
"Nah Sekarang katakan bagaimana rupa pembunuh itu!" titah Daniel Smith pada Suzanne setelah semua orang meninggalkan ruangan itu dan yang tersisa adalah mereka berdua.
"Apakah aku bisa makan terlebih dahulu? aku sangat lapar." tolak Suzanne seraya berdiri dari duduknya. Ia ingin mencari seseorang di dalam Rumah besar itu agar ada yang memberinya makanan.
"Ya Allah. Jadi kamu belum makan?" tanya Daniel seraya menarik tangan gadis itu ke bagian dalam ruangan di rumah itu. Sesampainya di dalam ruang makan, Ia pun meminta kepada kepala pelayan untuk menyediakan makanan untuk gadis itu.
"Duduk dan tunggu makanannya," ujar Daniel Smith seraya menarik kursi untuk gadis itu.
"Terimakasih. Ternyata kamu bisa baik juga ya." ujar Suzanne tersenyum manis. Ia pun duduk dengan tenang sembari menunggu para pelayan membawakannya makanan.
"Hey, aku bukan orang baik. Aku hanya ingin urusanku denganmu segera selesai," jawab Daniel Smith dengan wajah yang masih tampak sangat menyebalkan bagi Suzanne.
"Ish!" gadis itu mencebikkan bibirnya kesal kemudian berucap, "Aku heran, kenapa semua orang disini betah denganmu yang tidak pernah baik pada orang lain."
"Eh, jaga mulut dan pikiranmu ya. Hanya kamu tuh yang menganggapku seperti itu Dan itu karena kamu yang selalu menganggap semua orang buruk." tantang Daniel tak mau kalah.
Suzanne tidak lagi membalas meskipun ia sangat ingin meremas mulut pria itu. Aroma makanan yang ada dihadapannya membuatnya lupa akan kekesalannya pada putra onty Aisyah itu.
Ia pun mengisi piringnya dan makan dengan lahap. Ia tak peduli ketika Daniel Smith mengambil gambarnya dan mengirimkannya pada Harry Sean Kingston agar pria itu tidak khawatir akan kenyamanan adik perempuannya.
Daniel Smith menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan gadis manja dihadapannya. Suzanne sama sekali tidak menjaga sikapnya saat makan.
Hampir semua menu yang tertata di atas meja itu ia cicipi. Tidak ada kesan malu atau menjaga imagenya sebagai putri dari orang penting seperti Vedran Sean Kingston.
"Aku tidak tahu dari mana sifat manjamu itu sedangkan makanmu seperti orang yang tidak pernah bertemu dengan makanan sebelumnya." sindir Daniel dengan wajah tak bersahabat.
"What ever!" jawab gadis itu seraya melanjutkan makannya. Lidahnya sepertinya sangat cocok dengan menu dari Dagestan buatan Aisyah.
"Alhamdulillah. Terimakasih makanannya ya Allah. Lain kali datanglah berkunjung ke New Zealand dan Mommyku juga akan membuka makanan yang sangat enak buatmu." ujar gadis itu dengan wajah santai.
Energinya sekarang bertambah dua kali lipat karena sudah makan dengan sangat banyak.
"Nah sekarang ceritakan sosok pembunuh itu. Ciri-cirinya yang paling kamu ingat." pinta Daniel dengan wajah serius. Kertas dan pensil sudah ada di tangannya siap untuk menggambar sketsa wajah pelaku pembunuh berdarah dingin itu.
__ADS_1
Suzanne Sean Kingston menatap lurus mata biru Daniel Smith untuk berkonsentrasi. Tetapi entah kenapa dadanya tiba-tiba berdebar keras. Entah kenapa mata biru itu seakan ingin menelannya.
Gadis itu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk meredakan sebuah rasa yang tak ia kenali apa.
"Ayo cepat katakan!" titah Daniel dengan wajah tak sabar. Ia juga merasakan hal yang sama saat mata mereka berdua berada pada titik yang sama. Ada sebuah getaran tak kasat mata sedang berkejaran ke dalam hatinya.
"Iya, jangan memaksaku atau bayangan wajah itu berganti dengan wajah orang lain!" kesal Suzanne dengan perasaan tak nyaman. Entah kenapa wajah Daniel yang sangat menyebalkan itu yang selalu muncul di dalam kepalanya.
"Hah? maksud mu apa gadis manja?!" tanya Daniel dengan perasaan yang semakin kacau.
"Sudah diam! Aku lebih memilih bicara sama Polisi saja. Bicara denganmu hanya bikin aku tidak konsentrasi." ujar Suzanne seraya berdiri dari duduknya.
Ia ingin segera kembali ke kamar Asma untuk beristirahat dan berharap tidak beradu tatap lagi dengan pemilik mata biru itu.
"Oh my God!" Daniel meremas kertasnya dan mematahkan pensilnya karena sangat kesal dengan gadis itu.
Tangannya segera meraih Suzanne dan memintanya untuk duduk kembali. Tetapi karena gadis itu memberontak Ia jadi tak punya pilihan lain selain merengkuh pinggang gadis itu dengan agak keras dan membuat jarak mereka berdua terkikis.
Detik berikutnya Daniel Smith justru melepaskan tubuh gadis itu. Ia takut melakukan hal lebih karena sudah sangat tergoda dengan bibir ranum Suzanne Sean Kingston.
Entah kenapa ada hal besar yang mendorongnya untuk meraup bibir itu tetapi akal sehatnya segera mendominasi.
"Duduk dan jangan kemana-mana!" ujarnya dengan tegas. Suzanne menurut. Ia tak punya kuasa untuk menolak. Dan saat ini ia sedang ingin meredakan debaran jantungnya yang seperti ingin meledak.
Daniel Smith kembali meraih kertas dan pensil lainnya. Perintah Daddynya harus ia kerjakan sekarang juga untuk mengetahui sosok pembunuh itu.
"Ayo katakan, bagaimana ciri-ciri pembunuh itu, Nona Suzanne!" pria itu berusaha untuk tidak memandang wajah cantik itu. Ia terus menekuri kertasnya menunggu jawaban dari bibir seorang saksi kunci.
Suzanne Sean Kingston menarik nafasnya untuk meredakan debaran didadanya yang sepertinya belum juga bisa normal.
"Nona Suzanne!" bentak Daniel dengan tegasnya.
"Tidak! Aku tidak bisa mengingatnya jika aku bersamamu. Aku ingin kembali ke kamar Asma!" teriak gadis itu karena benar-benar tidak bisa berkonsentrasi.
__ADS_1
Hanya mata dan bibir Daniel Smith yang berkelebatan di dalam pikirannya. Dan sekarang ia tidak tahu harus berkata apa. Yang ia tahu ia juga sangat menginginkannya.
"Astagfirullah. Kamu benar-benar ya?!" Daniel Smith memukul meja di hadapannya dengan emosi diwajahnya. Sedangkan Suzanne hanya bisa menangis karena kaget dan takut.
"Daniel. Biarkan Suzanne beristirahat sayang. Jangan memaksanya seperti itu." Aisyah yang baru muncul di ruangan itu segera menjadi penengah.
Perempuan cantik itu melihat putranya benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya jika berdekatan dengan gadis cantik ini.
"Onty, Daniel selalu membentakku seperti itu. Aku yakin ia bahkan lebih buruk daripada Polisi di negara ini." lapor Suzanne dengan wajah ditekuk manja.
"Astagfirullah Daniel. Kamu ya."
"Mommy, gadis ini hanya mengulur-ulur waktu. Sedangkan pembunuh itu berkeliaran diluar sana dan pastinya akan sangat berbahaya."
"Sudah. Biarkan Suzanne beristirahat. Dan jangan menggangunya lagi, okey?" Suzanne tersenyum kemudian mencium pipi Aisyah.
"Onty kamu seperti Mommyku yang baik hati. Dan dia..." Suzanne tidak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya menunjuk Daniel dengan dagunya.
"Dan aku kenapa, Hem?" tanya Daniel seraya menatap mata hijau gadis itu.
🍀
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
Vote
Vote
Hehehe 😅😍
__ADS_1