
Ciiiiiit
Daniel Smith menghentikan Maybach 62 nya dengan terburu-buru hingga hampir saja menabrak beberapa orang yang sedang hilir mudik di depan ruang Emergency Room di Rumah Sakit itu.
Dengan cepat ia menggendong tubuh Suzanne yang sedang tak sadarkan diri itu ke ruangan ER. Suaranya sudah serak karena berteriak agar semua orang datang menolong gadis yang sedang ia bawa.
Elmira Omar Yusuf yang bertugas sebagai dokter disana langsung menghampiri Daniel sang sepupu,
"Ada apa kak Daniel siapa yang sakit?" tanyanya dengan wajah khawatir. Gadis cantik putri uncle Omar itu menatap sosok pria dihadapannya dari atas kebawah dengan wajah yang ikutan was-was.
Setelan jas rapih Daniel sudah sangat kotor oleh darah Suzanne Sean Kingston.
"Selamatkan Suzanne, Mira!" teriak Daniel dengan wajah kusut.
"Iya kak. Kamu tenang dulu ya. Bersihkan dirimu di Toilet." ujar Elmira kemudian meninggalkan Daniel dan segera masuk ke ruang ER dengan langkah cepat.
Seorang gadis cantik ia dapati di atas ranjang Rumah Sakit itu sudah berganti pakaian pasien. Rupanya sisa-sisa kecelakaan berdarah itu sudah dibersihkan oleh para perawat.
"Ia banyak kehilangan darah dokter. Dan kami sudah mengubah bank darah untuk mendapatkan bantuan transfusi untuk darahnya tetapi ternyata stoknya sudah habis."
"Oh tidak. Ini tidak boleh terjadi Lucy. Cari cepat informasi dimana kita bisa mendapatkan darah itu sebelum kita mengambil tindakan berikutnya.
"Baik dokter." jawab Lucy Watson, sang asisten dokter Elmira yang sangat bisa diandalkan. Langkahnya cepat dan akurat. Gadis itu segera keluar ruangan untuk menghubungi pihak Rumah Sakit lain yang kemungkinan mempunyai golongan darah yang sama dengan pasien yang dibawa oleh Daniel Smith.
Sedangkan Elmira segera memeriksa data-data kesehatan pasien langsung berlari ke Toilet dimana ia tadi berpisah dengan Daniel sang sepupu.
Ia tidak tahu ada hubungan apa pasien ini dan juga pria itu tetapi dilihat dari kekhawatiran yang sangat dalam dari Daniel maka bisa dipastikan pria itu mempunyai perasaan lebih pada gadis ini.
"Daniel cepat keluar!" teriak Elmira saat berada di depan pintu Toilet. Daniel Smith yang baru mencuci wajahnya dengan air dingin serta membuka setelan jas dan kemejanya langsung panik. Pria itu takut terjadi sesuatu pada Suzanne sampai Elmira sendiri yang menyusulnya ke tempat itu.
"Ada apa Mira? Apa yang terjadi pada Suzanne!" tanya Daniel dengan wajah tegang.
"Golongan darahmu sama dengan gadis itu. Dan ia butuh darah sekarang ini. Ayo cepat beri bantuan padanya!" Daniel segera keluar dari sana dan mengikuti langkah Elmira ke ruangan di mana Suzanne berada.
__ADS_1
Tak ada kata yang keluar dari mulutnya yang tiba-tiba beku hanya dengan melihat gadis cantik itu terbaring tak berdaya dalam keadaan yang sangat menyedihkan seperti itu.
Ia berbaring disamping ranjang Suzanne Sean Kingston dengan tatapan tak lepas dari wajah gadis itu.
"Selamat Suzanne ya Allah." ujarnya pelan saat operasi dilakukan di depan matanya sendiri karena ia sudah tidak ingin keluar dari ruangan itu meskipun pimpinan Ruang ER, Elmira Omar Yusuf memaksanya keluar.
Entah kenapa ia tak ingin berpisah dengan gadis manja itu meskipun hanya sedetik. Ia duduk dengan tenang di dalam ruangan itu setelah menghubungi Harry Sean Kingston dan juga semua anggota keluarganya.
Cukup lama ia berada dalam ruangan itu sampai kemudian bahunya ditepuk oleh Elmira kalau operasi di bagian kepala Suzanne sudah berlalu dan sukses.
"Tunggulah di luar kak. Aku tahu kamu sangat khawatir." ujar Elmira tersenyum. Lain waktu ia pasti akan mendapatkan informasi tentang gadis itu.
"Baiklah Mira. Aku akan menunggu di luar." ujarnya kemudian meninggalkan ruangan itu.
"Daniel, bagaimana keadaan Suzanne nak?" tanya Aisyah saat menjumpai putranya baru keluar dari Ruang ER itu. Tampangnya yang lesu membuat Aisyah semakin khawatir.
"Operasinya sudah selesai Mom. Tetapi kita harus menunggu sampai ia sadar dari anestesi itu." jawab Daniel seraya memeluk sang Mommy.
Pria itu kini merasa sangat bersalah karena memaksa Suzanne untuk mengemudikan mobilnya dan berakhir seperti ini.
Daniel tersenyum kemudian mengangguk. Ia melepaskan pelukannya pada sang Mommy kemudian segera melangkah ke depan pintu Emergency Room itu.
"Tuan Vedran Sean Kingston dalam perjalanan kemari dengan istrinya. Mereka sudah mendapatkan kabar ini dari Harry." ujar Alexander Smith seraya menaruh benda pipih itu ke dalam saku jasnya.
"Maafkan Aku Dad. Aku ternyata tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku bukan pengawal yang sesuai dengan yang diharapkan semua orang." ujar Daniel dengan tangan menyugar rambutnya ke belakang.
"Kamu tidak salah Daniel. Itu kamu lakukan pasti karena ingin menyelamatkan nyawa kalian berdua." ujar Alexander Smith bermaksud menghibur putranya.
Tap
Tap
Tap
__ADS_1
Mereka bertiga mengalihkan pandangan mereka ke arah lorong Rumah Sakit. Beberapa orang datang dengan langkah cepat dan terburu-buru menuju tempat mereka sekarang berada.
"Hai Tuan Kingston. Lama tak berjumpa dengan anda." sapa Alexander Smith seraya memeluk pria yang masih sangat tampan diusianya yang tidak muda lagi itu.
'Hai Tuan Smith. Hampir puluhan tahun ya? dan anda masih sangat kuat." ujar Vedran seraya memeluk tubuh mantan penguasa dunia hitam di Moskow itu. Mereka saling menyapa dan mengobrol ringan khas laki-laki dengan melibatkan Daniel Smith diantara obrolan mereka.
Tetapi tidak bagi Aisyah dan juga Shania, mereka berdua saling berpelukan dengan tangisan.
Shania tidak berhenti menyalahkan dirinya yang telah mengizinkan Suzanne untuk keluar rumah.
"Aku menyesal karena Akulah yang membujuk Daddynya agar mendapatkan izin, oh ya Allah semoga Suzanneku baik-baik saja." ujar Shania dengan airmata yang terus menggenang di pelupuk matanya.
"Jangan katakan itu Nyonya Kingston. Semua yang terjadi di Dunia ini pastinya sudah diatur oleh Tuhan. Sungguh tidak ada lagi yang kebetulan."
"Kita berdoa saja putrimu baik-baik saja." lanjut Aisyah menenangkan.
"Ah ya, aku harap juga seperti itu Nyonya Smith." ujar Shania seraya melangkah cepat ke arah pintu ER itu. Tak lama kemudian pintu itu pun terbuka.
Semua orang yang ada disana menarik nafas lega karena Suzanne sudah bisa mereka temui meskipun belum sadar sepenuhnya.
"Pasien akan kami bawa ke Ruang perawatan ya," ujar Lucy Watson seraya memimpin dibagian depan saat ranjang yang ditempati oleh Suzanne didorong oleh beberapa perawat ke arah kamar perawatan VVIP yang sudah diatur oleh Elmira Omar Yusuf.
Daniel Smith mengikuti langkah-langkah mereka semua dari jauh. Tak berhenti ia mengucapkan syukur karena gadis itu sudah melewati masa kritisnya.
🍀
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
Eits, sembari menunggu update berikutnya, yuks mampir dulu di sini. Di karya teman othor nih.
__ADS_1