
Harry Sean Kingston berkelit saat pria asing itu menembakkan pelurunya. Ia melompat ke arah pintu masuk gedung itu dengan cepat secepat kilat. Dan alhasil peluru itu salah sasaran.
Seorang dokter muda yang kebetulan lari dalam gedung karena panik justru terkena peluru yang diperuntukkan untuk Harry.
Merasa terancam, karena begitu banyak saksi yang melihat kejahatannya, Pria itu segera berdiri dan berniat untuk kabur dari tempat itu tetapi Harry dengan cepat menarik pelatuk pistolnya dan berhasil mengenai paha pria itu.
Door
"Aaaargh!" pria itu berteriak kesakitan tetapi tetap melanjutkan larinya.
Door
Sekali lagi Harry berhasil membidiknya dengan sangat tepat sasaran. Punggung kanannya berlubang dan mengeluarkan darah segar.
Pria itu oleng dalam pelariannya. Ia berbalik dan ingin membalas tembakan Harry padanya tetapi ia tumbang dan pistol ditangannya terjatuh di lantai.
Seorang temannya yang sudah menunggu tak jauh dari tempat itu langsung membantu mengangkat pria itu masuk ke dalam mobil tetapi Harry tidak ingin membiarkan mereka lolos.
Pria itu memburu mereka dengan tembakan peringatan agar tidak kemana-mana. Sementara security yang berjaga di tempat itu ikut membantunya. Harry pun menembak ban mobil mereka agar tidak sedikitpun bisa lolos dari tempat itu.
Bugh
Satu tendangan bebas berhasil melayang ke wajah pria yang akan menjadi sopir untuk membawa si pembunuh untuk kabur. Setelah itu Harry menyerahkannya pada security.
"Tahan mereka berdua di sini. Polisi pasti akan segera datang," ujarnya dengan nafas memburu emosi.
"Aku harus ke dalam gedung itu sekarang," lanjutnya kemudian segera berlari ke dalam gedung pertemuan itu bagaikan orang gila. Ia berharap sekali tidak terjadi hal yang buruk pada Elmira.
Harry Sean Kingston membuka sekumpulan orang yang sedang mengerumuni korban penembakan pria asing dan sangat berbahaya itu.
__ADS_1
"Elmira?!" teriaknya pada saat ia berhasil masuk dan melihat sendiri orang yang sedang terbaring lemah dengan luka tembak di bagian tangan dan juga bahunya.
Gadis cantik yang sedang dipanggil namanya itu mendongak dan menatap Harry yang nampak sangat khawatir. Elmira tersenyum lembut kemudian mengangkat tangannya yang penuh dengan darah.
Harry bernafas lega. Elmira selamat dan sekarang sedang membantu seorang Office Girl korban penembakan itu untuk mengeluarkan pelurunya sembari menunggu Ambulans yang belum datang.
Gadis itu melilitkan kain pada dada dan tangan Office girl itu dari kain syal yang ia punya dari dalam tasnya kemudian ia berdiri untuk mencuci tangannya. Ambulance pun datang dan segera membawa semua korban untuk dirawat di Rumah Sakit terdekat.
Harry mengikuti Elmira ke Toilet. Hatinya sekarang dipenuhi perasaan yang campur aduk. Rasa bahagia dan bangga bercampur menjadi satu. Pria itu meraih tubuh dokter muda itu dan memeluknya erat.
Harry menitikkan air matanya. Ia tidak bisa membayangkan kalau gadis itu yang menjadi korban dari pembunuh itu. Hatinya pasti akan kehilangan untuk yang kedua kalinya.
"Harry?" Elmira bergumam pelan karena pria itu malah memeluknya semakin erat. Seakan ia baru saja bertemu dan akan pergi sangat jauh lagi.
"Syukurlah kamu selamat. Aku sudah sangat khawatir," bisik Harry dengan suara bergetar.
"Tapi kenapa bisa kamu tahu ada bahaya di tempat ini?" tanya gadis itu saat Harry sudah berhasil menguasai perasaannya dan melepaskan pelukannya.
"Apa kamu marah karena Aku yang memakai jam tangan itu Harry?" tanya Elmira dengan perasaan khawatir. ia takut pria itu tahu kalau bukan adiknya yang memakai benda pemberiannya tetapi dirinya yang tidak ada hubungan apa-apa dengannya.
"Maafkan Aku ya. Aku lancang memakai jam tangan itu." Elmira menunduk takut tetapi Harry segera meraih lagi tubuh gadis itu kedalam pelukannya.
"Tidak Mira. Aku hanya ingin tahu dimana jam tangan itu saat ini?"
"Aku memakainya tadi ke Toilet ini. Dan Aku buka karena ingin berwudhu' dan selanjutnya Aku lupa. Dan kamu lihat tadi 'kan? Office girl yang tertembak itu ternyata memakai jam tangan itu. Tetapi Aku tidak ingin mengambilnya biar itu jadi hadiahnya saja. Tidak apa-apa kan Harry?"
Harry tersenyum dengan penjelasan dari gadis yang cantik yang mulai bisa menggantikan posisi Zara Mukesh di dalam hatinya itu. Ia sangat gembira dengan apa yang terjadi dengan nasib dari jam tangan itu.
Perlahan ia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Elmira lembut. Gadis itu tersentak kaget dan baru sadar dengan apa yang terjadi pada mereka berdua. Ia segera mendorong tubuh Harry dengan keras dan meninggalkan pria itu agar melepaskannya.
__ADS_1
"Kamu mengambil keuntungan dariku Harry! Aku tidak suka!" Elmira keluar dari Toilet dengan wajah kesal. Meskipun ia sangat menyukai Harry tetapi ia tidak mau disentuh seperti itu oleh pria yang belum berhak menyentuhnya.
Harry mengutuk dirinya sendiri yang tidak sadar telah membuat gadis baik-baik itu tersinggung. Ia memukuli kepalanya sendiri karena tidak bisa menahan hasratnya yang tidak tahu tempat dan kondisi.
"Mira! Maafkan Aku!" Ia pun keluar dari tempat itu dan segera memburu gadis itu yang nampaknya kembali bergabung dengan teman-temannya setelah kondisi gedung itu kembali tenang.
Harry akhirnya hanya menunggu sampai kegiatan itu resmi dibubarkan karena polisi segera memberikan Police Line pada area yang baru saja sangat kacau itu.
Harry pun segera dimintai keterangan oleh pihak yang berwenang begitu pun dengan Elmira dan beberapa orang yang melihat dan terlihat dalam aksi penembakan berdarah itu.
Hampir sejam mereka semua menjadi saksi yang dimintai keterangan, termasuk Harry yang sudah sangat dikenali oleh jajaran kepolisian kota Auckland.
"Kami berterima kasih pada anda Tuan Kingston Junior. Anda sudah berhasil membantu kami menangkap pelaku penembakan ini." Harry tersenyum kemudian meminta izin untuk membawa Emira untuk pulang ke Rumahnya.
"Maafkan Aku Mira. Kamu pasti tersinggung dengan sikapku tadi," ujar Harry dengan tatapan dalam pada gadis cantik yang sedang duduk bersebelahan dengannya di dalam mobil yang sedang ia kendarai pulang.
Elmira hanya diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jantungnya sekarang berdetak lebih cepat dari biasanya.
Gadis itu sebenarnya cukup senang dengan apa yang terjadi karena ia sudah lama menyukai Harry. Akan tetapi hatinya yang lain merasa sangat kesal dan marah karena Harry seolah-olah menganggapnya gadis murahan yang gampang disentuh sembarangan.
"Mira, maafkan Aku ya," ujar Harry lagi dengan tangan ingin menyentuh kembali tangan gadis itu. Elmira membuang wajahnya ke arah samping seraya berucap, "Kira pulang saja sekarang."
Harry menarik nafas panjang kemudian segera menghidupkan mesin mobilnya. Ia memang harus pulang sekarang untuk membantu Daniel yang sekarang sedang memburu Javier.
🍀
*Bersambung.
Adakah yang mau bersedekah Vote nya😍
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍