Asmara Sang Pengawal

Asmara Sang Pengawal
# Part 37 Asmara SP


__ADS_3

Suzanne berteriak histeris saat Javier melajukan mobilnya dengan cepat dan meninggalkan Ramanda di depan gerbang Kampusnya.


"Javier! kamu melupakan Ramy! hentikan mobilnya!" Javier menyeringai dan tidak memperdulikan teriakan gadis itu.


"Javier! Aku bilang hentikan mobilnya!" teriaknya lagi seraya berdiri dari duduknya dan kemudian jatuh terduduk karena laju mobil itu begitu sangat kencang.


"Aawww, apa maksudmu Javier! Aku bilang hentikan mobilnya!" Suzanne mengelus kepalanya yang terantuk pada kaca jendela mobil sewaktu berusaha untuk menarik jaket pria itu dari belakang karena meminta untuk berhenti.


Javier Mascherano tersenyum kemudian menatap gadis itu lewat kaca kecil di atas kepalanya.


"Pasang seatbeltmu Suzanne sayang. Kita akan menuju ke Piha Beach seperti yang pernah kita rencanakan waktu itu." ujar Javier dengan senyum di wajahnya tetapi justru dibalas dengan dengusan kasar oleh gadis itu.


Suzanne tampak sangat kesal dengan sikap pria itu yang berubah sangat menyebalkan. Ia tidak lagi seperti pria manis yang baik hati dimata gadis itu.


"Bukankah kamu ingin sekali berselancar bersama dengan seseorang di sana Suzanne? Aku lah orang yang paling cocok melakukan hal itu denganmu sayangku." Pria itu melanjutkan dengan tawanya yang semakin membuat gadis itu jijik.


Suzanne terdiam dan hanya mencebikkan bibirnya, ia memang pernah mengatakan akan pergi ke pantai Piha suatu saat nanti. Ia ingin pergi bersama dengan seseorang yang sangat spesial.


Akan tetapi tentu saja bukan dengan Javier Mascherano karena Pantai itu adalah tempat paling romantis di kota Auckland.


Gadis itu ingin pergi bersama dengan Daniel Smith, pria dingin dan datar tetapi sangat mempesona dimatanya. Tempat itu juga sangat cocok untuk piknik dan berjemur dengan pasir hitam vulkanik dan tonjolan batu yang menjorok.


"Kita akan menikmati indahnya pemandangan alam dan pantai kota Auckland disana, sayangku." lanjut Javier dari arah depan dengan segala rencana busuknya. Suzanne semakin kesal dibuatnya.


"Tapi Aku sedang tidak ingin kesana sekarang Javier. Tolong bawa Aku pulang ke Rumahku. Kamu tahu 'kan Aku tidak pernah pergi jauh kecuali bersama dengan Ramy atau Kak Harry." sahut Suzanne dengan memberenggut.

__ADS_1


Perasaan takut sudah mulai bermunculan di dalam hatinya. Ia tidak tahu apa maksud dari pria ini membawanya pergi dan melupakan Ramanda."


"Hey, bukankah kita sudah berjanji akan membawa Ramanda dan juga Elmira untuk ikut serta di piknik kita kali ini?" Gadis itu mulai menurunkan nada suaranya berusaha untuk membujuk pria itu agar menghentikan rencananya yang sangat mencurigakan itu.


"Tidak sayang. Ramanda temanmu itu akan mengganggu waktu berkualitas kita. Dan ya, Aku ingin kamu tahu betapa Aku sangat ingin berdua saja denganmu saat ini." jawab Pria itu seraya membelokkan mobilnya ke arah pompa bensin untuk mengisi tangki mobilnya dengan bahan bakar penuh.


Perjalanan ke Piha Beach lumayan jauh ke Utara kota Auckland jadi ia harus mempersiapkan segala sesuatunya. Bahan makanan pun akan ia minta kawan-kawannya bawakan ke tempat itu. Mereka akan membuat sebuah pesta yang sangat berkesan untuk Suzanne Sean Kingston sebelum ia melemparnya ke laut dalam tempat itu.


Sementara itu Suzanne yang berada di dalam mobil segera meraih handphonenya dan mengaktifkannya. Ia baru teringat dengan benda pipih itu disaat genting seperti ini.


Sebuah kebiasaannya yang tak patut dicontoh adalah ia selalu menonaktifkan alat elektronik itu jika sedang berada di luar Rumah. Hingga semua orang sedang sangat panik saat ini.


Dengan perasaan tegang ia menunggu handphonenya itu aktif kembali. GPS ia hidupkan kemudian mengetik SOS.


SOS adalah nama untuk tanda bahaya kode Morse internasional. (• • • - - - • • •). Tanda ini pertama kali digunakan oleh pemerintah Jerman pada 1 April 1905, dan menjadi standar di seluruh dunia sejak 3 November 1906.


Gadis itu segera mengirimkan map Piha Beach kepada nomor paling atas di daftar kontak dalam handphonenya itu.


Ia tidak tahu siapa yang punya nomor itu. Yang jelasnya itu adalah sebuah nomor penting yang pernah ia simpan dengan kode 1.


Gadis itu tersentak kaget karena Javier mengetuk kaca mobil itu dan memintanya untuk ke Toilet karena perjalanan masih sangat jauh.


Suzanne nampak sangat gugup dan akhirnya Javier mencurigai sesuatu. Pria itu merebut handphone itu dari tangannya dengan sangat marah.


"Kamu tidak mempercayaiku Suzanne? siapa yang sedang kamu hubungi Hah?!" Javier membuka layar itu dan memeriksa pesan dan panggilan keluar pada benda pipih itu tetapi ternyata kosong.

__ADS_1


Hanya panggilan dan pesan masuk yang sangat banyak dari notifikasi yang berbunyi terus menerus dari handphone itu yang membuat Javier segera melempar benda itu hingga pecah berkeping-keping di lantai Pompa bensin itu.


"Jangan pernah berpikir kalau Aku akan membiarkan keluargamu untuk datang menolongmu Nona." ujar Javier kemudian langsung naik ke mobilnya dan melajukannya dengan cepat. Ia harus sampai di Piha Beach sebelum malam tiba.


Suzanne merasakan tubuhnya gemetar dan takut. Ia mulai menangis dan menyesal karena tidak mendengarkan kata-kata Daniel Smith. Pria itu sudah berulang kali mengatakan padanya kalau Javier adalah pria jahat dan berbahaya tetapi ia tidak pernah mendengarnya.


"Daddy, Mommy...Aku mungkin tidak akan bertemu dengan kalian lagi, hiks." Gadis itu menyusut air matanya yang semakin deras mengalir. Ia tidak ingin lagi meminta pria itu untuk menghentikan laju mobilnya karena ia pasti diabaikan.


Suzanne menangis dalam diam. Semua kenangan indah bersama dengan orang-orang tersayang yang ada dalam keluarganya kini berputar seperti rekaman video di dalam otaknya. Ia merasa bahwa saat ini adalah saat-saat terakhirnya hidup di bumi ini.


Ciiit


Javier menghentikan laju mobilnya karena beberapa kendaraan di depannya juga sedang berhenti. Dengan wajah tak sabar ia memukul setirnya karena emosi.


Ia sudah berjanji akan bertemu dengan kawan-kawannya di perempatan jalan di depan sana. Mereka akan membawa bahan makanan dan juga perlengkapan untuk berkemah di tempat itu.


"Tunggu di sini dan jangan pernah berpikir untuk lari. Mobil ini Aku kunci!" ujar Javier seraya turun dari mobil itu dan membawa pistolnya. Ia sungguh tidak sabar melihat apa yang sedang terjadi di depan sana.


Pria Moskow itu tidak tahu kalau Jalanan yang ia lalui ini terkenal sangat berbahaya karena dikuasai oleh Gengster Mongrel Mob yang pernah dipimpin langsung oleh Vedran Sean Kingston.


🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2