Asmara Sang Pengawal

Asmara Sang Pengawal
# Part 33 Asmara SP


__ADS_3

Daniel Smith dan Harry Sean Kingston bersama-sama menjatuhkan barbelnya ke lantai.


Mereka berdua sudah sangat kesal dengan gadis-gadis yang sedang membicarakan seorang aktor pria bernama Brant Dougherty yang katanya sangat hebat, tampan, dan juga sangat sayang pada istri dan anaknya.


Daniel pun menghampiri Elmira dan berniat menegur sepupunya itu. Begitupun dengan Harry, ia mendatangi Suzanne sang adik dengan maksud yang sama.


"Sejak kapan kamu suka membicarakan pria seperti itu?" tanyanya pada Elmira dengan wajah kesal. Elmira yang sedang berada di atas treadmillnya itu langsung bungkam.


Ia tidak sadar kalau sudah ikut-ikutan dengan Suzanne dan Ramanda yang suka menonton acara TV itu. Gadis itu yang biasanya hanya sibuk dengan pekerjaannya di Rumah Sakit baru kali ini ini membicarakan pria-pria tampan dan seksih.


Gadis itu langsung menyadari kesalahannya dan menghentikan laju alat pembakar lemak itu. Ia pamit kembali ke kamar karena merasa malu dengan sikapnya yang sudah berada diluar batas.


Suzanne dan Ramanda yang juga baru saja mendapatkan teguran dari Harry merasakan hal yang sama. Mereka semua akhirnya meninggalkan tempat itu untuk menyusul Elmira ke kamarnya.


Harry dan Daniel kembali saling bertatapan dan sama-sama mengangkat bahunya masing-masing.


"Apa perempuan memang seperti itu Harry? kenapa mereka begitu sangat membingungkan?" tanya Daniel dengan wajah bingung.


"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya mereka memang diciptakan untuk membuat kita pusing." Harry menjawab pertanyaan Daniel seraya meraih handuk kecil di atas rak kecil di dalam ruangan itu. Tangannya kemudian mengelap keringatnya setelah berolahraga.


"Sekarang ayo kita cek jam tangan pemberian Javier. Dan kita akan berikan pada Suzanne," ucapnya seraya meninggalkan tempat itu.


Daniel mengikuti sahabatnya itu dengan seringai diwajahnya. Tangannya sudah sangat gatal ingin menyentuh tubuh pria brengsek itu dan membuatnya hancur.


Sementara itu, Suzanne dan Ramanda sudah selesai mandi dan bersiap untuk ke Kampusnya karena pagi ini mereka ada kuliah.


Dua gadis itu segera melangkah ke kamar Elmira dan mengajaknya sarapan bersama.


"Kak Mira, Ayo ikut sarapan bersama dengan kami." Suzanne duduk di bibir ranjang di dalam kamar itu Sementara Elmira sedang memakai pakaiannya.


"Ah iya terimakasih banyak. Aku akan menyusul kalian nanti," jawabnya seraya memasang sebuah bros cantik pada hijab yang sedang dipakainya.


"Tidak apa kak. Kami akan menunggu. Cuma itu saja kan?" timpal Ramanda dengan pandangan takjub pada dokter muda itu.

__ADS_1


"Iya. Hari ini Aku masih ada acara di hotel dekat Sky Tower itu. Dan setelahnya kita mungkin bisa menghabiskan waktu bersama, bagaimana?"


"Wahh itu hal yang sangat menyenangkan Kak. Aku akan pilih tempatnya." ujar Suzanne antusias. Ia dan Ramanda sudah membayangkan akan kemana sore ini.


"Terserah kalian saja. Pilih tempat yang paling bagus ya, karena besok Aku akan kembali ke Moskow."


"Tidak bisakah Kak Mira tinggal lebih lama di sini?" tanya Suzanne merasa tidak nyaman. Ia sangat senang dengan dokter cantik dan ramah itu jika bisa lebih lama tinggal di Mansionnya.


Selain Ramanda ia tidak punya teman lagi. Dan juga tentunya adalah jika gadis itu pergi pasti Daniel juga ikut pergi meninggalkan kota dan negara ini.


"Aku tidak bisa tinggal lebih lama disini Sue. Aku ada pekerjaan di Moskow. Kamu yang seharusnya datang lagi ke negaraku." Elmira menatap wajah gadis itu dengan senyum diwajahnya.


"Kamu kan belum sempat merasakan udara kota Moskow waktu itu, iyyakan?" lanjutnya seraya meraih tasnya dan bersiap untuk keluar dari kamar itu.


Suzanne membenarkan kata-kata dokter muda itu. Ia memang belum merasakan indahnya kota Moskow dan kota-kota disekitarnya karena insiden berbahaya itu.


"Insyaallah kalau ada waktu Aku dan kak Harry akan berlibur ke sana."


"Bagaimana denganmu Ramy? kamu juga Aku harapkan bisa ke negaraku. Aku akan membawa kalian ke kampung kakekku di Dagestan."


"Ah iya Ramy. Kurasa kamu akan betah nanti di sana. Apalagi saat mengunjungi kota Dagestan. Wah kamu mungkin tidak ingin kembali ke sini, hahaha."


Ketiga gadis itu tertawa bersama seraya melangkah ke ruang makan.


Suzanne sendiri menghentikan langkahnya sejenak untuk menjawab panggilan telepon dari Javier.


"Aku menunggumu di kampusmu ya Suzanne. Kita akan melanjutkan acara jalan-jalan kita kemarin." ujar pria itu dari ujung telepon.


Suzanne tersenyum kemudian mengangguk. Ia lupa kalau ia sedang berbicara lewat telepon dengan pria itu.


"Bagaimana? kamu mau 'kan?" tanya Javier dari ujung sana.


"Ah iya tentu saja. Kita akan bertemu di sana setelah kelasku selesai." jawab gadis itu kemudian menyimpan kembali handphonenya di dalam tas ranselnya. Langkahnya ia lanjutkan ke arah ruang makan.

__ADS_1


"Ini jam tanganmu, kamu bisa memakainya sekarang." ujar Harry saat ia baru saja duduk di depan semua anggota keluarga di Mansion itu. Vedran Sean Kingston dan juga Istrinya menatap kedua putra putrinya itu dengan tatapan penasaran.


"Apa ada yang kalian ingin sampaikan pada kami?" tanya Shania mewakili suaminya. Harry tersenyum dan mengangkat jari dan telunjuknya membentuk huruf O.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Dad. Semuanya baik-baik saja," ujarnya santai kemudian kembali duduk di kursinya sendiri.


Suzanne menatap jam tangan itu bergantian dengan Daniel yang juga sedang menatapnya dari jauh. Ia bingung dengan semua ini.


Daniel menyuruhnya untuk tidak boleh memakai lagi pemberian dari Javier sedangkan kakaknya sendiri sebaliknya.


Ah sudahlah, Aku akan memakainya nanti saat bertemu dengan Javier di kampus. Aku yakin pria itu pasti akan senang jika Aku memakai pemberiannya. Ujarnya dalam hati. Ia pun mulai mengisi piringnya dengan roti isi daging favoritnya.


Ia mulai mengunyah makanan khas buatan mommynya itu dengan tatapan pria bermata biru Daniel Smith dari ujung mejanya. Entah kenapa pria itu begitu senang melihat apa saja yang dilakukan gadis itu.


Vedran Sean Kingston yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik dua orang itu tersenyum seraya menyentuh tangan istrinya.


Shania sangat mengerti apa maksud sentuhan tangan suaminya. Ia juga ingin menyampaikan bahwa gerak-gerik Harry juga sangat mencurigakan.


"Sepertinya kita sebentar lagi akan mempunyai dua menantu sayang," ucap Vedran dengan nada pelan disela-sela kunyahannya.


"Hum, Aku rasa juga begitu sayang." Shania tersenyum dan berpura-pura tidak memperhatikan muda-mudi itu saling mengantarkan pesan-pesan cinta.


Setelah mereka semua selesai sarapan bersama. Elmira segera berdiri dari duduknya dan berpamitan kepada Vedran Sean Kingston, sang pemilik Mansion itu. Ia akan melanjutkan pekerjaannya di kota Auckland itu ditemani oleh Daniel Smith sang sepupu.


Ia pun segera melangkah keluar dari Mansion itu untuk menunggu Daniel mengambil mobilnya dari garasi.


Sementara itu di depan gerbang Mansion itu, Javier sudah lama menunggu dengan wajah tak sabar.


🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2