
Sepertinya aku sudah mendapatkan sebuah ide yang cemerlang. Aku harap ini bukan hanya sekedar ide.
Aku memutuskan untuk membuka toko roti. Untung saja, kemampuan ku mengolah roti tidaklah buruk. Aku cuma perlu mengasah kemampuanku dan lebih percaya diri lagi.
Hari ini adalah hari liburku bekerja, aku dan Briyan memutuskan untuk santai di rumah saja.
"Sayang, kamu masih sibuk dengan pekerjaanmu?" tanyaku pada Briyan.
"Iya, meskipun aku nggak berangkat ke kantor tapi aku harus tetap bekerja di rumah. Sebenarnya hari ini aku ada presentasi, tapi aku bosan presentasi berdiri menjelaskan. Jadi, hari ini aku menjelaskan presentasi ku dengan daring."
"Daring? apa itu?"
"Kamu nggak tahu daring?" tanya Briyan heran.
Aku menggeleng.
"Kata lain dari online, sayang..."
"Oh..."
"Sayang, kalau lagi menganggur tolong sambil pijit pundak ku." Pinta Briyan.
Aku mendekat dan mulai memijit pundak nya.
__ADS_1
"Sayang, aku mau buka usaha roti. Bagaimana menurut kamu?" akhirnya aku menyampaikan unek-unek ku juga pada Briyan.
"Roti? em... bagus juga. Jadi, apa kamu sudah siap?"
"Belum, makanya aku mau percobaan bikin roti dulu di rumah. Di dapur kan alat untuk bikin roti sangat komplit, aku tinggal beli bahan nya saja."
"Kalau begitu cobalah bikin roti apa saja yang kamu bisa hari ini, aku akan memakannya nanti."
Perkataan Briyan sungguh membuatku senang. Dia benar-benar tahu bagaimana cara mengatakan kalimat suport pada ku. Aku merasa sungguh beruntung.
"Aku akan beli bahan-bahannya dulu."
"Oke, sayang... ngomong-ngomong apa itu yang menggantung di sana?" tanya Briyan menunjuk gantungan di samping lemari.
"Itu, mukena ku. Apa itu mengganggu pemandangan?"
"I—iya, kebetulan kamu nggak minta jatah kan. Jadi nggak perlu mandi dini hari." Aku mengatakan itu sambil keluar dari kamar.
"A—apa?? oh, mungkin kita perlu diskusi tentang jadwalnya. Sayang.... sayang.... aku belum selesai bicara."
Aku buru-buru meninggalkan Briyan, aku masih malu-malu dalam hal seperti itu. Aku lebih suka hal-hal romantis yang Briyan katakan ataupun hal-hal kecil. Membahas hal seperti itu membuat jantungku berdebar tak beraturan ketimbang menghajar beberapa orang preman.
Aku menyalakan sepeda motor dan bergegas membeli perlengkapan untuk membuat roti. Aku membelinya di minimarket terdekat. Setelah itu buru-buru pulang.
__ADS_1
Aku menyiapkan beberapa bahan dan bersiap membuat roti, aku berharap keahlian ku ini bisa mengantarkan ku pada kesuksesan. Beberapa ART juga ikut membantu, akan tetapi aku menegaskan kalau aku ingin mengeluarkan kemampuanku sendiri, jadi mereka tak perlu terlalu repot membantuku.
Setelah adonan mengembang, aku memasukkannya ke dalam cetakan dan siap memanggang. Tak lupa aku menaburkan biji wijen ke atas adonan agar menjadi lebih cantik.
Aku memanggang dengan suhu tak terlalu tinggi selama kurang lebih 10 menit.
Tring!
Roti pertama ku sudah selesai. Aku meminta semua ART untuk memakan dan mengomentarinya, aku juga mengantar Briyan sebagian rotinya. Untuk Briyan aku memasukkan isi strawberry, nanas dan srikaya.
"Em... enak sekali roti ini." Briyan terus memakannya dengan lahap.
"Aku keliru."
"Kenapa kamu keliru?" tanya Briyan.
"Aku keliru menanyakan tentang roti ini padamu sayang, karena aku sudah tahu pasti jawabanmu. Kamu akan selalu bilang roti ini enak. Lebih baik aku tanyakan pada ART, mereka lebih berpengalaman."
"Benar juga apa yang kamu katakan sayang." Ucap Briyan terus memakan roti sambil terus asyik dengan laptopnya.
Aku kembali ke dapur menemui ART di dapur, mereka semua 3 orang. Aku tidak bisa mengingat nama mereka dengan cepat, jadi aku hanya memanggil mereka tanpa nama. Lagipula umur mereka tak ada yang lansia.
"Bagaimana, apa ada yang kurang?" tanyaku pada mereka.
__ADS_1
Salah seorang dari mereka menjawab. "Nggak ada yang kurang, rasanya sangat pas dan juga teksturnya. Roti ini lumayan lembut, akan tetapi aku mau lihat apakah roti ini masih sama lembutnya ketika sudah dingin."
Benar juga apa yang dia katakan, aku harus menunggu roti ini dingin untuk mengetahui dimana kekurangannya. Jadi kami menunggu beberapa saat hingga roti itu menjadi dingin.