
Alexander Smith sudah lama mencurigai ada sesuatu yang janggal pada pengerjaan proyek besar yang dimenangkan oleh putranya Daniel beserta rekannya. Beberapa hari ini ia sering ikut mengawasi jalannya proyek itu sendiri atau ia meminta Maksim memperhatikan keadaan daerah itu.
Dan sekarang ia menyesal karena ia tidak memberantas mafia ingusan itu sejak dulu. Daniel, sang putra mengalami cedera pada punggungnya karena perbuatan salah satu dari penyerang itu.
"Kita ke Rumah Sakit!" titah Alex pada sang putra yang masih tampak meringis merasakan nyeri pada punggungnya.
"Tidak Dad. Aku bosan dengan keadaan dan suasana Rumah Sakit. Panggilkan Elmira saja untuk datang ke Rumah." Daniel berjalan dengan langkah pelan ke arah mobilnya tetapi di halangi oleh pria paruh baya itu.
"Mobilmu biar dipakai sopir ku dan Aku yang akan menyetir untukmu." Alex memberikan perintah dan diikuti saja oleh Daniel. Pria itu tidak punya pilihan karena ia juga sangat lelah.
Dua hari lembur dan kurang istirahat membuat tubuhnya ia rasakan drop juga. Dan sekarang bekas tembakan dan pukulan di punggungnya pun turut membantu keinginannya untuk tidur di kasurnya yang empuk.
Seketika ia teringat akan Suzanne sang istri. Dalam hati ia berharap kalau istrinya yang manja dan cantik itu ada dan menemaninya beristirahat. Maka bisa dipastikan akan menjadi hal yang sangat menyenangkan. Lukanya pasti akan sembuh dengan sendirinya.
"Apa kita perlu menghancurkan siapa dalang penyerangan ini Dan?" tanya Alex saat mereka sudah berada dalam perjalanan pulang.
"Iya Dad. Mereka sudah sangat meresahkan karena selalu mencuri alat dan bahan yang digunakan untuk proyek ini," jawab Daniel dengan wajah marah. Ia benar-benar ingin mafia ingusan itu ditangkap dan dipenjara.
"Uncle Max akan mengurus semuanya. Kamu tenang saja, mereka pasti akan menangis dan memohon ampun!" geram Alex dengan rahang mengetat.
Pria itu merasakan tangannya gatal. Ia bahkan sudah bisa membayangkan akan membuat perhitungan seperti apa pada mereka yang berani menggangu pekerjaan putranya.
Daniel menutup matanya dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia buat sedikit rebah.
Rasa nyeri pada punggungnya ia rasakan cukup menyisakannya. Tetapi entah kenapa ketika ia mengingat Suzanne yang merajuk manja padanya, ia jadi tersenyum-senyum sendiri. Ia sangat merindukan Istrinya itu.
Alexander melirik putranya yang sedang menutup matanya itu dengan senyum diwajahnya. Ia yakin sekali kalau putranya itu pasti sedang merindukan Suzanne, istrinya yang sedang bersama di Auckland itu.
Menjadi pengantin baru dan harus terpisah selama sehari saja bisa membuat perasaan hancur apalagi Daniel yang baru sehari bersama istrinya itu kini harus berpisah selama ini.
Mereka pun diam dan tak membahas lagi masalah di dalam proyek itu. Alex sudah menyerahkan semuanya pada Maksim sang adik dan orang yang sangat diandalkan dan dipercayainya selain Albert.
"Daniel, kamu lanjutkan tidur mu di dalam kamarmu saja. Kita sudah sampai," ujar Alex pada putranya yang baru membuka matanya itu. Rupanya ia ketiduran selama dalam perjalanan dan membuat sang Daddy mengemudi dengan sepi.
"Ah iya Dad. Terimakasih." Daniel berucap kemudian turun dari mobil itu.
__ADS_1
"Elmira sedang dalam perjalanan kemari. Aku akan menyuruhnya ke kamarmu," ujar Alex tersenyum.
"Kamu bisa jalan sendiri 'kan?" tanyanya lagi pada sang putra. Daniel tersenyum kemudian mengangkat dua ibu jarinya di depan hidungnya.
"Iya Dad. Aku sudah sehat kok. Aku kan putramu yang kuat." Daniel terkekeh seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Ia tidak menyapa mommynya karena khawatir akan ada drama seru jika tahu ia sedang cedera.
Tangannya memutar handel pintu kemudian segera masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya. Setelah itu ia berjalan ke arah ranjangnya yang nampak aneh.
Pria itu tak pernah meninggalkan tempat tidurnya dalam keadaan yang sangat kacau seperti ini. Dan sekarang ia mengambil ancang-ancang untuk membuka gulungan selimut di atas ranjangnya itu.
"Apakah ada orang lain yang salah kamar dan salah ranjang?" tanyanya dengan suara pelan. Ia pun memperhatikan gulungan selimut itu yang nampak menggeliat dan bergerak.
"Sue?" Daniel Smith mengucek matanya dengan ekspresi bingung. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Ia seperti bermimpi di siang hari saat melihat istrinya membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Perempuan itu masih menutup matanya dan kembali tertidur dengan wajah yang ia hadapkan pada arah Daniel yang masih berdiri di sana tanpa bergerak.
Daniel pun melangkahkan kakinya mendekati ranjang. Ia sekarang yakin kalau ia tidak sedang bermimpi. Hatinya bagaikan disiram air yang sangat segar. Ia merasa sangat bahagia saat ini.
Rindunya kini terobati. Sedangkan rasa nyeri di punggungnya hilang entah kemana. Perlahan tangan menyentuh wajah cantik sang istri. Rambut-rambut kecil yang menggangu pandangannya pada wajah itu ia singkirkan.
"Hmmmpt." Suzanne bergumam dalam mulut suaminya. Ia sepertinya belum menyadari apa yang telah terjadi padanya.
Daniel Smith bagaikan seorang musafir cinta yang sedang berada di tengah gurun dan menemukan sumur untuk minum. Satu ******* bagaikan satu tegukan air yang membasahi kerongkongannya.
Tak puas ia disana, ia pun berpindah ke leher jenjang istrinya. Ia menenggelamkan wajahnya disana, menghirup aroma tubuh istrinya yang sangat memabukkan.
"Hmmmpt, aaahh." Suzanne menggeliat dan tak sadar mendessah. Perempuan itu membuka matanya dan melihat wajah Daniel begitu tak berjarak dengannya. Pria yang sudah halal melakukan apapun padanya ternyata juga sudah menindih tubuhnya.
"Dan?" Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya karena Daniel tak memberikannya kesempatan untuk bertanya atau berbasa-basi. Bibirnya kembali disentuh dengan sangat lembut oleh sang suami.
Mereka berdua sudah mulai terbakar dengan sentuhan-sentuhan lembut dan manis yang mereka saling berikan.
Sampai akhirnya Daniel sudah tidak bisa lagi menahan dirinya. Ia mulai membuka kain yang menutupi tubuhnya dan tubuh istrinya dan bersiap untuk melakukan inti permainan.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
Daniel Smith mengerang frustasi dengan suara ketukan panjang dari arah pintu kamarnya. Ia bersumpah akan membuat perhitungan pada siapa saja yang berani mengganggunya seperti ini.
"Sue, Aku akan membuka pintunya sayang, tunggu Aku ya?" Daniel Smith mengecup lembut bibir Istrinya kemudian segera memakai piyamanya. Ia berjalan menuju pintu dengan nafas memburu kesal.
"Daniel!"
"Elmira?!"
Dua orang itu saling menyebutkan nama masing-masing dengan ekspresi yang berbeda.
"Uncle Alex mengatakan kamu sedang cedera di punggung mu. Apa aku boleh memeriksanya?" tanya Elmira seraya mengangkat tas kerjanya. Ia ingin memperlihatkan kalau ia datang untuk bekerja.
"Aku sudah sembuh. Dan sekarang kamu bisa pulang!" ujar Daniel dan langsung mendorong tubuh Elmira dari hadapannya.
"Daniel?!"
"Dan ingat. Beritahu semua orang untuk tidak menggangguku, Okey?!" Daniel pun membanting pintu kamarnya di depan Elmira dengan cukup keras.
Dokter muda itu terbengong tidak percaya dengan apa yang dialaminya saat ini. Ia sampai meraba dadanya karena sangat kaget dengan suara bantingan pintu di depan matanya.
"Hey, tidak perlu kaget seperti itu sayang. Kita pasti akan melakukan hal yang sama jika sedang berdua dan ada yang menggangu kita," ujar Harry dengan senyumnya yang sangat manis bagi Elmira.
Gadis itu langsung tertunduk malu. Ia merasakan pipinya menghangat karena sudah membayangkan yang tidak-tidak jika ia sudah menikah dengan pria tampan asal Auckland itu.
Sedangkan Daniel langsung menghampiri ranjangnya dan berniat melanjutkan apa yang sudah mereka lakukan tadi.
🍀
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍