Asmara Sang Pengawal

Asmara Sang Pengawal
# Part 61 Asmara SP


__ADS_3

Meskipun tidak lagi memakai adat kebiasaan Dagestan, akan tetapi Omar menolak pernikahan dadakan yang ditawarkan oleh Harry untuk sang putri.


Pria asal desa Rakhata itu ingin pernikahan Elmira dipersiapkan dengan sangat baik oleh kedua belah pihak. Ia sangat berharap momen sakral ini tidak boleh diambil secara terburu-buru. Dan lagipula ia ingin memiliki hari-hari berkualitas dengan putrinya itu sebelum Harry memilikinya seutuhnya.


Harry Sean Kingston tampak sedikit kecewa dengan keputusan calon mertuanya itu. Apalagi Vedran Sean Kingston dan Shania juga tiba malam itu di Rumah kediaman Alex sang besan untuk ikut andil dalam lamaran kejutan ini.


"Itu tidak masalah Harry, kamu tidak perlu terlalu merasa kecewa seperti itu Boy," ujar Vedran, sang Daddy. Ia menepuk bahu putranya yang nampak menurun karena keinginannya tidak terpenuhi.


"Hey, coba pikirkan baik-baik supaya hatimu merasa lapang. Mana mungkin kamu menikahi Elmira saat ini sayang? ini di Rumah Alex dan bukan di Rumah Elmira sendiri?" ujar Shania dengan tatapan sayang pada putranya. Ia berharap Harry bisa mengerti dan tidak menunjukkan rasa kecewanya lagi.


"Masih ada hari esok kan ya?" Harry tersenyum kemudian memeluk Mommynya. Ia membenarkan perkataan dua orang yang sangat ia sayangi itu.


Ia akui kalau sangat tidak sabar memperistri Elmira sampai ia menyamakan kasus yang dialami oleh Daniel pada Suzanne sang adik.


"Ah iya, Mom. Aku akan memohon maaf pada Uncle Omar karena terlalu memaksakan keinginan Aku," ujar Harry tersenyum kemudian meninggalkan kedua orangtuanya dan melangkah menghampiri keluarganya Omar.


Vedran dan Shania hanya bisa tersenyum maklum. Cinta dan hasrat yang tidak terbendung membuat putranya lupa kalau Omar belumlah siap menyerahkan putrinya secepat itu.


"Apakah Harry mengikuti jejakmu sayangku?" tanya Shania seraya menatap wajah suaminya dengan tatapan menggoda. Vedran langsung meraih pinggang istrinya dengan gemas.


"Aku tidak tahu. Tapi Aku rasa ia lebih baik daripada Aku yang dulu sayang," bisik Vedran dengan suara rendah. Shania langsung tersenyum dan mengerti kata-kata suaminya.


"Karena Vedran yang dulu tidak perlu meminta dengan baik-baik. Ia suka memaksa, Hem." Shania langsung mencubit pinggang suaminya dan berpura-pura kesal.

__ADS_1


"Iya Tuan pemaksa, dan kamu membuatku hampir gila Vedran."


"Dan aku suka. Karena tidak ada satupun perempuan yang membuatku ikut gila kecuali kamu sayang," balas Vedran Sean Kingston kemudian meraih bibir istrinya dan mengulumnya lembut.


"Vedran, kamu tidak tahu situasi sayang. Ini tempat umum. Semua orang bisa melihat kita," gerutu Shania dengan wajah ditekuk. Ia sangat malu pada semua orang karena suaminya belum juga berubah meskipun sudah berumur.


"Ya Allah. Kamu nikmat yang harus Aku syukuri Shan. Kamu anugrah terbesar yang Tuhan berikan. Aku sangat mencintaimu." Vedran kembali ingin meraih bibir Istrinya tetapi Shania langsung mendorong tubuh suaminya agar menjauh.


"Kamu benar-benar ya Ved. Aku marah padamu. Lihatlah. Untungnya lispstik Aku waterproof," gerutu Shania dengan bibir mengerucut. Vedran tertawa kemudian meraih tangan istrinya.


"Kalau begitu kita bergabung dengan keluarga Smith. Ada banyak hal yang Ingin Aku bicarakan dengan mereka," ujar pria itu mengalah. Ia takut tidak bisa lagi menahan diri jika hanya berdua dengan istrinya itu.


"Kamu bergabung dengan mereka sayang. Aku ingin menemui Suzanne. Sejak tadi Aku tidak melihatnya dengan orang-orang itu."


"Suzanne sepertinya tidak ikut makan malam tadi. Ia mungkin sedang lelah dan masih beristirahat di kamarnya," ujar Aisyah ketika ia menanyakan tentang putrinya.


"Boleh Aku bertemu dengannya?"


"Tentu saja Shan. Anggap ini adalah rumahmu juga. Kamu bisa menemuinya kapan saja."


"Terimakasih banyak Aisyah."


"Ah, jangan katakan itu. Dan ya Aku akan meminta pelayan untuk mengantarkan mu ke kamar mereka." Aisyah pun meminta salah satu pelayan di rumahnya untuk mengantarkan Shania mengunjungi Suzanne.

__ADS_1


Shania sekali lagi mengucapakan terima kasih dan segera mendatangi Kamar putrinya dengan perasaan khawatir. Ia takut Suzanne sedang tidak sehat saat ini sampai melewatkan acara makan malam spesial yang sangat meriah di Rumah ini.


"Sue, apa kamu baik-baik saja?" tanya Shania saat mendapati putrinya itu masih berasa dalam gulungan selimut di atas tempat tidur.


Suzanne menggeliat kemudian membuka matanya. Ia merenggangkan otot-ototnya kemudian menatap seorang perempuan cantik yang sedang duduk di sampingnya.


"Mommy? kamu di sini?" tanyanya dengan wajah kaget. Ia langsung bangun dari posisinya seraya membuka selimut yang menutupi tubuhnya yang polos.


"Astagfirullah, Sue, tutup tubuhmu sayang," ujar Shania dengan mulut terbuka karena menyaksikan bukti percintaan putrinya dengan Daniel sang menantu. Perempuan itu membantu putrinya untuk menutupi seluruh tubuhnya.


"Aku sangat lelah Mom. Daniel tidak memberikanku waktu untuk beristirahat. Hoammm." Shania tersenyum kemudian berucap, " Itu karena kamu sangat menggemaskan sayang. Sekarang Mommy akan membantumu berpakaian. Kita akan turun dan bergabung bersama dengan keluarga suamimu."


"Tapi Aku masih sangat lemas Mommy," Suzanne merajuk manja karena tidak mau bertemu dengan orang banyak.


"Hey, itu tidak sopan sayang. Ayo cepat kita turun dan menyapa semua orang."


"Hum, Baiklah. Aku akan ikut denganmu Mom." Suzanne pun turun dari ranjangnya dan berniat untuk membersihkan dirinya di kamar mandi.


🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2