
Asma Smith melangkahkan kakinya dengan terburu-buru ke tempat kerjanya. Mobilnya yang tidak sengaja menabrak pembatas jalan itu sudah rusak.
Hal itu dikarenakan ia berusaha menghindari seorang perempuan tua penjual buket bunga di pinggir jalan yang sedang menyebrang.
Mobil itu akhirnya di derek oleh petugas ke Bengkel untuk menghindari kemacetan di jalanan yang ramai itu. Untungnya ia tidak mengalami cedera yang cukup parah. Kepalanya hanya terbentur sedikit dan mengalami memar.
"Aaaargh tolong!" Asma berteriak dengan nyaring karena seorang anak laki-laki remaja sengaja menabraknya dan membawa lari tasnya.
"Pencopet!" teriaknya lagi seraya memburu pria remaja itu. Nafasnya tersengal-sengal kelelahan karena memburu pencopet kecil yang cukup lincah larinya.
"Aaargh sial! Lain kali Aku harus lebih sering berolahraga supaya tidak mudah lelah seperti ini!" Asma memukul udara karena kesal.
"Harusnya Aku juga ikut ke Auckland dan melihat pernikahan Daniel Aaaaa! menyebalkan!"
"Dan bukannya berada di sini dengan pekerjaan yang banyak dan kecelakaan serta pencopet!"
Gadis itu Terus menggerutu kesal dengan semua hal buruk yang ia alami hari ini. Emosinya sangat tidak baik sekarang. Dan beberapa kejadian semakin menambah kegalauan hatinya.
Ia pun berhenti di depan blok itu untuk beristirahat. Ia lelah dan sekarang merutuki dirinya yang mau memburu pria remaja itu.
Harusnya Aku ikhlaskan saja, isinya juga bukanlah hal yang mewah ataupun mahal.
Ish! Menyebalkan!
Gadis itu menggerutu dalam hati dan berniat untuk pulang. Ia melanjutkan langkahnya ke Sebuah perusahaan yang dipimpin oleh sang Daddy, Alexander Smith.
Huffft
Asma menarik nafas panjang karena kesalnya belum juga reda. Sungguh ia bingung dengan apa yang terjadi. Ini adalah kali pertamanya bertemu dengan seorang pencopet selama ia tinggal di kota Moskow.
Langkahnya terhenti di depan blok bangunan yang ia lewati tadi. Matanya menatap tak berkedip apa yang ia lihat dihadapannya.
Pria remaja yang membawa lari tasnya ada di depan hidungnya sendiri dan sedang dipukuli oleh seorang pria dengan setelan jas rapih.
Bugh
__ADS_1
"Aaaargh!"
Bugh
"Aaaargh!"
"Ampun Tuan!"
"Aku serahkan tas ini tetapi kamu jangan memukulku lagi." Pencopet itu memohon ampun dan segera menyerahkan sebuah tas milik Asma kepada seorang pria tampan yang membuatnya babak belur.
Viktor menerima tas itu kemudian memberikan satu kali lagi pukulan pada anak itu.
"Dasar nakal! Lain kali bekerjalah dengan cara yang baik!" ujarnya dengan senyum miring di bibirnya.
Pencopet itu langsung pergi dari hadapan Viktor dengan mendengus kecewa. Sedangkan pria itu sangat gembira karena perbuatannya yang super heroik disaksikan langsung oleh gadis pujaannya selama ini.
"Ini tasmu?" tanya Victor berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Padahal ia sendiri yang mengatur agar pria remaja tadi mencopet tas gadis cantik dihadapannya ini.
"Terimakasih Vic. Tapi kok kamu tahu?" Asma meraih tas itu kemudian memeriksa isinya.
"Aku melihatmu tadi memburu pencopet itu jadi Aku segera ke sini untuk menghadangnya. Dan Alhamdulillah Aku mendapatkannya." Victor menjawab dengan senyum lebar diwajahnya. Ia berharap sekali kalau Asma bangga padanya.
"Anak nakal. Seharusnya ia mendapatkan lebih dari itu. Aku tidak suka kalau ada anak yang bekerja sebagai pencopet. Untunglah Aku ada disini 'kan?"
"Ah iya. Terimakasih banyak ya." Asma mengucapkan kalimat terimakasih lagi pada pria yang telah menolongnya itu.
"Tidak perlu berterima kasih sebanyak itu Asma. Cukup kamu mau menerima undangan makan siang dariku, Aku sudah sangat senang."
"Ah iya. Undangan itu patut Aku pertimbangkan," ucap Asma tersenyum. Ia juga sangat ingin bersama dengan pria tampan ini. Pria yang baik hati dan sering menolongnya di tempat kerja.
Victor tersenyum lebar. Ia yakin nilai kebaikannya saat ini pasti sudah semakin tinggi di hati gadis cantik ini.
🍀
Sore itu keluarga Smith sudah sampai di kediaman mereka dengan perasaan senang. Mereka baru tiba dari New Zealand selama beberapa hari untuk permasalahan yang dialami oleh Daniel.
__ADS_1
ElRasyid dan Elmira sendiri sudah berada di rumahnya sedangkan Nikita bersama suami dan anaknya langsung melanjutkan perjalanannya ke Birmingham. Mereka akan datang lagi saat pesta pernikahan sang adik dirayakan.
Daniel sendiri langsung berangkat ke Perusahaan tempatnya bekerja untuk menyelesaikan segera proyek yang sedang ditangani olehnya. Ia berharap urusannya di sini bisa dilalui dengan cepat karena ia sudah sangat merindukan Suzane di Auckland.
Asma yang baru pulang bekerja langsung menubruk sang Mommy dan memeluknya.
Ia ingin meluapkan kekesalannya atas hari yang buruk yang ia alami seharian ini pada perempuan yang telah melahirkannya itu.
"Aku menyesal tidak ikut ke Auckland Mom. Di sini banyak hal yang tidak menyenangkan," gerutu Asma dengan wajah ditekuk kesal.
"Hey jangan berkata seperti itu sayangku," ujar Aisyah dengan tangan mengelus lembut punggung sang putri.
"Segala sesuatu yang terjadi ada hikmahnya sayang. Tidak semua yang buruk itu benar-benar buruk. Jadi kamu harus lebih banyak bersyukur ya."
Asma terdiam dan merasakan hatinya menghangat. Ini yang selalu yang ia rindukan pada sang Mommy. Perempuan cantik ini selalu ada saat ia sedang kesal dan juga bersedih.
"Ada hikmah tidak yang bisa kamu ambil dari kejadian yang kamu anggap buruk ini?" tanya Aisyah setelah melihat putrinya terdiam lama. Asma mengangguk kemudian tersenyum. Pipinya tiba-tiba saja ia rasakan menghangat.
"Hey ada apa? ceritakan sama Mommy sayang." Aisyah tahu pasti ada yang terjadi pada putrinya saat ini.
"Victor menyatakan Kalau ia mencintaiku Mom."
🍀
Siang itu Rumah keluarga Dokter Omar Yusuf sedikit ramai dari biasanya. Sebuah keluarga dari sahabatnya sesama Dokter sedang datang berkunjung untuk mengikat tali silaturahim yang lebih dalam lagi.
Dokter Sergey Abdullah dan juga Istrinya Gazeta sudah hadir di rumah Omar saat ini dengan perasaan yang sangat gembira. Mereka datang untuk melamar Elmira untuk putra mereka satu-satunya, Victor Abdullah.
"Alhamdulillah. Hubungan keluarga ini bisa kita jalin semakin erat dengan penyatuan Victor dan juga Elmira." Omar memulai pembicaraan serius itu dengan wajah sumringah. Tetapi tidak bagi Anna.
Perempuan itu sejak tadi tidak bisa tersenyum dan bahagia seperti suaminya karena Elmira saat ini belum juga mau membuka kamarnya. Ia yakin sekali kalau putrinya itu menolak perjodohan ini tetapi tidak ingin melawan sang Daddy.
🍀
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍