Asmara Sang Pengawal

Asmara Sang Pengawal
# Part 39 Asmara SP


__ADS_3

Sebuah pesan dari Daniel Smith yang diteruskan dari Suzanne berupa Map Piha Beach membuat Vedran Sean Kingston memerintahkan semua anggotanya untuk menyisir pantai itu dan juga jalanan menuju tempat itu.


Rencananya ia akan tiba dengan menggunakan Helikopter untuk bertemu langsung dengan pria bernama dengan Javier Mascherano beberapa saat lagi.


Akan tetapi berita terkini yang ia dengar adalah bahwa diperbatasan utara kota Auckland terjadi aksi tembak menembak antara Mongrel Mob dan Black Power membuatnya yakin pelaku itu ternyata dilindungi oleh musuh bebuyutannya.


"Robin, berani kamu bermain-main lagi denganku Hah?!" geramnya dengan rasa marah yang tidak terbendung.


Ia pikir pria tua itu sudah tidak ingin lagi mengusik ketenangan hidupnya setelah belasan tahun tidak pernah terlibat lagi masalah.


"Hancurkan Black Power tanpa sisa!" titahnya pada anggotanya yang masih berada di lokasi konflik. Ia sendiri ingin tahu kabar terkini dimana posisi Javier saat ini membawa Suzanne sang putri.


Pria itu tidak langsung kembali ke Rumahnya karena takut Shania khawatir dan curiga kenapa ia batal berangkat ke Luar negeri padahal mereka berdua sudah melakukan drama berpamitan yang cukup menguras peluh.


Cukup para pria yang harus menyelesaikan masalah ini sampai tuntas. Ia juga meminta Doyle agar menyuruh Ramanda untuk tutup mulut dan tidak membicarakan hal ini pada siapapun termasuk Shania.


Pria itu takut dan khawatir trauma Shania yang pernah diculik olehnya kambuh lagi karena hal ini. Harry yang sudah tahu aturan ini juga menutup mulutnya ketika ia tiba di rumah mengantarkan Elmira.


Pria itu berusaha untuk tidak bertemu Mommynya agar tidak ada pertanyaan dimana keberadaan Suzanne yang belum juga kembali ke Rumah padahal waktu sudah sore.


"Mira, kamu masuk ke kamarmu dan jangan katakan apa pun tentang apa yang sudah terjadi di tempat pertemuan mu tadi, Okey?" ujar Harry saat ia sudah sampai di depan pintu Mansionnya. Gadis itu hanya mengangguk kemudian segera berlalu dari hadapan pria itu.


Akan tetapi Harry langsung meraih tangan Elmira karena tidak membiarkannya pergi begitu saja. Sepanjang perjalanan pulang tadi, mereka berdua hanya diam karena insiden kecupan singkat itu. Dan sekarang Harry jadi merasa sangat bersalah.


"Maafkan Aku Elmira, sungguh Aku tadi terlalu bahagia karena kamu tidak apa-apa. Aku tidak bermaksud merendahkanmu dengan sikapku yang seperti itu. Maafkan Aku ya?" Harry menatap Elmira dengan tatapan memohon. Ia tentunya tidak ingin pergi kalau gadis itu masih mendiamkannya.


"Hati-hati Harry. Kamu bisa pergi sekarang. Dan Aku harap kamu pulang bersama dengan Daniel dan juga Suzanne dengan selamat." jawab Elmira dengan senyum diwajahnya.


Ia sudah memaafkan pria itu yang sudah mencuri ciuman pertamanya. Yang tidak bisa ia lakukan adalah, ia justru tidak bisa memaafkan hatinya yang mengharapkan lebih dari pria itu.


"Terimakasih Mira, Aku akan kembali dan kita akan membahas ini lagi nanti, okey?" Harry mengecup tangan gadis yang masih berada dalam genggamannya. Hal itu langsung membuat tubuh Elmira serasa dialiri arus pendek dan membuat hatinya semakin berbunga-bunga.


Harry melambaikan tangannya dan pergi dari Mansion milik keluarganya setelah berhasil membuat Elmira tersenyum lagi padanya. Saat ini tujuannya adalah menyusul Daniel Smith yang katanya sudah berhasil menemukan jejak pria itu.

__ADS_1


🍀


Daniel Smith meningkatkan kecepatan Range Rover Evoque milik keluarga Vedran Sean Kingston yang ia pakai saat ini.


Berjarak sekitar dua ratus meter dengan mobil yang dikendarai Javier bersama dengan Suzanne membuatnya selalu waspada untuk tidak kehilangan jejak.


Jalanan yang cukup ramai di depan sana membuatnya sedikit kewalahan mengejar pria itu. Ia hanya bisa berharap Ada Harry dan juga Vedran Sean Kingston yang bisa menahan pergerakan mobil itu dari arah yang berlawanan.


"Apa sebenarnya maksudmu Javier? siapa kamu sebenarnya?" tanya Suzanne saat mobil yang membawanya melambat. Kemacetan di tengah jalan ini sepertinya cukup menggangu perjalanan mereka saat ini.


Javier tidak menjawab. Ia hanya berusaha menghubungi lagi orang-orang yang ia kenal untuk menyediakannya sebuah pesawat jet pribadi atau kendaraan apa saja agar ia bisa membawa Suzanne keluar dari kota Auckland secepatnya.


"Javier! katakan padaku. Apa yang kamu inginkan dariku brengsek!" teriak gadis itu lagi seraya memukul kepala Javier dari belakang.


"Awwwww!" tanpa sadar Javier mengadu kesakitan. Ia mulai terpancing amarahnya dan langsung menarik tangan Suzanne dan memutarnya hingga gadis itu berteriak kesakitan.


"Awwww. Kamu menyakitiku bajingan! Aku benci padamu!" Suzanne berteriak dan menangis karena tangannya ia rasakan seperti patah karena putaran dari tangan Javier.


"Kamu jahat Javier! kenapa kamu melakukan ini padaku hah?!" Suzanne kembali berteriak diiringi tangisan di wajahnya.


"Kamu yang jahat Suzanne. Gara-gara kamu Kakakku jadi mendapatkan hukuman mati di Moskow. Dan sekarang kamu juga akan Aku buat menderita seperti Kakakku!" geram Javier tanpa mengalihkan pandangannya dari arah jalanan dihadapannya.


"Apa? Apa maksudmu Javier? jadi kamu sudah merencanakan hal ini sejak dari Moskow?" Suzanne menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Kalau iya kenapa? kamu mau marah? Aku yang seharusnya marah dan membunuhmu sejak kita pertama bertemu di Moskow saat itu." Suzanne merasakan amarah dan takut menyergap dari dalam dadanya.


Gadis itu benar-benar tidak bisa lagi berbuat apa-apa sekarang. Mati adalah pilihan terbaik saat ini tetapi ia tidak ingin mati ditangan pria itu.


Kembali ia berdiri dari duduknya bersiap untuk memukul kepala Javier lagi tetapi ia terjatuh karena kendaraan yang sedang ditumpanginya sepertinya sedang diserempet dari arah samping.


Brakk


"Awwww!" Gadis merasakan tubuhnya membentur dinding bagian dalam mobil. Bahaya sepertinya bukan dari dalam mobil ini saja tetapi berasal dari luar juga.

__ADS_1


"Oh Sial!" Suzanne mendengar Javier mengumpat dan menambah laju mobilnya dengan kecepatan ganda.


Suzanne yang mulai ketakutan dengan cara pria itu mengemudi segera memasang seatbeltnya dan menutup matanya.


Brakkk


"Oh ya Allah, Ada apa lagi ini?" ujar gadis itu ketakutan.


Door


Javier mengeluarkan satu tangannya lewat jendela mobil untuk menembak Range Rover Evoque yang sedang berjarak Kurang lebih dua meter dari jaraknya sekarang.


Door


Door


Suzanne menutup telinganya dengan telapak tangannya. Bunyi tembakan dari pistol Javier yang berusaha menembak mobil yang menyerempet dari arah samping itu membuatnya gemetar ketakutan.


Daniel Smith menyeringai kejam. Peluru Javier tidak akan bisa menembus body mobilnya. Dan sekarang ia ingin bermain-main dengan pria brengsek itu.


Untuk saat ini Ia hanya akan mengikuti kemana Javier membawa mobil itu.


Ia tidak boleh gegabah membalas dengan mengeluarkan senjatanya juga. Ada Suzanne di dalam mobil itu dan keselamatan gadis itu harus ia pertimbangkan sebelum meledakkan mobil Javier dengan senjata yang sudah siap ditangannya.


🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Kopi kopi kopi, bunga bunga bunga, vote Vote Vote hehehe


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2