
Kashmir.
Harry Sean Kingston mengantar jenazah Zara Mukesh ke sebuah rumah yang merupakan rumah keluarga perempuan itu. Rumah yang nampak luas dan juga bersih dengan segala perabotan sederhana di dalamnya.
Ia ingin memberikan penghormatan terakhirnya pada perempuan yang telah banyak memberinya pelajaran yang cukup berharga selama berada di negara ini.
Seorang perempuan paruh baya menangis histeris saat tahu apa yang telah terjadi pada putrinya. Ada banyak kata yang ia katakan untuk menyesalkan kejadian ini tetapi tidak dimengerti oleh Harry Sean Kingston.
"Hey, jadi anda orang yang telah membuat Zara menjadi korban bom itu?" tanya Mukesh Bala saat ia sudah bersiap pulang setelah jenazah perempuan itu sudah dimakamkan di tempat pemakaman umum di desa itu.
"Maaf?" Harry memandang pria itu dengan pandangan tanya. Sedangkan pria itu hanya bisa menampilkan wajah yang sangat tidak bersahabat.
"Jangan pura-pura tidak tahu dengan apa yang aku katakan."
Harry hanya bisa terkekeh karena ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan pria itu. Apalagi pria itu berbicara dengan bahasa asli daerahnya.
Dan satu hal yang membuat dirinya tidak mau mengambil pusing atas kata-kata pria itu adalah karena semua orang yang ada di kamp pengungsian itu tahu siapa dirinya.
Ia adalah seorang petugas yang membantu semua orang dalam peristiwa yang sangat menyedihkan ini.
Harry memutar tubuhnya untuk meninggalkan pria yang tidak dikenalnya itu tetapi tiba-tiba saja ia mendapatkan satu pukulan dibagian belakangnya.
Bugh
"Aaargh!"
"Aku sudah lama memperhatikan dirimu Tuan prajurit!" ujar Mukesh Bala dengan tatapan tajam berikut tangan dan kaki masih ingin menyerangnya tetapi Harry segera bersiap untuk membalas.
Bugh
Pria itu menyerang kembali dan hanya mendapatkan ruang kosong karena Harry pintar berkelit. Ia sudah tahu kapan dan dimana titik yang akan diserang oleh pria itu.
Harry tersenyum miring kemudian menangkap tangan pria yang tingginya beberapa cm dibawahnya. Ia Mencengkram kuat tangan terkepal itu dan memutarnya kebelakang.
Krekk
Mukesh Bala merasakan tangannya patah. Ia pun meringis kesakitan. Tubuhnya hanya besar tapi tidak berotot.
"Ada apa denganmu Tuan?" tanya Harry pada pria itu saat ia sudah berhasil menguasai keadaan.
__ADS_1
"Gara-gara kamu yang memasuki kehidupan Zara, ia jadi memberontak pada suaminya. Dan itu adalah kesalahan besar Tuan." ujar Mukesh Bala dengan perasaan marah.
"Kamu datang untuk menyatakan cinta hingga ia tidak lagi mendengarkan perintahku!" lanjut pria itu dengan berusaha memberontak tetapi pergerakan tubuhnya sudah terkunci dan tidak bisa berkutik.
"Suami? Zara sudah menikah?" tanya Harry dengan wajah tak percaya.
"Ya. Akulah suaminya dan aku tahu kamu berusaha menarik perhatiannya Tuan. Sungguh itu tidak benar. Kamu datang sebagai petugas perdamaian tetapi malah membuat sebuah keluarga hancur!" Mukesh Bala memandang pria dihadapannya dengan pandangan benci dan marah.
"Kamu yang menyebabkan istriku mati dan meninggalkan anaknya yang masih kecil!' teriak pria itu dengan penuh drama agar orang yang melihatnya merasa simpati.
Harry langsung melepaskan pria itu karena tidak mau orang-orang berprasangka buruk padanya meskipun pada dasarnya ia salah karena menyukai istri orang lain.
Ia pun segera pergi dari sana tempat itu secepatnya. Pikiran dan hatinya sekarang tidak baik-baik saja. Semua rasa bercampur-aduk menjadi satu di dalam dadanya.
Ia menyesali dirinya yang ternyata mengakibatkan Zara Mukesh menderita. Dan ia berharap luka dihatinya ini bisa sembuh seiring berjalannya waktu.
Sore itu juga ia berangkat ke Bandara untuk pulang ke Moskow dan bukannya ke New Zealand. Karena kedua orangtua dan adiknya ada di negara itu.
Ia ingin menenangkan perasaannya yang sedang kacau saat ini sehingga tugasnya dialihkan kepada kawannya.
🍀
Harry Sean Kingston tiba di Moskow dan langsung mendatangi Rumah Sakit dimana seluruh anggota keluarganya masih berada disana untuk perawatan kesehatan Suzanne sang adik.
Hampir dini hari ia tiba di Rumah Sakit itu dalam keadaan yang sangat kacau. Bukan cuma fisiknya yang lelah setelah bertugas di sebuah negara konflik tetapi hatinya juga tak kalah lelahnya.
Langkahnya seperti tak menapak. Perang batin yang dialaminya sekarang sepertinya lebih berat daripada perang yang terjadi antara dua negara yang baru ia kunjungi.
Bugh
Pria itu tidak sadar telah menabrak seseorang di depan pintu Rumah Sakit. Karena lelah ia jadi tidak memperhatikan langkahnya.
"Oh maafkan aku, Dokter." ujarnya seraya membungkuk mengambil tasnya dan juga tas dokter perempuan yang sama-sama terjatuh akibat dari tabrakan itu.
"Ah ya tidak apa-apa. Kalau anda merasa tidak sehat, anda bisa masuk ke ruang Emergency Room terlebih dahulu." ujar Elmira Omar Yusuf yang ternyata sudah bersiap pulang ditengah malam itu. Bertugas seharian di Rumah Sakit membuatnya rindu akan ranjangnya sendiri yang empuk.
Harry Sean Kingston hanya diam kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan dokter Elmira dengan tubuh sempoyongan.
Brakkk
__ADS_1
Dokter perempuan itu menoleh dengan cepat setelah mendengar bunyi keras dari arah belakangnya dan menyaksikan sendiri kalau pria itu sedang tidak baik-baik saja.
Harry Sean Kingston menabrak daun pintu Rumah Sakit dan kemudian jatuh terduduk. Elmira segera berlari kesana dengan wajah panik sekaligus lucu.
Perempuan cantik itu berusaha membantu pria itu untuk bangun meskipun tenaganya tidak seberapa.
"Aku pikir anda sedang mabuk sampai bisa menabrak pintu yang tidak bersalah ini Tuan, hehehe." ujar Elmira dengan kekehan kecil dari bibirnya.
Harry hanya tersenyum kecut. Ia begitu malu karena kelihatan sangat nampak bodoh dan lucu saat ini. Tetapi ia bisa apa. Konsentrasinya sekarang sedang terbagi-bagi.
Dan Perempuan itu yakin kalau pria ini tidak mabuk karena tidak menemukan bau alkohol sedikitpun dari tubuh pria ini.
"Apa anda merasakan sakit Tuan?" tanya Elmira ingin tahu. Kebiasaannya setelah bertemu dengan orang yang nampak linglung seperti ini adalah menanyakan kondisi pasien.
"Ya. Sakit sekali." jawab Harry seraya meraba dadanya. Pria itu merasa ada baru besar yang mengganjal perasaannya hingga ia merasa susah untuk bernafas.
"Baiklah. Aku akan membawa anda ke dalam dan memeriksa anda dengan baik." ujar Elmira tersenyum. Perempuan itu menatap penanda waktu di pergelangan tangannya yang menunjukkan waktu yang sudah hampir pagi.
"Anda masih bisa berjalan 'kan?" tanya Elmira dengan senyum lucunya.
"Ya ya, aku bisa." jawab Harry seraya mengikuti langkah perempuan cantik berhijab dihadapannya.
Brakk
Elmira ingin rasanya tertawa terpingkal-pingkal karena Harry kembali menabrak pintu dihadapannya.
"Ya ampun. Kurasa penyakit anda benar-benar parah Tuan. Mungkin bukan dada anda yang sakit tetapi mata anda juga sedang bermasalah." Elmira segera memanggil perawat pria agar membawa pasien tampan itu kedalam dengan bantuan brangkar Rumah Sakit.
🍀
*Bersambung.
.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
"
__ADS_1