
Tengah malam yang dingin, kami menghabiskan waktu makan malam kami.
"Makan mu banyak juga," celetuk Briyan.
"Ya dong, hidup sendiri dan berjuang sendirian nggak akan membuat ku jadi perempuan lemah. Makan dulu, baru kerja otak dan otot jadi lancar."
"Aku suka cara berpikir mu." Ucap Briyan meletakkan sendok nya di pinggir pinggir tanda ia sudah selesai makan.
"Briyan, sekarang kan posisi sekretaris sedang kosong. Apakah kalian terburu-buru mencari pengganti?"
"Em, kenapa kamu menanyakan itu?" Tanya Briyan cukup heran.
"Nggak apa-apa, aku cuma bertanya saja."
"Biasanya aku atau mamah akan mencari pengganti secepatnya, tapi semua dilakukan sesuai prosedur. Terutama kualifikasinya dan kualitas akan di nomor satukan."
"Jadi, kenapa kemarin kamu langsung memintaku untuk bekerja di sana menjadi sekretaris? kamu sama sekali belum mengetahui apapun tentang kinerja ku. Bahkan aku bisa bekerja tanpa melalui seleksi atau sejenisnya."
"Aku tahu tipe perempuan seperti kamu, Wi. Kamu pekerja keras. Jadi aku tahu, kamu nggak akan mengecewakan ku. Meskipun tanpa seleksi, lambat laun kamu pasti bisa menyesuaikan diri. Aku yakin itu."
Aku tertegun mendengar perkataan Briyan. Kenapa ia begitu yakin dengan ku yang baru saja dia kenal? entahlah. Mungkin itu salah satu keahliannya dalam menilai seseorang.
"Makanlah yang banyak, bisa jadi ini makan malam terakhir kita," ucap ku padanya.
Ia sedikit terkejut mendengarnya, "terakhir? kenapa harus terakhir?"
"Karena sudah nggak ada alasan buat kita bertemu lagi."
"Itu, kedengarannya menyakitkan," ucapnya tanpa menoleh padaku.
Aku sudah selesai makan, kami berjalan-jalan kecil di pinggir pantai. Kaki ku yang lecet telah ku lupakan rasa perihnya. Aku hanya memakai sendal jepit biasa. Entah bagaimana nasib ku besok memakai high heels lagi.
Semilir angin membuatku kedinginan. Aku melipat kedua tanganku menyilang. Tiba-tiba, Briyan memakaikan jaketnya padaku.
"Aku nggak apa-apa pak!" aku menolak jaket yang dia kenakan dari belakang.
Dia memaksa dengan mendekap kan tubuhku padanya. Aku agak terkejut merasakan pemaksaan itu. Tapi aku tak menolak nya, jadi aku mengenakan saja jaketnya. Karena dia memakai kaos panjang yang tebal.
"Terima kasih," aku mengatakan tanpa menatapnya. Entah kenapa jadi canggung rasanya.
Briyan tersenyum kecil, "sebaiknya kita pulang. Angin malam nggak bagus buat kesehatan, lagipula kamu seorang perempuan, nggak baik dilihat sama tetangga baru mu nanti."
"Ya."
Kami berjalan santai menuju mobil. Dan Briyan mengantarku pulang. Setelah mengantarku pulang, ia juga langsung pulang ke rumahnya.
Malam ini sangat dingin, tapi aku merasa hangat. Kehadiran Briyan malam ini cukup membuatku nyaman. Aku masuk ke dalam kamar kost ku dan langsung berbaring di tempat tidur.
Tanpa sadar aku sudah terlelap dalam mimpi hingga keesokan pagi. Hari ini aku dapat sift pagi, jadi aku tak bisa bangun kesiangan. Aku segera bangun dan bersiap. Aku hanya membeli makanan jadi di sekitar kost ku untuk menghemat waktuku.
__ADS_1
Sesampainya di mall, aku meminta izin pada manager untuk memakai sendal jepit biasa dan kaos kaki karena kaki ku sedang lecet dan sangat perih. Dan manager pun memberikan izin.
Aku di mana? ini seperti sebuah rumah, bukan. Ini istana... sangat cantik. Istana putih, dengan hiasan bunga mawar merah muda di sepanjang pintu, jendela, dinding ruangan. Gaunku, biru muda. Cantik mempesona, tunggu dulu! rambutku kenapa jadi ikal begini? ada cermin di hadapanku. Oh, cantiknya... diriku? benarkah ini diriku? kenapa cantik sekali? ini pasti mimpi. Ya, aku tahu ini mimpi.
Aku menikmati mimpi indah ku, istana yang mewah, gaun yang indah dan, ada seseorang diujung balkon. Aku berusaha mendekat, ia tampan sekali, lebih dekat lagi dan nampak ku kenal wajahnya, Briyan?
Aku menyingkap gaun mewahku dan mendekati Briyan, dan...
Drrrrtttt drrrrtttt drrrrtttt drrrrrtttttt drrrrrrttttt.
Aku terbangun mendengar getar ponselku. Nomor tak di kenal meneleponku, jadi aku mengabaikannya.
Aku menutup mata dan mulai bermimpi kembali, sebuah hutan hijau, penuh pohon pinus. Cantiikkk, tapi sebenarnya agak menyeramkan. Ada sebuah pemukiman, aku memasukinya. Ada seseorang yang sedang duduk minum di sana, aku sepertinya familiar. Aku terus mendekat, dan kulihat dia, Briyan??"
ddrrrrrttt ddrrrrrttttt drrrrrttttt drrrrrtttttt ddrrrrrttttt.
Suara getar ponsel mengganggu konsentrasi mimpiku. Latar mimpiku jadi berubah-berubah dan tidak stabil.
Dan kling!
Seseorang mengirimkan pesan chat di ponselku. Karena terus terganggu aku terbangun dari tidurku.
Kling!
Satu lagi pesan chat yang kuterima. Aku duduk mengusap wajahku dan berusaha untuk tersadar. Kubuka ponselku dan melihat nomor tak dikenal menelpon ku lagi.
"Halo," aku bertanya dengan nada suara serak mengantuk.
"Ya, benar. Siapa?" suaranya seperti aku kenal, tapi siapa?"
"Saya presdir, ibunya Briyan."
"A-apa?" secepat kilat bekas-bekas mimpiku yang masih ada pikiranku kini terhapus. "Ada apa Bu presdir?"
"Saya mau kita ketemu nanti jam 9 pagi di cafe Neon!" ucap Bu presdir masih dengan nada lembut sedikit. Daripada seperti hari biasanya. Aku jadi sedikit terkejut dan penuh tanya, ada apa ini?
"Ma'af Bu, saya hari ini bekerja jadi nggak bisa meluangkan waktu buat Bu presdir." Ungkap ku lembut.
"Oh, benarkah? jadi kapan kamu punya waktu luang?"
"Saya nggak tahu Bu. Apakah ada hal penting? kalau ini masalah pekerjaan, ma'af Bu saya sudah dapat kerjaan baru sekarang."
"Bukan, ini bukan tentang pekerjaan. Saya akan tunggu waktu luang kamu, kita akan bicara nanti."
Tut tut, Panggilan telpon berakhir. Seenaknya saja ini orang tua menelpon pagi-pagi dan mengakhiri panggilan begitu saja? huh!
Aku melirik jam dinding ku, sudah pukul 7 pagi. Aku bangun kesiangan, tapi tak masalah. Aku masih punya waktu 1 jam untuk bersiap. Aku bersiap secepat kilat, mandi, berdandan kemudian secepat kilat melangkah ke sepeda motorku.
Aku membeli sarapan di penjual nasi terdekat. Di sana menu lumayan lengkap, ada nasi kuning, nasi putih, bahkan pecel lele. Pagi ini aku ingin sekali sarapan dengan nasi pecel lele. Aku makan secepat kilat dengan minuman teh hangat.
__ADS_1
Setelah itu bergegas pergi bekerja. Beginilah rutinitas ku setiap hari. Tak ada yang melarang apapun yang aku lakukan, tak ada siapapun yang aku tanggung. Aku hanya hidup untuk diriku seorang.
Hingga sampai di mall, aku masih mengenakan sendal jepit. Dan kembali bekerja seperti hari sebelumnya. Namun, pikiranku menjadi traveling setelah mendapat telepon dari Bu presdir. Kira-kira ada perlu apa dia sampai meneleponku?
Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul di benakku. Hingga membuatku tidak fokus pada pekerjaanku hari ini. Seingatku, gaji ku kemarin sudah di bayar lunas olehnya. Ataukah ia ingin meminta ma'af atas sikapnya tempo hari? meminta ma'af? mana mungkin, batinku bicara sendiri.
*********
Pagi yang indah, tapi aku malas sekali untuk bangun. Mengingat hari ini aku bekerja mendapat sift malam. Jadi, aku melanjutkan tidurku yang nyaman. Di sini agak panas, tak seperti wisma kemarin tempat tinggal ku bersama Merry. Aku menyalakan kipas dengan kencang. Lumayan menghilangkan hawa panas di dalam kamar.
drrrttt drrrttt drrrrtttt drrrrtttt.
Ponselku berdering berkali-kali, namun tak ku hiraukan. Aku hanya melihat ke layar, teman satu sift ku. Entah apa yang ingin dia katakan, tapi aku sedang sangat mengantuk.
drrrrtttt drrrrtttt drrrttt drrrrtttt.
Ponselku terus berdering. Kulihat lagi layar ponselku, Bu presdir! dalam hatiku menggumam apakah yang sebenarnya ingin ia katakan?
Tapi aku tak ingin bangkit dari tidurku, jadi aku tidur lagi dan tak menghiraukannya.
drrrrtttt drrrrttt drrrrrttt.
Untuk kesekian kalinya ponselku berdering, aku hanya mematikan ponsel dan kembali melanjutkan mimpi indah ku.
Hingga siang hari, aku mulai merasa lapar jadi aku terbangun. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 10. Aku bergegas bangun dan mandi, karena terlalu siang bangun kepalaku jadi sangat pusing. Aku merasa besok aku tak akan mengulangi bangun siang lagi.
Selesai mandi aku menghidupkan ponselku tanpa melihat siapa saja yang sudah menelpon dan mengirimi ku pesan chat. Sepertinya sangat banyak yang mengirimi ku pesan chat.
Aku keluar dari kost untuk membeli sarapan. Bangun kesiangan membuat tenggorokan ku menjadi sangat kering. Aku memerlukan makanan yang berkuah, atau... es buah sepertinya ide yang sangat bagus.
Aku pergi membeli es buah dan mengambil tempat duduk. Sementara menunggu pesanan aku duduk dan membuka ponselku. Saat sedang asyik membalas chat, sepertinya ada seseorang yang duduk di sampingku. Aku menoleh dan terkejut, Briyan?!
"Ka-kamu, bikin kaget saja!"
Briyan tertawa lebar, "benarkah? sebaiknya kamu berhati-hati sekarang. Karena aku akan mengikuti kemanapun kamu pergi."
"Kenapa bisa begitu?" tanyaku keheranan.
"Karena kamu mengabaikan telpon dan chat ku."
Aku agak kurang nyaman mendengar jawabannya. "Memangnya sekarang kamu nggak kerja?"
"Aku bos nya, kenapa ambil pusing?"
Benar juga yang dia katakan, aku jadi kehabisan ide.
"Sejak kapan kamu mengikuti aku?"
"Sejak kamu keluar dari kost." Ujarnya santai.
__ADS_1
Aku menghela nafas panjang mendengar jawabannya.
Pesanan ku diantar di atas meja, ada dua mangkuk es buah. Rupanya Briyan juga memesan es buah. Jadi kami menghabiskan waktu siang kami berdua, lagi-lagi berdua.