
Sekarang kami semua berada di gedung tempat aku dan Briyan akan melaksanakan resepsi pernikahan kembali. Sungguh pernikahan yang ribet, dan membuang-buang waktu. Tapi apalah daya, semua ini kemauanku sendiri dan juga persetujuan keluarga Briyan.
Greeekkk!
Greeekkk!
Suara meja meja-meja di tata, dekorasi sudah sepenuhnya selesai. Siapapun yang melihat ini akan terpana oleh keindahannya. Bu Presdir lah yang sudah memilih dekorasi ini. Dengan nuansa warna abu muda yang begitu elegan.
Perias banci juga sudah berada di ruangannya menyiapkan make up yang akan aku gunakan, dan lain sebagainya. Kali ini aku tak andil sedikit pun dalam hal ini. Bu Presdir dan si perias banci lah yang sudah menentukan segalanya.
"Sayang, aku mau ambil foto kita berdua." Briyan tiba-tiba datang dan memberikan ponsel pada petugas kebersihan. Kemudian ia menarik ku dan memaksa kami berdua untuk berfoto. "Tolong, foto kan yang benar ya." Ucap nya lagi.
"Ta—tapi...."
"Sssttt!" Briyan mengisyaratkan ku untuk menurut.
"ini, pak!" pertugas kebersihan itu menyerah ponsel Briyan. "Bagaimana? apakah mau saya foto lagi?"
Aku dan Briyan bergegas melihat hasil foto, dan hasilnya lumayan bagus.
"Waaaahhh, terima kasih ya. Ini saja sudah cukup." Ucap Briyan berterima kasih pada petugas kebersihan.
"Fotonya bagus sekali." Aku terus memandangi foto itu dan segera ku kirim ke ponsel milikku.
"Iya sayang, ternyata kita memang pasangan serasi... nanti, anak kita pasti ganteng dan cantik." Briyan tak berhenti tersenyum melihat foto kami berdua.
"A—apa??"
"Kenapa sayang? kita kan sudah menikah... suatu hari nanti kita pasti akan punya anak."
"A—apa iya...?" aku tersipu malu dibuatnya, aku bergegas menuju ruangan make up.
"Sa—sayang... kamu mau kemana??" Briyan memanggilku.
__ADS_1
"Aku harus bersiap sekarang." Aku menyahutnya tanpa menoleh.
Si perias sudh menunggu di ruangannya.
"Cuci dulu wajahmu Dewi, gunakan sabun wajah ini." Ucap si perias menyerahkan sebotol besar sabun pencuci wajah. "Setelah itu cuci lagi menggunakan yang ini, okey?" ia memberikan sebotol lagi sabun pencuci wajah yang berukuran sama hanya saja warna nya berbeda.
"Oke." Aku segera mencuci wajah ku di tempat yang sudah tersedia.
Setelah beberapa saat aku kembali ke ruang make up dan siap di rias. Ku lihat semua orang sedang sibuk mempersiapkan segalanya, dan aku di sini hanya menikmati perawatan wajah. Aku berharap semoga acara resepsi ini berjalan lancar tanpa gangguan apapun.
Dan hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku.
Aku dan Briyan melakukan sesi foto beberapa kali, meskipun ini membuat kami lelah. Tapi aku yakin, hasilkan tak akan mengecewakan. Sesekali bapak dan bu presdir juga ikut berfoto, kakek dan nenek Briyan. Kemudian Sean dan Merry. Tentu saja orang yang sudah membantu kami tempo hari, Kalia. Dan beberapa tamu penting lainnya.
Suasana begitu syahdu, hanya dengan beberapa tamu undangan yang hadir, mungkin hanya ada sekitar 50 orang di ruangan ini.
Akan tetapi, menu makanan yang tersedia bukan kaleng-kaleng, mungkin mengalahkan perjamuan ratu Inggris. Segala menu makanan, kue, buah dan aneka minuman es buah terbentang luas di hadapan para tamu.
Akan tetapi diantara para undangan itu, mataku tertuju pada seseorang yang membuatku dan Briyan terkejut.
Sena?!
"Kakak, aku juga mau berfoto bersama denganmu." Sena menyerahkan ponselnya pada fotografer.
Suasana menjadi sangat canggung, akan tetapi Sena sepertinya biasa saja. Si fotografer menyerahkan ponsel Sena kembali.
"Kakak, kemarin kan kamu sudah menikah.. kenapa hari ini menikah lagi? apa maksudnya?" tanya Sena kepadaku.
"Apa bedanya menikah kemari. dan menikah hari ini? pernikahan hari ini cuma formalitas saja, aku harap kamu nggak mengacau. Duduk saja di kursi tamu manapun yang kamu sukai." Ucapku pad Sena.
"Iya."
Kenapa dia menurut sekali? biasanya dia langsung saja mengeluarkan tingkah anehnya untuk mencari perhatian. Tapi, hari ini dia nampak menurut. Dia nampak memakai pakaian feminim biasa, tapi dengan gaya nya begitu dia sangat pantas berada di sini.
Hanya saja, aku masih kesal ketika mereka pulang ke rumh dan terus meminta uang pada Briyan, itu membuatku sangat muak. Apakah kali ini Sena akan memeras ku arau Briyan lagi? darah tinggi ku hampir saja naik. Tak ku sangka Sena akan datang ke gedung ini, dia pasti mengikuti ku. Dan kabar baiknya, dia tak bersama Ben kekasihnya itu.
__ADS_1
Ah! sial sekali!
"Sayang... jangan emosi dulu, emosi kamu nampak tak terkendali." Briyan menepuk bahuku membangunkan ku dari pikiran ku yang terus bergulat.
Aku mengangguk padanya. "Iya."
"Ini pernikahan kita, hari paling bahagia untuk kita. Sudah sepantasnya kita berbahagia, singkirkan lah dulu sejenak pikiran dan emosi mu." Briyan berusaha menenangkan ku.
Aku menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Aku menciba berpikir positif dan membuang jauh-jauh kegelisahan ku.
Sena nampak mengambil makanan di meja, ia makan dengan lahap dan beberapa kali bolak balik mengambil hidangan di atas meja. Akan tetapi, pemandangan satunya lagi membuatku semakin emosi.
Dari kejauhan nampak Ben sedang menoleh ke kanan, kiri, depan dan belakang untuk mencari Sena. Jantungku berpacu, laki-laki itu masih memiliki nyali untuk bertemu denganku di sini. Mungkin ia menginginkan pukulan yang lebih keras lagi.
"Sayang ternyata kamu di sini?? aku lelah menunggu kamu di luar tahu!" Ben menghampiri Sena dan wajahnya nampak tidak senang.
"Sayang, kamu nggak lihat aku lagi makan enak? mendingan kamu duduk dan nikmati saja semua makanan yang ada di sini." Ucap Sena sambil makan dengan lahap.
"Memangnya ini acara pernikahan temen mu sayang? kamu bisa seenaknya makan??"
"Kenapa kamu bingung sih, yang menikah itu kakak ku Dewi." Sahut Sena sambil menunjuk kearah ku dan Briyan.
"Apa itu kakak mu yang kemarin?"
"Iya, nah tunggu apalagi. Ayo cepat ambil makanan mu sayang!" Sena memaksa Ben berjalan menuju meja yang dipenuhi dengan makanan.
Mereka berdua seperti orang yang kelaparan bolak balik mengambil makanan di meja. Pemandangan itu sungguh membuatku malu. Aku tak memiliki nyali untuk menatap kedua mertuaku.
Kakek dan nenek juga memperhatikan Sena dan Ben.
Nenek bertanya, "siapa mereka Briyan? nenek belum pernah melihat mereka??"
"Oh, itu... itu adiknya Dewi nenek. Dia Sena, apa nenek lupa?" tanya Briyan.
"Ooh, dia... ya, ya Nenek ingat. Mereka berdua nampak lapar sekali, mungkin mereka belum makan. Nanti kalau mereka pulang suruh mereka bungkus beberapa makanan untuk di bawa pulang."
__ADS_1
"I—iya nek." Sahut Briyan.
Hingga acara pernikahan selesai Sena dan Ben masih berada di sana. Mereka sekarang kekenyangan dan tak dapat bergerak lagi. Hanya bisa terduduk di kursi tamu.