
"Aku ingin pulang Mom. Tubuhku lelah sekali," Rajuk Suzanne dengan nada manja. Gadis itu benar-benar menunjukkan kalau ia tidak mau lagi tinggal di Kamar perawatan Daniel Smith. Ia diabaikan dan dianggap tidak ada oleh pasien yang sedang tidak berdaya itu.
Hanya Elmira dan juga Harry tempat pria itu meminta tolong jika menginginkan sesuatu. Dirinya hanya diam mematung di dalam kamar itu tanpa melakukan apapun. Ia merasa menjadi orang yang tidak berguna saat ini.
"Aku pulang sendiri saja," ujarnya dengan nada kesal karena sepertinya keluarganya masih ingin berada di sana menemani Daniel. Gadis itu pun keluar dari kamar perawatan itu seraya menarik tangan sang Daddy.
"Berikan kunci mobilmu Dad. Aku ingin beristirahat di kamarku saja. Aku sangat lelah," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Ia berusaha mati-matian menahan airmatanya yang terasa ingin tumpah saat itu juga.
Vedran Sean Kingston tersenyum kemudian meraih putrinya dalam pelukannya. Pria yang masih sangat tampan diusianya yang tidak muda lagi itu lantas berucap, " Tunggu di sini. Aku akan memanggil Mommymu, okey?"
"Iya Dad," jawab Suzanne berusaha untuk tersenyum. Ia kemudian memukul-mukul pipinya berusaha untuk tidak terlihat akan menangis.
"Hey, ada apa denganmu sayang?" tanya Vedran dengan perasaan curiga. Suzanne langsung tersenyum lebar dan menjawab dengan mengangkat jempolnya.
"Aku tunggu Daddy di mobil. Berikan kuncinya padaku."
"Hum, baiklah. Kami tidak akan lama. Hanya berpamitan pada Daniel."
"Iya Dad. Harus cepat ya tidak pakai lama." Suzanne menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajahnya memberi peringatan pada sang Daddy. Vedran pun melangkah ke dalam kamar perawatan itu untuk memanggil istrinya.
Pria itu hanya tersenyum melihat ekspresi putrinya. Ia tahu ada mendung di wajah gadis cantik yang lahir merupakan buah cintanya dengan Shania Galdwin, makanya ia ingin segera membawanya pergi dari tempat itu agar bisa menghiburnya.
Suzanne memandang punggung sang daddy memasuki kamar perawatan Daniel. Hatinya kembali terasa nyeri, tetapi ia berusaha untuk tegar. Ia merasa perasaanya sedang dipermainkan oleh pria yang bernama Daniel Smith itu.
__ADS_1
Dengan menarik nafas dalam-dalam ia langsung melangkahkan kakinya ke arah Valet Rumah Sakit di bagian basemen gedung berlantai puluhan itu dengan menggunakan Lift.
Tring
"Suzanne?!" tegur seseorang dari depan pintu lift saat kotak besi itu terbuka. Suzanne yang berniat untuk masuk ke dalam alat transportasi antar lantai gedung itu langsung membatalkan langkahnya.
"Oh hai, Kamu ElRasyid 'kan?" balas Suzanne dengan berusaha mengingat pria muda dihadapannya. Gadis itu juga menyapa dua orang yang baru keluar dari lift dengan senyum diwajahnya yang nampak sembab.
"Aku senang sekali karena kamu mengingatku. Bagaimana dengan Onty dan Uncle Alex? Apakah kamu juga ingat?" ElRasyid tersenyum senang sembari menunjuk dua orang dewasa di hadapan mereka berdua.
"Tentu saja Aku ingat. Hai uncle, onty. Senang berjumpa dengan kalian." sapa Suzanne seraya menampilkan senyum ramahnya.
Alex dan Aisyah serta ElRasyid baru saja tiba di Rumah Sakit itu dengan mengunakan pesawat jet pribadinya. Keadaan Daniel yang katanya kritis membuat mereka tidak menunda-nunda lagi untuk segera tiba di Kota Auckland malam itu juga.
"Bagaimana kabar Daniel, sayang?" tanyanya dengan tatapan penuh rasa sayang pada gadis yang sangat disukai putranya itu. Suzanne tersenyum kemudian menjawab, "Daniel sudah sadar setelah operasinya beberapa jam yang lalu, Onty."
"Oh, Alhamdulillah. Dan kamu mau kemana?"
"Aku sedang butuh istirahat sejenak Onty. Maafkan Aku ya karena tidak menemani kalian ke kamar Daniel."
"Oh iya sayang. Tidak apa-apa. Kamu bisa istirahat. Tapi nanti pulang sama siapa? kalau tidak ada ElRasyid bisa mengantarmu, tidak masalah 'kan El?"
"Oh tentu tidak Onty. Aku juga masih ingin bersama dengan Suzanne," jawab ElRasyid cepat. Putra Omar dan Anna itu sudah lama menyukai Suzanne. Jadi ia sangat senang dengan pengaturan ini.
__ADS_1
"Ah maafkan Aku, tetapi ada Daddy dan Mommy yang akan pulang bersamaku." Suzanne tersenyum canggung karena tidak nyaman telah menolak bantuan dari saudara kembar dari Elmira itu.
"Hai Alex, kamu ternyata cepat sampai ya," sapa Vedran Sean Kingston yang baru saja tiba di tempat itu bersama dengan Shania sang istri.
"Hum, ya. Kami sangat mengkhawatirkan Daniel." Alex meraih tangan istrinya yang sangat khawatir melebihi dirinya.
"Maafkan Kami ya, karena masalah ini diakibatkan oleh putri kami." Shania memandang wajah Aisyah dengan tatapan tak nyaman. Dua kali masalah besar terjadi pada anak-anak mereka yang justru membuat mereka berdua jadi akrab.
"Jangan katakan itu ya, tidak ada yang pernah menginginkan masalah seperti ini terjadi. Kita berharap semuanya baik-baik saja. Daniel sehat kembali seperti semula." Aisyah tersenyum kemudian memeluk Shania dengan perasaan sayang.
"Baiklah, kami akan pulang. Suzanne sedang tidak dalam kondisi baik saat ini. Ia perlu istirahat." Vedran Sean Kingston segera berpamitan kepada tiga orang yang baru tiba dari Moskow itu.
"Ah iya silahkan. Kamu juga akan melihat kondisi Daniel. Aku tahu putraku pasti kuat seperti Daddynya, hehehe." Alex berucap seraya terkekeh.
Mereka semua tertawa kecuali Suzanne. Rupanya gadis itu masih sangat sakit hati dengan perlakuan Daniel padanya.
🍀
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1