
Kashmir.
Harry Sean Kingston bersama rombongan pasukan perdamaian PBB tiba di wilayah perbatasan negara Pakistan dan India yaitu tepatnya di Kashmir malam itu juga.
Perang dan Konflik antar dua negara ini merupakan perang-perang dan konflik-konflik yang sering terjadi antara India dan Pakistan, sejak pemisahan India pada Agustus 1947.
Dua negara ini sudah sering sekali berkonflik karena perebutan wilayah Kashmir dan kini bermasalah lagi dan sudah berhasil menjatuhkan korban sampai 1000 orang.
Pasukan perdamaian PBB pun tidak tinggal diam dan segera turun tangan untuk mendamaikan mereka.
Beberapa prajurit terlatih didatangkan ke tempat itu karena banyaknya kasus bom yang tiba-tiba meledak di saat-saat tertentu padahal gencatan senjata telah mereka lakukan.
Harry Sean Kingston yang terkenal sebagai penakluk benda yang sangat berbahaya itu langsung bertugas menyisir tempat-tempat di daerah itu ditengah malam buta itu.
Putra pertama Vedran Sean Kingston itu sungguh tidak ingin mengambil banyak waktu di negara asing karena sebuah hal besar juga terjadi pada adiknya di Moskow.
Puluhan bom sudah berhasil ia jinakkan dalam waktu yang lumayan singkat. Waktu yang sangat sepi itu gunakan dengan sebaik-baiknya dan ternyata mendapatkan hasil yang sangat luar biasa.
Setelah ia pikir daerah perbatasan itu sedikit aman. Ia pun berniat pulang ke tenda tempat teman-temannya berada. Tetapi langkahnya terhenti karena sesuatu yang mencurigakan bergerak cukup cepat dihadapannya.
Seeet
Ia berlari dengan cepat untuk mendapatkan sosok mencurigakan itu dan ternyata berhasil menangkapnya.
"Hey siapa kamu?" tanyanya pada seseorang yang menutupi seluruh tubuhnya dengan pakaian ala daerah itu.
Orang itu tidak menjawab dan berusaha untuk kabur dan melarikan dirinya tetapi tangan gesit Harry segera menarik tangannya dan berhasil melepaskan cadar yang menutupi wajah orang itu.
Seeet
"Aaaaaaaa."
Orang asing yang ternyata seorang perempuan cantik itu hampir terjatuh di tanah keras itu tetapi segera diselamatkan oleh Harry dengan meraih pinggangnya.
Wajah dan tubuh mereka sangat dekat begitu pun mata mereka berdua saling bertatapan dengan sangat intens.
Deg
Untuk pertama kalinya Harry Sean Kingston merasakan desiran lembut terjadi pada hatinya. Ia tak sadar tersenyum dan tiba-tiba berteriak keras.
__ADS_1
"Aaawwwww."
Perempuan cantik bermata bulat itu menginjak kakinya dan segera melepaskan dirinya.
"Oh Sial!" umpatnya dengan keras. Perempuan cantik yang membuatnya lupa akan tugas negara yang sedang dilakukannya itu sudah pergi entah kemana.
Mata biru Harry menyusuri keseluruhan tempat yang sudah sepi dan terasa dingin itu tetapi perempuan itu sudah tidak ada.
"Cepat sekali perginya." ujarnya pelan seraya meraih semua perlengkapannya dengan segera melanjutkan langkahnya ke arah Kamp mereka. Ia berharap tidak ada lagi kasus bom yang meledak tiba-tiba di tempat itu besok pagi.
🍀
Moskow, Rusia.
Alexander Smith menatap mobil yang sudah meledak itu dengan tatapan datar. Ia dan Maksim telah berhasil membuat penyerang mobil putranya dengan membuatnya menabrak pembatas jalan dan meledak.
Dua orang pembunuh bayaran itu sudah ia buat babak belur setelah ia tanyai apa tujuan mereka mengikuti mobil Danie, putranya.
Dua orang itu lebih memilih mati daripada memberitahu siapa yang menyuruh mereka sehingga Alex dan Maksim menyerahkan dua cecunguk itu untuk dibawa ke kantor Polisi.
Tak berapa lama kemudian mobil Daniel berhenti di tengah jalan hingga Alex segera meminta Maksim untuk menurunkannya. Ia ingin tahu apa yang terjadi dengan putra keduanya itu.
"Gadis ini pingsan Dad. Dan kurasa bukan hal yang tepat jika ia tetap aku bawa ke Bandara." jawab Daniel dengan wajah berubah khawatir.
Ia tak menyangka gadis cerewet dan manja ini akan tak sadarkan diri padahal hanya karena laju mobil yang ia kendarai sangat cepat.
"Bawa Ke Rumah sekarang. Dan kamu berhutang penjelasan tentang apa yang terjadi saat ini." titah Alexander Smith seraya meninggalkan mobil putranya dan menuju ke arah kendaraan roda empat yang dikendarai Maksim.
"Ada apa Alex?" tanya Maksim penasaran. Alex tersenyum kemudian memandang jalanan di depannya.
"Daniel bersama dengan seorang gadis. Dan kurasa ia sudah mulai bermain-main dengan anak orang sekarang."
"Gadis? Daniel mempunyai kekasih?" Maksim menatap wajah Alex dengan wajah tak percaya. Semua orang tahu bagaimana sifat anak itu selama ini. Ia tidak pernah mau membicarakan tentang seorang gadis ataupun berniat berkencan.
"Iya Max. Dan kurasa penyerangan ini karena gadis itu. Dan engkau pasti sudah tahu maksud aku kan Max?"
"Ah iya, aku sudah sangat tahu. Daniel kurasa sudah pantas untuk menikah." jawab Maksim dan segera melajukan mobilnya mengikuti Daniel yang sudah berjalan lebih dahulu.
Ciiiiiit
__ADS_1
Daniel tiba di Rumah kediaman keluarganya setelah hampir 30 menit berkendara. Ia membuka seatbeltnya dan menatap gadis cantik yang ada disampingnya itu dengan perasaan tak terbaca.
"Hey, bangun!" titahnya pada gadis yang masih betah menutup wajahnya itu. Suzanne tidak bergerak. Hingga akhirnya pria itu turun dari mobilnya dan mengangkat gadis cantik itu ke dalam rumahnya yang sangat luas.
Aisyah yang bertemu dengannya di dalam rumah itu langsung menghampirinya dengan wajah khawatir.
"Daniel? siapa gadis ini sayang?" tanyanya pada putranya.
"Suzanne Mom. Dia sedang pingsan." jawab Harry seraya melangkah melalui tubuh sang mommy.
"Kamu mau bawa kemana Daniel?" tanya Aisyah seraya mengikuti langkah putranya.
"Ke kamar Asma. Kurasa anak itu pasti bisa membagi ranjangnya malam ini dengan gadis ini, Mom."
Aisyah tersenyum. Ia sangat gembira karena putranya sangat tahu batasannya jika bersama dengan gadis yang bukan muhrimnya.
"Kamar tamu juga ada sayang," ujar Aisyah memberi saran. Tetapi Daniel tetap melangkah ke arah kamar adik perempuannya.
"Gadis ini butuh teman, Mom. Ia sedang tidak baik-baik saja." jawab Daniel seraya mendorong pintu kamar Asma dengan lengan bagian atasnya.
"Kak Daniel? siapa itu?" tanya Asma yang langsung menghentikan kegiatannya dan menghampiri kakaknya.
"Ini teman baru kamu. Ajak ia bicara. Karena ia sama sepertimu. Cerewet dan manja!" jawab pria itu seraya meletakkan tubuh Suzanne dengan pelan.
"Ish. Kamu tidak pernah berkata yang baik padaku Kak." timpal Asma yang langsung membuat Aisyah tersenyum. Dua putra putrinya itu tidak pernah kelihatan akur tetapi mereka saling menyayangi.
"Kalau dia sadar. Katakan kalau ia sudah sampai di New Zealand." ujar Daniel kemudian keluar dari kamar adiknya itu.
Asma hanya mendengus mendengar kata-kata kakaknya.
"Mom, Apakah kamu tahu siapa gadis ini?" tanya gadis itu seraya memandang wajah seorang gadis yang berbaring tak sadarkan diri itu. Aisyah mengangkat bahunya kemudian menjawab.
"Mungkin ia jodoh kakakmu."
🍀
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍