
Suzanne Sean Kingston memandang beberapa pria tampan paruh baya yang ada di hadapannya dengan wajah khawatir.
Beberapa menit yang lalu Daniel Smith si pria yang sangat menyebalkan itu memintanya untuk bertemu dengan beberapa pria yang tidak ia kenal.
Dan sekarang, disinilah ia seperti sedang berada di sebuah tempat yang sangat menegangkan. Beberapa pria yang sangat tampan itu juga menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
Ia jadi sangat merindukan Daddynya yang juga tampan dan sangat menyayanginya.
"Nona Suzanne, kamu pasti tahu kenapa kami meminta untuk bertemu denganmu disini." ujar Alexander Smith dengan tatapan tak lepas pada gadis yang seusia dengan putrinya itu.
Suzanne tersenyum kemudian bertanya, " Apa ini ada hubungannya dengan orang-orang yang mau membunuhku Tuan?"
"Ya. Nyawamu sekarang dalam bahaya. Senator yang terbunuh itu adalah orang baik dan kami berharap kamu bisa bersaksi di pengadilan atas pembunuhan yang pernah kamu saksikan itu." jawab Alexander Smith dengan suara tenang.
Suzanne merasakan perasaan takut kembali menyerang dirinya. Ia sungguh tidak mau menjadi saksi atas peristiwa menakutkan itu. Dan Ia ingin menghindari kejadian ini dengan pergi dari negara ini.
"Aku tidak mau Tuan. Aku ingin pulang saja ke New Zealand sekarang. Dan tolong bawa aku pulang bertemu dengan Daddy dan Mommyku." ujar Suzanne seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia ingin melupakan peristiwa buruk ini dari dalam hidupnya.
"Pembunuh itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal Nona Suzanne." ujar Alexander lagi berharap gadis itu bisa paham dengan apa yang ia inginkan.
"Hukum harus ditegakkan. Siapa yang melakukan kesalahan haruslah mendapatkan hukuman yang pantas." lanjut pria paruh baya itu dengan suara tenangnya.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak ada perasaan kasihan pada keluarga yang menjadi korban pembunuhan itu Nona Suzanne?"
"Orang-orang itu sangat berbahaya jika dibiarkan berkeliaran. Akan ada korban berikutnya."
Gadis itu merasakan hatinya berdebar. Pikirannya ikut terbawa dengan kata-kata pria itu. Pembunuh berdarah dingin itu memang sangat berbahaya. Jika dibiarkan bebas maka akan jatuh korban lagi yang mungkin tidak bersalah.
"Baiklah Tuan. Tapi setelah ini aku ingin pulang ke rumahku sendiri dan bertemu dengan Daddy dan Mommyku."
"Ah iya tentu saja. Kamu akan aman sampai pembunuh itu bisa tertangkap."
"Terimakasih banyak Tuan." ujar Suzanne tersenyum tipis.
"Nah sekarang, apakah kamu ingat bagaimana ciri-ciri pembunuh itu, Nona?" tanya Alexander Smith dengan setelah lama terdiam.
Suzanne terdiam. Ia menutup matanya dan mulai membayangkan kejadian buruk itu. Bayangan wajah pembunuh itu kini terbayang dengan sangat jelas.
"Apakah kamu mengingatnya Nona?" tanya Maksim ikut penasaran. Ia sudah sangat gregetan sendiri dengan akhir dari kisah ini.
Suzanne membuka matanya kemudian mengangguk. Ia sudah ingat wajah pria pembunuh itu berikut orang-orang yang sedang bersama dengan pria itu saat kejadian berlangsung.
"Apakah kamu pernah bertemu dengan orang-orang itu, Nona?" tanya Alex sesaat setelah gadis itu mengangguk.
"Tidak. Aku tidak pernah bertemu dengan mereka dan juga tidak mengenalnya." jawab gadis itu dengan wajah serius.
__ADS_1
"Daniel, kamu ahli menggambar nak. Dampingi Suzanne sekarang." ujar Alexander Smith pada putranya yang sejak tadi berdiri di ruangan itu.
"Baik Dad." jawab Daniel singkat. Ia melirik Suzanne dengan ekor matanya dan ternyata gadis itu juga meliriknya dengan bibir mencibir. Rupanya gadis itu masih menyimpan rasa jengkel padanya.
"Baiklah. Kami akan menghubungi pihak kepolisian Kota Moskow sekarang. Mereka pasti akan meminta meminta kesaksianmu Nona," ujar Alexander Smith yang langsung dilaksanakan oleh Maksim.
"Tapi aku tidak mau bertemu dengan Polisi. Mereka suka membentak. Dan aku tidak suka Tuan." timpal Suzanne dengan wajah mengkerut. Ia sungguh tidak suka bertemu dengan orang asing.
"Daniel yang akan mendampingimu Nona Suzanne." jawab Alexander Smith dengan senyum diwajahnya.
"Pria itu juga suka marah dan membentak. Aku lebih ingin bersama kalian saja." ujar Suzanne dengan tatapan tajam pada seorang Daniel Smith.
Pria itu langsung mengepalkan tangannya karena sangat kesal. Dan ia berjanji akan membuat gadis itu semakin sulit.
Sedangkan Alex dan Maksim hanya bisa tersenyum simpul melihat mereka berdua yang tidak pernah akur.
🍀
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1