


"Brengsek!" umpat Daniel dengan rahang mengetat sempurna. Ia sudah bisa menebak apa maksud pria itu memberikan Suzanne benda aneh seperti itu.


Sedangkan Harry hanya menyeringai. Ia sendiri berusaha menahan amarahnya sejak tadi. Ia tak menyangka kalau orang itu bahkan berani membuat permainan seperti ini pada adiknya.


"Aku sudah menonaktifkan kamera dan juga pelacaknya Daniel. Dan Aku yakin saat ini ia sedang sangat stress karena tidak mendapatkan apa yang ia inginkan." ujar Harry berusaha menghibur sahabatnya itu.


Ia yakin sekali Daniel pasti tidak akan tenang kalau ada seseorang yang ingin mengganggu adiknya.


"Aku belum tenang jika tidak membuat perhitungan pada pria asing itu Harry." Daniel menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang sedang ia duduki.


Ia meraup wajahnya kasar karena sangat kesal dengan apa yang terjadi dihadapannya tanpa bisa ia cegah. Perlahan ia menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya.


Ia tidak tahu apa saja yang sudah dilakukan gadis manja itu sebelum mengambil paksa benda ini.


"Oh ya Allah," ujarnya pelan karena tiba-tiba merasa dadanya tiba-tiba bergemuruh hebat. Suzanne bukan cuma manja tetapi juga sangat gegabah.


Ia pernah membuka semua pakaiannya tanpa memperhatikan keadaan sekelilingnya waktu itu. Dan untungnya hanya dirinya yang berada di dalam kamar Asma saat itu.


Dengan cepat ia berdiri dari duduknya dan meninggalkan Harry yang kebingungan. Pria itu berteriak keras karena masih ingin membahas tentang Javier dan jam tangan yang sedang berada ditangannya ini. Ia ingin merubah arah alat pelacak ini secepatnya agar ia tahu dimana pria mesum itu saat ini.


"Aku keluar sebentar. Aku akan kembali lagi kemari." Daniel menjawab tanpa menolehkan wajahnya kepada Harry. Ia ingin menemui Suzanne saat ini juga.


Langkahnya bagaikan berlari dan segera memasuki kamar gadis itu yang ternyata tidak tertutup. Ia tertegun di dalam kamar itu karena mendapati tiga gadis sedang sibuk mengobrol dengan sangat serius.


Mereka bertiga sedang membicarakan pria-pria tampan di Kota Moskow dan juga Auckland. Dan rupanya Namanya dan juga Harry sedang jadi topik gosip ketiga gadis itu.


"Daniel?" Elmira yang baru menyadari kedatangannya langsung menutup mulutnya karena merasa malu kedapatan menceritakan tentang sepupunya itu.


Ketiga gadis itu langsung menatap pria yang sedang berdiri mematung itu dengan ekspresi horor.


"Kalian membicarakan apa hah?!" tanyanya dengan tatapan tajam kepada semua gadis itu. Terakhir tatapannya kearah satu titik. Yaitu pada wajah Suzanne yang nampak kemerahan karena malu.


Gadis itu yang paling bersemangat menceritakan pengalaman buruknya dengan dirinya.

__ADS_1


"Kami hanya menceritakan kebaikanmu Daniel, jangan marah ya?" timpal Elmira cepat.


"Aku tidak mendengar ada yang menceritakan kebaikanku di sini. Dan sekarang Aku butuh gadis manja itu." Daniel tersenyum samar kemudian menunjuk Suzanne.


"Aku? ada apa denganku?" Gadis itu menunjuk hidungnya sendiri dengan jarinya. Ia merasa akan mendapatkan lagi masalah dengan pria yang sangat menyebalkan itu.


"Iya, Kamu harus mengikutiku sekarang. Aku tunggu di depan." titah Daniel kemudian meninggalkan tempat itu.


"Pria menyebalkan itu kenapa?" tanya Suzanne pada dua gadis dihadapannya. "Kan bukan Aku saja yang kedapatan sedang menceritakan sikap buruknya itu. Kamu juga 'kan Elmira?"


Elmira tersenyum kemudian mengelus tangan gadis cantik itu. Ia pun berucap, "Temui sepupuku itu. Aku yakin ia sedang dalam masalah sekarang."


"Hum, baiklah. Tapi tolong Aku ya, kalau ia menghukumku." ujar Suzanne dengan bibir mengerucut. Elmira dan Ramanda tersenyum dan mengangkat jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O.


Suzanne berdiri dari duduknya dan segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Ia akan menemui pria mantan pengawalnya itu.


"Aawww," teriaknya keras karena tangannya ditarik keras dan tak sabar oleh Daniel yang sudah lama menunggu di depan kamar itu.


"Apa kamu tidak bisa bersikap manis sedikit saja Tuan Daniel?!" jerit Suzanne karena kesal pada Daniel yang menarik tangannya dengan kasar. Matanya sudah berkaca-kaca dengan bibir mengerucut kesal.


"Apa yang kamu lakukan saat memakai hadiah dari Si Javier brengsek itu!" tanya Daniel dengan tatapan tajam pada gadis yang sudah hampir menangis itu.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Dan memangnya apa yang harus Aku lakukan?"'


"Kamu tidak membuka pakaianmu 'kan seperti saat itu?" tanya Daniel berusaha meyakinkan dirinya kalau pria itu belum mengambil keuntungan dari gadis itu.


"Kapan Aku membuka pakaianku? Apa Aku pernah melakukannya di depan mu?!"


Deg


Danil Smith merasakan lidahnya keluh. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan gadis itu yang pastinya akan membuka rahasianya sendiri.


🍀


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2