Asmara Sang Pengawal

Asmara Sang Pengawal
# Part 15 Asmara SP


__ADS_3

Kashmir.


Booom!


5 menit setelah Harry menjinakkan satu bom yang berdaya ledak cukup tinggi, satu lagi meledak dari arah barat ia berada.


Semua prajurit berlari keluar dari area yang sangat berbahaya itu. Mereka menunggu dengan dada berdebar tegang.


Harry memandang kesekeliling berharap tidak ada korban jiwa dari ledakan yang tidak begitu besar itu. Tak ada suara maupun pergerakan di sekitar area yang sudah bertanda Dangerous itu.


Hingga mereka kembali menyisir daerah itu yang ternyata banyak menyimpan ranjau dan alat peledak berdaya rendah.


"Cepat kemari! Ada korban disini!" teriak Tom Daley meminta bantuan. Harry dan teman-temannya bergerak cepat kearah pria itu berteriak.


"Apakah ia masih hidup?" tanya Harry saat sampai di tempat itu saat melihat seorang korban yang sedang tertelungkup ditanah bebatuan itu.


Pakaiannya sedikit tersingkap hingga memperlihatkan sepasang kaki seperti milik seorang perempuan.


Tom Daley berusaha membalik tubuh yang tidak bergerak itu dengan pelan dan langsung membuat Harry tercekat. Dengan cepat ia meraih tubuh yang ternyata adalah Zara Mukesh.


Pria itu menggendongnya dengan perasaan khawatir yang sangat besar. Ia berteriak memanggil nama Zara seperti orang gila.


"Zara, kumohon bertahanlah. Aku akan membawamu ke Rumah Sakit!" Harry terus berbicara tanpa henti sampai ia mendapatkan kunci mobil Jeep yang kebetulan baru saja tiba di lokasi kamp itu.


Bruuuum


Harry melajukan mobil itu ke arah kota ditengah malam sepi sepanjang jalan itu. Suasana daerah perbatasan yang sedang dalam masa gencatan senjata membuat jalanan sekeliling masih sangat lengang.


Semua masyarakat tidak diperbolehkan keluar apalagi saat malam hari. Karena dikhawatirkan akan ada lagi penyerangan secara diam-diam.


Jarak yang biasanya ditempuh sekitar 20 menit kini hanya seperduanya. Ia begitu cepat sampai dengan kecepatan diatas rata-rata.


"Zara, kamu pasti kuat. Aku tahu itu." ujar Harry seraya menggendong tubuh perempuan itu ke dalam Rumah Sakit. Ia tiba dengan hanya memakan waktu sekitar 10 menit.

__ADS_1


"Dokter, tolong selamatkan Zara!" teriak Harry dengan perasaan yang sangat khawatir. Selama dalam perjalanan perempuan itu tak sadar sedikitpun.


Harry tidak tahu dibagian mana dari tubuh itu yang terkena ledakan bom. Karena perempuan itu selalu memakai pakaian yang tertutup.


"Tolong tenang Tuan. Kami pasti akan menolongnya." ujar sang dokter yang menjemputnya di depan pintu ruang Emergency Room.


Dokter yang sudah sering mendapatkan korban senjata api atau bom dalam beberapa hari terakhir ini sudah tidak menunjukkan kepanikan yang berarti.


Meskipun kadang mereka harus menyaksikan sendiri bahwa korban-korban perang itu akhirnya meregang nyawa saat baru saja tiba di tempat itu, akan tetapi mereka tetap memberikan pelayanan yang terbaik.


Pasien yang datang setiap harinya hampir sama dengan jumlah mereka menghirup Udara segar. Terlalu sering sampai mereka kadang ingin lari dari tempat itu.


"Kenapa ia belum sadar juga?" tanya Harry saat melihat luka yang sangat parah pada bagian dada dan perut perempuan itu. Kebetulan ia tidak keluar dari ruangan itu setelah memperkenalkan dirinya sebagai salah satu prajurit perdamaian PBB.


"Lukanya terlalu parah Tuan. Kami hanya berusaha untuk membersihkan luka bakar dan ledakan ini dengan obat seperti ini." ujar sang dokter seraya menunjukkan obat dalam kemasan berbentuk Tube.


Pria itu menarik nafas berat dengan perasaan yang sangat kacau. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Tubuh Zara Mukesh terkoyak begitu parah dan kemungkinan kalau selamat akan mengalami cacat permanen.


Harry terduduk seraya meraup wajahnya kasar. Hatinya sangat sedih sekarang. Zara Mukesh adalah perempuan yang sangat disukai oleh semua anak di kamp pengungsian itu.


Harry bersujud di lantai Rumah Sakit itu dengan airmata yang keluar dari pelupuk matanya. Saat ini ia sangat berharap perempuan itu sembuh dan melewati masa kritisnya.


"Oh ya Allah," panggilnya kepada Tuhan, penguasa Alam. Ia memohon dengan sangat agar harapannya ini terkabul.


"Tuan! Dia sadar!" panggil dokter yang menangani Perempuan korban ledakan bom itu. Harry segera bangun dan berlari ke dalam ruangan. Bibirnya tersenyum melihat Zara Mukesh membuka matanya dengan pelan.


"Zara, kamu sudah sadar. Alhamdulillah ya Allah." ujar Harry seraya menyusut airmatanya. Sungguh ini adalah pertama kalinya ia menangis sejak ia dewasa. Dan sekarang ia menunjukkan kerapuhannya di depan perempuan yang sangat ia cintai itu.


"Ma-af-kan A-ku Tu-an." suara putus-putus perempuan itu keluar dari mulutnya yang tampak pucat.


"Jangan minta maaf Zara. Aku bahagia kamu sudah sadar. Kamu tahu? Aku akan membawamu ke Moskow atau Ke New Zealand untuk mengobatimu. Kamu tidak perlu bicara, Okey?"


"Ma-af-kan A-ku Tu-an," sekali lagi suara Zara Mukesh kembali keluar seolah tidak memperdulikan perkataan pria yang ada dihadapannya. Air mata perempuan itu meleleh karena rasa yang tidak bisa ia gambarkan.

__ADS_1


Dalam hati ia terus beristighfar kepada Tuhan agar kesalahannya diampuni.


Flashback on.


Beberapa jam yang lalu sebelum kejadian buruk ini terjadi.


Seorang pria paruh baya menyeringai kejam kemudian menjambak kerudung yang sedang dipakai oleh Zara Mukesh.


"Apa saja yang kamu lakukan hah?!" tanya pria itu kemudian mendorong tubuh perempuan itu sampai terjerembab ke lantai kasar di dalam tenda itu. Zara meringis kesakitan kemudian menyapu darah yang baru keluar dari ujung bibirnya.


Mukesh Bala adalah suaminya yang selalu bertindak kasar padanya. Pria itu adalah salah satu anggota pemberontak yang ada di negara itu dan bertugas sebagai mata-mata dari pihak India.


Sedangkan Zara adalah seorang korban yang selalu dijadikan biduk untuk melakukan pengeboman disetiap tempat agar suasana semakin kacau.


Perempuan itu selalu menolak melakukan perintah pria itu tetapi putranya yang masih sangat kecil disandera dan dijadikan alat untuk mengekangnya.


Dan karena sudah tak sanggup lagi menghadapi semua penderitaan yang pada akhirnya akan membunuh banyak orang. Ia lebih memilih untuk meledakkan dirinya sendiri.


Flashback off.


"Ma-af-kan A-ku Tu-an." ucap Zara Mukesh untuk yang terakhir Kalinya. Ia menutup matanya untuk selama-lamanya.


"Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun," ucap Harry dengan tatapan nanar. Ia memeluk tubuh perempuan itu seraya menangis dan meminta maaf karena tidak berhasil membersihkan bom-bom itu.


"Maafkan Aku Zara, seharusnya Aku tidak kecewa karena kamu menolakku dan berniat untuk pulang ke negaraku."


"Seharusnya Aku menjagamu." ujarnya dengan hati pedih. Ia baru melepaskan tubuh tak bernyawa ketika dokter bersiap untuk mengurus jenazah perempuan itu.


Malam itu Harry Sean Kingston merasakan kesedihan yang luar biasa. Untuk pertama kalinya ia merasakan yang namanya jatuh cinta tetapi begitu cepat Tuhan mengambilnya kembali.


🍀


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2