Asmara Sang Pengawal

Asmara Sang Pengawal
# Part 42 Asmara SP


__ADS_3

Ciiit


Range Rover Evoque itu berhenti mendadak sebelum sampai di depan pintu Rumah Sakit terbesar di Kota Auckland. Daniel Smith sudah tidak mampu mengemudi.


Darah yang mengucur deras dari dua tempat yang di tubuhnya membuatnya tidak bisa lagi bertahan. Kepalanya jatuh terkulai di atas setirnya.


Piip


Piip


Beberapa kendaraan yang terganggu akan berhentinya Range Rover Evoque yang tidak sesuai pada tempatnya membunyikan klakson bertubi-tubi. Mereka nampak kesal dan tidak sabar dengan apa yang terjadi di jalur masuk Rumah Sakit itu.


Harry Sean Kingston langsung turun dari mobilnya karena merasakan sesuatu yang mencurigakan terjadi di depan sana.


Penyebab kemacetan dan keributan di depan Rumah Sakit itu adalah karena posisi Range Rover Evoque yang dikendarai oleh Daniel Smith sang sahabat.


Tok


Tok


Tok


Harry mengetuk kaca mobil itu dengan keras karena mobil itu tidak bergerak samasekali meskipun bunyi klakson begitu sangat menggangu dari arah belakang kendaraan roda empat itu.


"Daniel! Suzanne!"


"Daniel! Suzanne!" Harry terus berteriak dengan perasaan yang sangat khawatir. Suzanne yang sudah merasakan perasaan kembali baik, membuka matanya.


Ia memperhatikan keadaan sekitarnya dan menyadari kalau ia sedang berada di dalam mobil dengan seorang pengemudi yang sedang tertelungkup di atas setir di dalam mobil itu.


"Dia bukan Javier, Siapa kamu?" tanya Suzanne seraya mencoba memperhatikan pria yang sudah tidak bergerak itu.


Tok


Tok

__ADS_1


"Daniel! Suzanne! Buka pintunya!" Gadis itu melihat Harry memerintahnya untuk membuka pintu mobil itu. Ia pun membukanya dengan cepat.


"Kak Harry!"


"Ada apa dengan Daniel. Kenapa dia?" tanya Harry seraya membuka pintu disamping tubuh pria Moskow itu.


"Aku tidak tahu Kak. Aku juga baru sadar kalau ternyata berada di dalam mobil ini," jawab Suzanne dengan mata terus mengarah pada tubuh Daniel yang sedang dibalik oleh Harry.


"Dia kehilangan banyak darah. Kamu segera minta pertolongan di Dalam Rumah Sakit. Minta mereka membawa brangkar kesini!" teriak Harry pada sang adik.


"Iya kak." jawab Suzanne dan segera turun dari mobil itu. Meskipun ia merasa sedikit pusing karena baru juga sadar dari pingsannya, ia tetap berlari ke dalam Rumah Sakit itu untuk meminta pertolongan.


Tak lama kemudian, beberapa perawat pun datang dengan membawa brangkar. Mereka menurunkan tubuh Daniel dari atas mobil dan segera membawanya ke Ruang Emergency.


Suzanne segera mengikuti mereka ke dalam Ruangan sedangkan Harry segera membawa Range Rover Evoque itu ke tempat parkir.


Pria itu yakin sekali kalau Daniel pasti sudah banyak kehilangan darah dari bahu pria yang terluka itu.


"Daddy!" Suzanne yang sedang menangis di depan Ruangan itu langsung berlari memeluk Vedran Sean Kingston yang baru saja tiba juga di Rumah Sakit itu. Pria paruh baya itu menatap putrinya dari atas sampai ke bawah dengan perasaan bahagia dan juga bingung.


"Alhamdulillah Daddy. Aku baik-baik saja, tetapi Daniel sedang gawat di dalam sana, hiks." Suzanne memandang ke ruangan Emergency di dalam Rumah Sakit itu dengan tangis yang kembali pecah.


Sang Daddy langsung melepaskan pelukan putrinya dan segera berjalan ke arah ruangan Emergency itu. Ia memaksa masuk ke dalam untuk melihat sendiri apa yang terjadi pada putra Alexander Smith itu.


"Ada apa dengan Daniel?!" tanyanya pada dokter yang sedang menangani pria yang telah menyelamatkan putrinya itu.


"Pria ini sedang butuh darah Tuan. Kami sedang mengusahakannya. Ada dua luka pada tubuhnya," jawab sang dokter seraya meminta perawat untuk membuka pakaian yang sedang dipakai oleh pasiennya.


"Tembakan?" tanya Vedran pada dokter itu lagi. Justin Dock menatap pria paruh baya yang sedang bertanya itu dengan wajah datar.


"Satu tembakan dibagian punggung kanan dan satu tusukan benda tajam di bahu kanannya." Vedran meraup wajahnya kasar karena tidak menyangka kalau Daniel terluka cukup parah seperti itu.


"Lakukan yang terbaik Dokter!" Seru Vedran seraya menepuk bahu sang dokter. Ia pun keluar dari Ruangan itu agar paramedis itu tidak terganggu dengan keberadaannya di dalam ruangan itu.


Pria itu keluar dari sana dengan berharap Daniel Smith baik-baik saja. Perjalanan dari tempat insiden berdarah itu memakan waktu sekitar 60 menit untuk sampai di Rumah Sakit itu dengan kecepatan biasa.

__ADS_1


Tetapi melihat jarak tempuh yang dipakai Daniel hanya 3O menit, ia berharap darah pria itu tidak dalam keadaan kritis.


"Daddy, katakan padaku apa yang terjadi pada Daniel." Suzanne langsung menjemputnya di depan pintu ruangan itu dengan wajah yang sangat khawatir.


"Doakan saja Daniel baik-baik saja. Ia banyak kehilangan darah sayang," jawab pria itu seraya menarik nafas panjang.


"Oh ya Allah. Ini gara-gara Aku 'kan Dad?" Suzanne kembali menangis dan menyalahkan dirinya sendiri. Vedran langsung meraihnya dalam pelukan. Ia berusaha menenangkan putrinya itu dengan menepuk-nepuk punggungnya lembut.


"Jangan salahkan dirimu sayang. Ini salah Javier Mascherano si bajingan tengik itu. Aku rasanya ingin menghancurkan tubuhnya saat ini juga." jawab Vedran dengan rahang mengeras marah.


"Daddy," Suzanne kembali menangis sementara Vedran hanya bisa menatap Harry yang sedang berdiri dihadapannya dengan wajah tak kalah khawatir.


"Apakah darah yang dibutuhkan siap Dad?" tanya Harry dengan pikiran terfokus pada persediaan kebutuhan darah untuk sahabatnya yang katanya kehilangan banyak cairan merah itu.


"Kita tunggu apa kata mereka, Harry. Tetapi sebaiknya persiapkan dirimu jika sewaktu-waktu golongan darah Daniel tidak tersedia di Bank darah Rumah Sakit ini."


Vedran kembali menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Sedangkan Harry hanya bisa menatap pintu ruangan operasi itu.


Pria paruh baya itu segera melepaskan pelukan Suzane yang nampak sudah tenang. Ia meraih handphonenya dan menghubungi Alexander Smith selaku orang tua pria muda itu.


Ia tidak ingin pria Moskow itu marah kalau ia tidak memberitahu kondisi terkini anaknya. Apalagi Daniel saat ini sedang kritis.


Pria itu segera menjauh dari tempat itu agar pembicaraan lewat jaringan internasional ini tidak terganggu.


"Mohon maaf Tuan. Golongan darah Tuan Smith adalah A recius negatif. Golongan darah itu sangat langka. Dan sangat disayangkan karena kami tidak bisa siapkan dalam waktu yang sangat darurat seperti ini." Seorang perawat membawa sebuah kertas pengantar dari Bank darah yang ternyata kosong di dalam Rumah Sakit itu.


Harry menatap Adiknya yang nampak sangat pucat dan lemas itu. Ia tahu kalau golongan darah Adiknya sama persis dengan yang dibutuhkan oleh Daniel saat ini, tetapi kondisi Fisik dan mental gadis itu sungguh sangat tidak memungkinkan untuk mendonorkan darahnya. Suzane bisa saja drop jika ia memaksakan dirinya.


🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2