Asmara Sang Pengawal

Asmara Sang Pengawal
# Part 24 Asmara SP


__ADS_3

"Apa ada yang akan datang menjemputmu Ramy?" tanya Suzanne sesaat setelah mereka berdua keluar dari kelas. Mereka sekarang sedang berjalan ke arah gerbang Universitas.


"Aku rasa tidak. Aku akan pulang bersamamu jika kak Harry menjemputmu." jawab Ramanda tersenyum.


"Kak Harry sepertinya masih punya urusan pekerjaan. Tadi saja ia sampai sangat kesal karena hampir terlambat dalam pertemuan bisnisnya gara-gara Aku."' ujar Suzanne seraya mengangkat kedua bahunya.


"Kalau begitu Aku akan menghubungi Daddy atau Mommy untuk datang menjemput kita, bagaimana?" Ramanda memberikan saran seraya mengacungkan handphonenya.


Suzanne langsung tersenyum dengan pikiran licik di dalam kepalanya.


"Jangan Ramy. Kita pulang naik taksi tetapi sebelumnya kita hanging out dulu, bagaimana?" tanyanya dengan menaik turunkan alisnya. Ramanda tersenyum kemudian mengangkat jempolnya.


"Aku setuju. Sekali-kali kita healing-healing tanpa kecerewetan Mommy dan Daddy, hihihi." ujar Ramanda seraya menutup mulutnya cekikikan. Ia tampak sangat bahagia dengan ide Suzanne.


"Kalau begitu kita tunggu di halte depan Universitas, ayok." Suzanne menarik tangan gadis itu agar segera keluar dari lingkungan Universitas.


Ramanda pun mengikuti langkah Suzanne dengan segala khayalan indah dikepalanya.


Piip


Langkah Mereka berdua terhenti oleh bunyi klakson mobil dari arah samping mereka berdua.


"Suzanne, Ramy, ayo naik. Aku bisa mengantar kalian pulang," tegur seseorang dari dalam mobil itu. Kaca mobil yang pria itu buka langsung menampakkan wajah pemilik mobil itu.


Dua gadis itu seketika tercekat kaget, "Javier!" seru Suzanne dan Ramanda bersamaan.


"Iya. Ini Aku. Ayo naik." jawab pria itu kemudian turun dari mobilnya. Ia langsung membukakan pintu untuk kedua gadis cantik itu. Suzanne dan Ramanda saling bertatapan kemudian tersenyum.


Mereka berdua sangat senang karena mendapatkan tumpangan sebelum sampai ke Halte yang berjarak sekitar 30 meter lagi di depan.


Mereka pun naik ke mobil pria itu dengan segala rencana di kepala mereka berdua.


"Terimakasih banyak Javier. " ujar Suzanne tersenyum.


"Ah, iya sama-sama Suzanne." jawab pria itu kemudian mulai menghidupkan mesin mobilnya.


"Apakah ini kebetulan Javier? kenapa kamu masih berada di tempat ini?" tanya Suzanne dengan wajah penasaran. Ia merasa heran sendiri karena pria itu tiba-tiba saja berada di tempat ini.


"Aku tadi punya urusan di sekitar sini. Dan Aku pikir Aku ingin kamu menemaniku berkeliling kota Auckland, kamu mau 'kan?" Javier menatap Suzanne lewat kaca kecil di atas kepalanya.

__ADS_1


Suzanne dan Ramanda kembali saling tatap kemudian tersenyum.


"Boleh. Tapi tidak bisa lama-lama. Mungkin hanya 2 atau 3 jam saja, Javier." jawab Suzanne tersenyum kemudian melanjutkan,


'"Perlu kamu tahu kalau kami berdua tidak biasa keluar Rumah selain untuk belajar." jawab Suzanne yang langsung dijawab dengan seringaian di bibir pria itu.


"Tidak masalah Nona-nona Auckland. 1 atau 2 jam kurasa akan cukup. Aku sudah sangat senang dengan kebaikan hati kalian berdua." jawab pria itu kemudian melajukan mobilnya ke arah sebuah tempat wisata di kota itu.


"Kita akan kemana Javier?" tanya Suzanne seraya memperhatikan keadaan jalanan yang sedang mereka lewati. Sebuah jalanan yang pernah Suzanne dan Ramanda lewati bersama keluarga mereka.


"Aku ingin kalian menemaniku mengunjungi Sky Tower," jawab Javier tersenyum. Ia ingin melakukan sesuatu yang luar biasa pada Suzanne dan sahabatnya di tempat itu.



"Wow, itu tempat yang sangat bagus di kota ini Javier, untuk sebagian orang yang tidak takut ketinggian, pergi ke sebuah destinasi wisata yang tinggi tentu punya kepuasaan tersendiri." timpal Ramanda dengan senyum cerahnya.


"Sejauh mata memandang, kita akan disuguhkan pemandangan yang cantik dari atas puncak. Kamu pasti sudah tahu hal itu 'kan?" lanjut gadis itu semakin bersemangat.


Suzanne hanya bisa tersenyum tipis lalu menimpali perkataan Ramy, " Ya, menara ini punya satu spot menarik dimana kita bisa menikmati pemandangan dari atas ketinggian."


"Itulah yang Aku inginkan. Aku ingin melihat seantaro Kota Auckland yang cantik dan memukau seperti yang selama ini Aku dengar." imbuh Javier tanpa melepas pandangannya dari jalanan dihadapannya.


"Yup betul sekali. Menara pencakar langit ini adalah menara tertinggi di negara ini lho, Javier." Suzanne semakin menggebu-gebu menjelaskan kelebihan destinasi wisata ini pada pria dari Moskow ini.


"Dan di sekitar tempat ini adalah tempat Mommyku dan Onty Alma bekerja sebelum menikah," lanjut Suzanne dengan mata berbinar.


Gadis itu tiba-tiba merasakan hatinya menghangat. Shania dan Alma sering bercerita pada keduanya kalau mereka adalah mantan kasir di sebuah Restoran di dekat Sky Tower.


Dan juga ditempat itulah pertama kalinya mereka ditemukan oleh dua pria yang sudah menikahi kedua Perempuan itu. Ramanda tersenyum karena ia juga mengingat kisah itu dari Alma sang Mommy.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di tempat itu. Di sore hari itu ternyata pengunjung masih sangat banyak. Karena Menara Pencakar Langit itu cocok untuk dijadikan tempat selfie. Tak heran jika banyak wisatawan yang menjadikan Menara Pencakar Langit sebagai spot favorit mereka.


"Kita berfoto dulu ya Javier," ujar Suzanne sebelum mereka memasuki tempat itu.


Gadis itu ingin mengirimkan foto-foto mereka bertiga kepada Harry sang kakak. Supaya pria itu tahu kalau ia dan Ramanda juga butuh untuk healing-healing.


Cekrek


Cekrek

__ADS_1


Beberapa gambar ia kirimkan ke nomor handphone Harry kemudian segera mengikuti langkah Javier untuk masuk ke menara itu. Pria itu sudah membayar tiket masuknya.


"Suzanne, kamu tidak masalah naik lagi di menara ini?" bisik Ramanda dengan suara pelan takut kalau Javier mendengar percakapan mereka berdua.


Suzanne menghentikan langkahnya dan menatap Ramanda sang sahabat. Ia sangat mengerti pertanyaan gadis itu tetapi demi menyenangkan temannya yang baru tiba dari Moskow, ia rela menahan takut dan traumanya jika berada di tempat yang sangat tinggi.


"Tak apa Ramy, Aku akan berusaha melawan trauma ini. Kata Mommy jangan selalu menghindari penyebab trauma karena itu bisa membuat kita semakin terpuruk. Sebaiknya kita hadapi." jawab Suzanne seraya mengingat pesan sang Mommy yang juga mempunyai trauma di masa lalu pada Daddynya.


"Hem, baiklah. Tapi nantinya jangan membuatku repot ya," ujar Ramanda seraya menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan wajahnya.


Suzanne langsung terbahak-bahak melihat ekspresi sahabatnya itu.


"Kan ada Javier Ramy, kita bisa merepotkannya, hihihihi." jawab Suzanne seraya menutup mulutnya lucu.


"Hush! dia orang asing Suzanne. Jangan sampai ia mengambil keuntungan darimu." tegur Ramanda dengan mata melotot tajam.


"Iya. Iya cerewet. Kalau rasa takut itu datang. Kan ada kamu yang akan memelukku, iyyakan?" Ramanda tersenyum kemudian mengangkat jempolnya.


Tak terasa mereka sudah sampai di puncak menara dalam beberapa menit saja. Sebuah kotak besi yang mengantarkan mereka ke atas tanpa harus melalui tangga yang sangat tinggi.


Javier langsung mengajak Suzanne untuk melihat hamparan kota Auckland melalui jendela kaca besar di atas menara itu.


"Kemarilah Suzanne, tunjukkan padaku di mana lokasi Universitasmu dari arah sini." ujar Harry seraya mengajak gadis itu untuk melihat kebawah tanpa menggunakan teropong.


Suzanne melangkah mendekat tetapi seketika tubuhnya jadi gemetar takut. Ia menutup matanya rapat-rapat karena jantungnya tiba-tiba berdegup sangat kencang. Ia phobia akan ketinggian.


Sedangkan Javier tersenyum samar karena akan menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan Suzanne Sean Kingston.


🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


Eits, sebelum nutup nih, othor mau rekomendasikan karya teman ini. Mampir yak.. dijamin oke punya.


__ADS_1


__ADS_2