
Daniel Smith mondar mandir tidak jelas di dalam kamarnya karena sang Daddy menunggu hasil sketsa wajah pembunuh itu sekarang juga.
Sementara gadis manja yang bernama Suzanne Sean Kingston itu malah dengan sengaja membuatnya kesal dengan tidak mau keluar dari kamar Asma sang adik.
Pria itu akhirnya keluar dari kamarnya dan melangkahkan kakinya ke arah kamar Asma. Bagaimanapun juga saat ini juga ia harus memaksa Suzanne untuk menceritakan ciri-ciri wajah pembunuh berdarah dingin itu.
"Buka pintunya Asma!" teriaknya seraya menggoyang-goyangkan handle pintu karena ia sudah mengetuk berkali-kali tetapi tidak ada seorang pun dari penghuni kamar itu yang membuka pintunya.
Ceklek
Asma muncul dihadapannya dengan wajah kusut khas bangun tidur.
"Ada apa Kak Daniel? bisakah kamu memberiku waktu untuk beristirahat?" tanya gadis itu seraya menguap.
Daniel mengabaikan perkataan adiknya ia malah melangkah masuk ke dalam kamar itu untuk mencari gadis manja tapi sangat cantik Suzanne Sean Kingston.
"Dimana gadis itu?" tanya Daniel seraya memandang keseluruhan ruangan itu dengan mata awas.
"Suzanne sedang mandi. Tunggu saja disini. Aku mau melanjutkan tidurku." jawab Asma kemudian melangkah ke arah ranjang empuknya dan melemparkan tubuhnya ke atasnya.
Daniel pun duduk di salah satu sofa yang ada di dalam kamar itu dengan mata tak lepas pada pintu kamar mandi. Ia menunggu gadis itu keluar dan segera menyelesaikan tugasnya.
Dan tak lama kemudian. Orang yang ditunggu-tunggu itu pun keluar dengan tubuh yang sangat segar. Gadis cantik itu hanya keluar dengan mengenakan handuk putih pendek dengan rambut yang masih sedikit basah.
Daniel Smith merasakan tubuhnya bergetar hebat. Dadanya berdebar kencang. Penampilan Suzanne yang kekanakan kini berganti menjadi sosok yang sangat menarik dimatanya.
Entah kenapa matanya sangat betah memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh gadis itu. Dan yang parah adalah sesuatu dari dalam dirinya berkedut saat gadis itu membuka handuknya dengan santai dan memakai underwearnya di depan wajah Daniel yang berjarak hanya sekian meter.
Gadis itu sungguh tidak menyadari kalau ada sosok lain di dalam kamar itu. Dan semuanya ia sajikan dengan gratis pada pria yang sangat menyebalkan baginya itu.
Daniel Smith terpaku dan tidak tahu harus berbuat apa. Jika ia bergerak atau mengeluarkan bunyi maka dipastikan gadis yang manja dan sangat cantik itu pasti akan berteriak dan semua orang di rumah itu jadi tahu apa yang sedang terjadi.
Akhirnya ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa kemudian menutup matanya. Ia akan berakting seperti sedang tertidur jika saja gadis itu melihatnya ada di sana.
__ADS_1
Dan benar saja Suzanne tersentak kaget saat melihat sosok pria yang sedari tadi menganggu pikirannya itu ada di dalam kamar itu.
"Sejak kapan pria menjengkelkan ini ada di dalam kamar ini?" tanyanya dengan perasaan khawatir. Ia menatap keseluruhan tubuhnya yang sudah berpakaian lengkap plus hijab yang ia gunakan.
"Semoga ia tidak melihatku berganti pakaian seperti tadi, Ya Allah." ujarnya dengan harap-harap cemas. Ia pun melangkahkan kakinya ke arah sofa tetapi Daniel Smith tidak bergerak.
"Oh kamu sedang tidur? Alhamdulillah. Pasti dia sudah lama tidak tidur dengan baik hingga baru saja tiba dia sudah terlelap seperti ini." ujar Suzanne seraya melambaikan tangannya di depan wajah Daniel Smith.
Karena tidak ada pergerakan sama sekali. Ia pun segera keluar dari kamar Asma meninggalkan dua orang bersaudara itu yang sedang tertidur. Ia ingin keluar dari rumah besar itu untuk melihat-lihat keadaan sekitar.
Daniel Smith membuka matanya dengan dada yang masih berdebar. Penampakan tubuh Suzanne yang polos di depan matanya kini menggangu kestabilan hatinya.
Perlahan ia menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia takut sisi dirinya yang lain akan membuatnya lupa diri.
Pria itu pun segera keluar dari kamar itu dan berniat mencari gadis itu untuk menyelesaikan tugasnya.
Alexander Smith menatapnya dengan tatapan tajam saat ia sudah sampai di ruang tamu rumah besar itu. Disana ternyata Polisi dan beberapa orang lainnya yang ia kenal ada disana.
Pria paruh baya itu menunggu pekerjaan puteranya yang ternyata tidak dilaksanakannya dengan baik. Sampai detik ini informasi yang diinginkan oleh pria itu tak diserahkan oleh Daniel Smith.
"Sekarang, bawa gadis itu kemari Daniel. Kita akan
segera membawanya ke Kantor Polisi untuk mengambil kesaksiannya." titah Alexander Smith yang harus dilaksanakan oleh putranya sekarang juga.
"Baiklah Dad." ujar pria itu lalu segera berlalu dari tempat itu. Ia pun menanyakan keberadaan gadis itu kepada kepala pelayan di dalam Rumahnya.
"Nona Suzanne sedang berada di halaman samping rumah ini Tuan." jawab kepala Pelayan itu dengan senyum diwajahnya. Ia sudah banyak tahu apa yang terjadi di rumah ini dalam waktu sehari ini.
"Oh iya baiklah. Terima kasih banyak." Daniel segera melangkahkan kakinya ke arah tempat yang ditunjuk oleh kepala Pelayan itu.
Gak mengambil banyak waktu, Ia pun sampai di halaman samping dan langsung menemukan gadis manja itu sedang duduk di dalam taman bunga bersama dengan ElRasyid sang sepupu.
"Hey Suzanne, ayo cepat ke dalam rumah. Mereka semua sudah menunggumu." ujarnya seraya menarik gadis itu agar segera mengikutinya.
__ADS_1
ElRasyid yang melihat tingkah sepupunya itu begitu kasar pada Suzanne yang baru dikenalnya itu merasa sangat tak suka dengan cara Daniel memperlakukan seorang gadis.
"Daniel, bersikaplah sopan sedikit, Okey?!" tegur ElRasyid dengan wajah tenangnya. Daniel hanya tersenyum miring kemudian melanjutkan menarik gadis itu untuk meninggalkan Taman.
"Daniel. Kamu tidak perlu menarik tanganku seperti itu. Ini kan sakit." gerutu Suzanne seraya memperlihatkan pergelangan tangannya yang dicengkeram kuat oleh Daniel sampai menimbulkan warna merah.
"Manja!" ujar Daniel Smith kemudian melepaskan cengkramannya pada gadis cantik itu.
"Nah sekarang kita harus cepat ke Ruang Tamu karena ada polisi yang sedang menunggumu di sana." lanjut pria itu dengan berusaha menghindari tatapan gadis itu padanya.
"Iya." jawab Suzanne singkat. Ia melangkah meninggalkan Daniel Smith yang tiba-tiba merasa aneh dengan sifat gadis itu yang tidak lagi banyak membantah.
Daniel Smith menyamai langkah gadis itu agar bisa sejajar dengannya.
"Kamu bisa menceritakan ciri-ciri pembunuh itu padaku sekarang." ujar Daniel Smith dengan suara mulai melunak.
Ia sedikit banyak belajar tentang gadis ini yang tidak suka dibentak. Dan sekarang ia berusaha untuk berlaku lunak padanya.
Suzanne menghentikan langkahnya kemudian menatap mata biru pria tampan dan juga sangat menjengkelkan disampingnya itu.
"Kenapa? Apakah kamu tidak bisa berkonsentrasi lagi?" Suzanne tersenyum lalu mengangguk. Pikiran kotornya selalu saja mendominasi saat ia berhadapan dengan putra kedua Alexander Smith itu.
"Kalau begitu ambil kertas ini dan ceritakan saja didalam sini apa yang kamu ingat. Aku yakin bisa menggambarnya." ujar Daniel Smith seraya membuka pintu ruangan yang mereka berdua lewati. Ia meminta gadis itu memasuki ruangan itu bersama nya.
"Sudah kubilang aku tidak bisa berkonsentrasi jika bersamamu Tuan Smith Junior! aku lebih baik mengatakannya pada polisi saja." ujar Suzanne seraya berlari meninggalkan Daniel Smith yang hanya bisa terbengong-bengong.
🍀
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1
Eits, jangan kemana-mana. Sembari menunggu lanjutan kisah ini. Yuks mampir di karya teman othor nih.