Asmara Sang Pengawal

Asmara Sang Pengawal
# Part 59 Asmara SP


__ADS_3

Elmira tersenyum diantara kepanikan semua orang di dalam kamar itu. Ia menyimpan peralatan medisnya kembali ke dalam tas kerjanya kemudian berucap, "Daniel tidak apa-apa. Luka itu kembali sakit karena pukulan benda tumpul itu."


"Dan karena itulah, lukanya kembali terasa nyeri. Dan ya, sepertinya Suzanne harus memotong kuku agar tidak terlalu panjang dan berbahaya untuk putra kesayangan keluarga Smith." Semua orang menahan senyumnya karena khawatir istri dari Daniel itu tak enak hati.


"Kamu hanya butuh istirahat dan minum obatmu ya," lanjut Elmira kemudian berniat keluar dari kamar itu. Ia juga mengajak semua orang untuk mengikutinya.


"Ah iya sayang. Kami keluar dulu ya, telepon saja jika kalian membutuhkan sesuatu, okey?" Aisyah ikut berpamitan kepada dua orang pasangan suami-istri baru itu.


Daniel tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada semua orang. Aisyah pun segera keluar dari sana diikuti oleh Alex dan yang lainnya. Mereka ingin memberikan ruang pribadi bagi dua orang yang nampak malu dengan kejadian barusan.


Daniel yang sudah merasa lebih baik setelah meminum obat anti nyeri segera bangun dan duduk di atas ranjangnya. Ia meraih tangan Suzanne agar duduk disampingnya.


"Hey, jangan menangis. Kamu tidak salah," ujar Daniel seraya menghapus cairan bening pada pipi mulus sang istri. Perempuan itu sepertinya masih sangat malu dan bersalah dengan kejadian memalukan tadi.


"Aku yang salah Daniel. Aku tidak berhati-hati padamu huaaa," Suzanne semakin menangis kencang. Ia memeluk tubuh Daniel dan menangis di dada bidang pria itu. Ia merasakan perasaan bersalah yang sangat besar pada pria yang sangat dicintainya itu.


"Kamu pasti sangat kesakitan dengan kukuku yang panjang ini, hiks." lanjut perempuan itu dengan tangis sesenggukan. Daniel tersenyum kemudian mengelus lembut punggung Suzanne yang berada dalam pelukannya.


"Tidak sayang. Aku sekarang baik-baik saja. Jadi jangan bersedih ya," jawab pria itu kemudian mencium pucuk kepala istrinya.

__ADS_1


"Siapa bilang kamu baik-baik saja. Lukamu itu ternyata belum kering betul dan kamu sudah langsung bekerja. Itu tidak baik Daniel." Suzanne menatap suaminya dengan wajah berubah kesal dan khawatir secara bersamaan.


"Sue, jangan menatapku seperti itu sayang. Kamu membuatku menginginkanmu lagi," ujar Daniel dengan tatapan yang mulai berbeda pada sang istri.


"Kamu sakit Daniel. Dan Aku tidak mau kejadian tadi terulang lagi. Aku takut," balas Suzanne seraya menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak mau.


"Sue, tidak akan terulang sayang. Asalkan kamu tidak menyentuh lukaku. Kamu kan bisa menyentuh yang lain Hem," Daniel tersenyum kemudian meraih tangan istrinya dan membawanya ke bagian bawahnya.


"Pegang itu saja, okey?" bisik Daniel tersenyum penuh makna. Suzanne langsung merasakan pipinya menghangat. Ia malu sekaligus takjub dengan perubahan perasaan suaminya yang bisa kembali berhasrat padanya.


"Aku sekarang ingin melanjutkan yang tadi Sue," bisik Daniel dengan suara bergetar hebat. Ia merasakan gelenyar aneh dan nikmat sedang berkejaran di dalam pembuluh darahnya. Tangan Suzanne yang bergerak dibawah sana dengan ritme yang memabukkan membuatnya kehilangan akalnya.


Menit berikutnya, mereka sudah terbang ke nirwana yang menjanjikan banyak kenikmatan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Hanya suara nafas yang memburu serta rintihan dan dessahan yang menghiasi kamar itu.


Mereka bagaikan musafir cinta yang tak pernah lelah mengarungi lautan rasa yang menjanjikan banyak kenikmatan. Mereka tenggelam dan timbul kembali dengan perasaan yang membuncah.


Tak ada kata selain kata pemujaan yang keluar dari mulut mereka disertai rintihan dan juga erangan nikmat.


Sampai akhirnya mereka berdua terhempas dan jatuh dari ketinggian dengan wajah dan senyum puas.

__ADS_1


Daniel tak berhenti mengecup seluruh permukaan wajah istrinya dengan ucapan terimakasih yang banyak.


"Terimakasih Sue. Aku mencintaimu sayangku. Terimakasih banyak. Kamu membuatku tak bisa berkata-kata," ujar Daniel kemudian meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


Suzanne tersenyum dengan nafas pendek-pendek. Ia seperti seorang pelari yang baru tiba digaris finish dan sekarang sangat kelelahan.


"Tidur lah lagi kalau kamu lelah sayang," ujar Daniel seraya menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya yang polos.


"Aku ingin membersihkan diri Dan, ini sangat tidak nyaman sayang," balas Suzanne seraya bangun dari tidurnya. Ia langsung keluar dari selimut dan berlari ke arah kamar mandi. Rasanya ia merasakan lengket di bagian bawahnya.


Daniel pun ikut bangun dan mengikuti sang istri ke Kamar mandi. Ia sepertinya belum puas dan ingin melanjutkannya di tempat yang lain.


🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2