Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 10


__ADS_3

Hujan sudah reda, kami terbangun dari tidur yang pulas. Meskipun sesak dan sempit tidur di sofa, badan terasa segar setelah tidur cukup lama.


Aku membereskan sofa tempat kami tertidur, termasuk bantal dan selimut. Briyan duduk di teras, ia terlihat sedang menyalakan rokoknya. Aku pikir ia tak bisa merokok, baru kali ini aku melihatnya.


Karena cuaca masih dingin, aku membuatkan segelas kopi untuknya segelas kopi susu untukku. Aku kembali lagi ke kamar untuk mengambil sebuah jaket di dalam lemari lama ku. Kemudian kembali keluar menemui Briyan. Namun Merry masuk ke kamarnya memainkan gadget nya. Sepertinya ia juga tak ingin mengganggu waktu kami berdua. Seandainya ia tahu sebenarnya ia sama sekali tak mengganggu waktu kami.


Aku menemani Briyan duduk disebelahnya. Melihatku duduk, dengan cepat ia mematikan rokoknya. Menurutku, sikapnya lumayan sopan. Andai saja ia tak mematikan rokoknya, mungkin aku tinggalkan saja dia sendirian di luar.


"Dimana Merry?" tanya Briyan sambil menyeruput kopinya.


"Dia lagi main gadgetnya di kamar."


"Baguslah, kita bisa berduaan," ia tersenyum kepadaku. Senyumnya yang licik itu benar-benar membuatku jengkel.


"Apa ada hal yang penting pak? kalau ada cepat katakan, kalau tak ada sebaiknya kamu pulang ke rumahmu," aku mengatakannya dengan santai dan ketus.


"Kamu galak sekali sih, kamu juga nggak pernah memanggilku dengan sebutan hani. Bukannya itu sudah menjadi kesepakatan kita berdua?"


"Aku takut pak,"


"Takut apa?"


"Aku takut benar-benar jatuh cinta sama kamu nanti." Aku semakin ketus dan jengkel.


"Ha ha ha ha ha, biar kata kamu adalah jodoh sungguhan ku, tulang rusuk ku atau separuh nafas ku, aku akan terima kamu apa adanya Dewi, ha ha ha ha ha," ia tertawa terbahak-bahak.


Aku terdiam saja mendengar dia terus mengejekku. Mungkin besok atau lusa akan ku balas perbuatannya ini. Aku benar-benar kesal padanya. Ia bahkan bersikap santai saja, seolah-olah dunia ini dapat ia kendalikan sekarang.


"Dewi, jadi begini.. nenek dan kakek ku ingin sekali bertemu sama kamu secepatnya. Kapanpun kamu siap, akan aku ajak kamu ke rumahku," ucapnya berbicara santai namun aku yakin dari nada bicaranya ia pun sebenarnya juga tegang.


"Ya, aku siap kapanpun. Tapi, aku nggak mau penampilanku memalukan di sana. Aku mau kamu ajak aku ke salon, membeli pakaian yang layak atau terserahlah yang penting aku nggak terlihat memalukan."

__ADS_1


"Itu gampang Dewi, kita bisa ke luar sekarang kalau kamu mau," ucapnya lagi.


"Jangan sekarang pak, cuaca sedang mendung. Aku takut kita terjebak hujan lagi."


"Yasudah, kapanpun kamu siap aku jemput," tegas Briyan.


Lama kami mengobrol, obrolan kami hanya seputar rumah dan keluarganya. Bagi ku tak terlalu penting, karena mereka bukan keluargaku yang sesungguhnya. Namun, aku akan tetap memperhatikan hal-hal kecil lainnya. Karena aku tak ingin membuat diriku malu.


Tak berapa lama hujan kembali turun, cuaca kembali dingin. Aku lihat Briyan mulai kedinginan, jadi aku kembali masuk ke kamarku dan membuka lemari pakaianku untuk mencarikan sebuah jaket untuknya. Untung saja, aku teringat jaket yang biasanya aku bawa untuk bekerja memotong ayam. Jaket itu cukup besar dan tebal, pasti akan muat di kenakan Briyan.


Aku keluar menenteng jaket berwarna merah marun milikku dan menyerahkannya kepada Briyan. Briyan dengan senang hati menerimanya. Entah apa yang dipikirkannya, jujur saja aku tak pernah menerima tamu laki-laki di kost ku se sering Briyan dan selama dia bertamu. Aku menghembuskan nafas panjang, berharap ia cepat pulang ke rumahnya.


"Pak, kenapa kamu tinggal di kost-kostan? kenapa tak tinggal di rumahmu saja?" tanyaku penasaran. Aku menekuk lutut ku dan memeluknya, tanda aku sedang kedinginan.


"Aku suka kebebasan, aku lebih suka menyendiri di kost yang sempit," ungkapnya kembali menyalakan rokoknya. Angin kencang membuat asap rokoknya terbang kesana dan kemari, tak berfokus padaku.


"Apa ada masalah di rumah kamu pak?" tanyaku lagi.


"Sama sekali tidak. Sebenarnya aku sering pulang ke rumah. Tapi, sejak kecelakaan yang melukai kamu aku jadi jarang pulang," tegasnya.


Kami masih duduk di teras kedinginan. Andaikan Briyan adalah suamiku yang aku cintai, mungkin sekarang aku ingin dia memelukku untuk memberikan kehangatan padaku. Kabar baiknya, tak ada petir menyambar, karena aku paling takut pada sambaran petir. Kalau ada Sambaran petir, aku pasti sudah masuk ke kamarku tarik selimut dan menutup telingaku dengan bantal.


Keesokan hari, kami bekerja seperti biasa. Aku mengenakan pakaian kerja atasan hem berwarna hitam dengan celana panjang berwarna coklat. Hanya saja hem yang ku pakai adalah hem dari dalam lemari lama ku. Sudah lama aku tak memakai Hem ku yang ini. Aku sangat merindukan pakaianku dan semua tas yang aku punya.


Aku menawarkan meminjamkan Merry tas padanya, karena ia hanya punya 2 tas yang dipakai nya secara bergantian.


"Merry, kalau kamu pakai tas ku pakai saja. Ada di lemari yang itu," ucapku menunjuk lemari ku yang satunya lagi.


Merry membuka lemari ku, ia terlihat kebingungan memilih tas yang ada di hadapannya. Ia memilih tas berwarna krim untuk dia pakai.


"Kamu punya banyak sekali tas," ucapnya sambil terus memperhatikan tas milikku, "aku sangat suka sekali model tas seperti ini, kalau kita punya waktu nanti aku mau kita shoping sebentar membeli tas dan pakaian untuk ku."

__ADS_1


"Ya, itu gampang Mer. Tunggu minggu depan," kataku membenahi rambutku.


Rambutku sudah panjang, tapi berantakan sekali kalau tak dikuncir. Aku berpikir mungkin akan memotongnya pendek saja, agar terlihat rapi.


Kami berdua berangkat kerja. Kali ini aku menggunakan motor matic ku membonceng Merry. Kami sampai di parkiran, para karyawan mulai berdatangan dengan wajah sumringah.


Semua karyawan nampak ramah padaku. Awalnya mereka semua terlihat cuek. Entahlah, aku tak mengerti dan aku tak perduli. Aku hanya pusing menerima gaji bulan ini yang terlalu kecil. Kira-kira, kalau aku meminta gaji tambahan pada calon suami tercintaku itu apa dia akan memberikannya? gumam ku dalam hati.


Tidak! itu sama saja dengan menjatuhkan harga diriku. Aku masuk ke ruangan ku, Briyan belum datang jadi aku membuatkannya kopi saja terlebih dahulu sebelum ia memintanya. Biasanya dia akan meminta kopi susu di pagi hari, dan kopi hitam yang agak pahit di siang hari.


Aku meletakkan kopi susu di atas meja pak Briyan. Tiba-tiba 4 orang karyawati muncul dan masuk ke dalam ruangan Briyan. Seseorang dengan riasan yang cantik mendekatiku dan menatapku dengan sinis.


"Jadi, kamu.. sekretaris baru dan calon istri pak Briyan yang baru? heh! dari mana Briyan memungut gembel ini??" ucapnya sambil mengibaskan rambutku, ia nampak tak senang padaku.


Aku menepis tangannya. "Jangan pegang-pegang! memangnya kenapa kalau aku calon istrinya? kamu cemburu?!" aku menyahut ucapannya.


Wooaaww... Teman-tamannya besorak mendengar ucapanku.


"Kamu nggak akan bisa jadi istrinya Briyan, kamu sama sekali bukan tipe nya. Dia hanya tertarik sama aku, kamu paham?!" ucapnya dengan sinis.


"Jadi, kenapa kita nggak obrol kan saja masalah ini 6 mata. Kamu, aku dan Briyan?" ucapku menantangnya.


"Ya, kita akan bicarakan ini bertiga setelah jam kerja selesai," ucapnya dengan santai lalu pergi.


Aku menarik nafas panjang, rupanya Merry memperhatikanku dari ruangannya. Merry segera menyusulku.


"Apa yang dikatakan Yuri sama kamu Dewi??" Merry terlihat gugup setelah kepergian perempuan itu.


"Oh, jadi namanya Yuri. Kenapa kamu nggak pernah menceritakan kalau pak Briyan punya hubungan sama Yuri??"


"Hubungan apa?? pak Briyan nggak pernah punya hubungan apapun dengan Yuri, setahu ku. Lebih baik kamu konfirmasi saja ke pak Briyan secepatnya. Dia terlalu berbahaya untuk kamu."

__ADS_1


"Aku nggak pernah takut padanya," ucapku santai dan ketus.


Tak berapa lama Briyan datang, aku tak bisa menahan emosiku. Rasanya ingin ku tampar wajahnya dengan kepalan tanganku, dasar lelaki buaya darat! caci ku dalam hati.


__ADS_2