Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 35


__ADS_3

Hari libur, aku bersantai di depan tv sambil berbaring. Sesekali ku lihat jam dinding, masih pukul 08.00 pagi. Aku tak berniat beranjak dari tidurku, hanya ke dapur untuk mengambil air bening es dan sedikit cemilan di kulkas. Kemudian kembali ke depan tv.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, Briyan.


"Apa kamu sedang sibuk?" tanya Briyan padaku.


"Nggak, aku off hari ini."


"Tapi, bukannya kamu bilang 2 minggu kedepan kamu nggak ada waktu off??"


"Ia, tapi sudah 2 hari aku menggantikan temanku. Aku bekerja siang dan malam full time, akhirnya aku diberikan off khusus hari ini."


Briyan duduk di teras.


"Kamu mau minum sesuatu? kopi hitam atau kopi susu?" tanyaku padanya.


"Aku mau kita makan dan minum di luar saja, bagaimana??"


"Sekarang?"


"Nggak, tahun depan."


Aku melirik tajam padanya, dia hanya membuang wajahnya.


Aku berdiri. "Tunggu di sini sebentar."


Aku mematikan tv dan menutup jendela dapur. Kemudian mengambil jaket dan tas selempang ku.


Aku dan Briyan berjalan menuju mobil dan kami mulai mengelilingi kota. Briyan memilih sebuah rumah makan sederhana yang hanya ada menu nasi campur. Aku lumayan heran, bos besar seperti dia makan nasi campur??? apa nggak salah???


Tapi Briyan dengan percaya diri memesan 2 porsi nasi campur dan teh es. Ia sama sekali tak canggung sedikitpun.


"Apa?" tanya Briyan tanpa sengaja tatapan kami bertemu.


Aku segera menggeleng mengisyaratkan kata 'tidak' padanya dan memalingkan pandanganku.


Briyan duduk tepat di sampingku, tak berapa lama pesanan kami datang. Ku lihat menu nasi campur di piring kami, menunya lumayan spesial. Sayur gudeg, tahu dan tempe goreng, dan bihun. Sementara lauknya ikan ayam goreng dengan sambel di pinggiran piring nya.


"Apa kamu terbiasa makan di sini?" tanyaku pada Briyan.


"Aku nggak pernah ke sini." jawabnya santai.


"Apa ini menu yang biasanya ada di rumah kamu?"


Briyan menatapku heran. "Sangat jarang sekali, pembantu rumah tangga atau mamah sangat jarang memasak menu seperti ini."


"Jadi, kenapa kamu memilih makan di tempat seperti ini, tempat seperti ini hanya cocok untukku. Sama sekali nggak cocok buatmu."


Tiba-tiba mulutnya berhenti mengunyah, ia meminum teh es nya dan menatapku tajam.


"Aku harus mulai terbiasa hidup sederhana." Sahutnya santai.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena aku akan menikah dengan perempuan sederhana sepertimu, jadi aku harus beradaptasi."


Aku hampir tersedak mendengarnya, aku malah tak berani menatap Briyan saat ini.


"Apa aku salah?" tanya Briyan lagi.


Aku sama sekali tak menyahut pertanyaannya. Setelah itu kami makan dengan dengan tenang.


15 menit kemudian kami keluar dari rumah makan sederhana itu dan Briyan masih membawaku berkeliling.


"Ini bukan arah jalan pulang, kita mau kemana?" tanyaku.


"Aku harus mengganti sepeda motor mu kan?"


Aku hanya mengangguk. Kini kami tiba di dialer sepeda motor. Aku melihat-lihat sepeda motor keluaran terbaru. Sedangkan Briyan melihat sepeda motor yang memiliki body lebih besar.


"Bagaimana kalau yang ini?" tanya Briyan menunjuk sebuah sepeda motor yang memiliki body paling besar.


"Aku nggak suka yang itu." Sahut ku agak berbisik.


"Bagaimana kalau yang di sana?" Briyan menunjuk sepeda motor kopling yang memiliki body ramping.


"Aku nggak bisa menggunakan sepeda motor kopling, jangan yang itu." Ucapku semakin berbisik.


"Bagaimana kalau yang di sana?" Briyan menunjuk sepeda motor matic keluaran terbaru.


"Jadi, kamu mau yang mana? apa kamu mau pergi ke dialer lainnya?"


"Nggak perlu, aku sudah punya pilihanku. Aku mau yang di sana, yang berwarna hitam."


Briyan mengernyitkan keningnya. "Yang di sana??" ia menunjuk sepeda motor yang ku maksud berada tak jauh dari kami.


"Iya, aku suka yang itu."


"Tapi itu harganya yang paling murah."


"Memangnya kenapa dengan harga murah??"


"Tapi itu model lama."


"Jadi, kenapa kalau model lama??"


"Harganya berbeda jauh dari sepeda motormu sebelumnya."


"Aku nggak minta barang mahal, aku cuma kamu mau hargai barang milikku meskipun harganya yang paling murah. Jangan sampai kamu lenyap kan lagi sepeda motorku yang ini!"


Briyan tersenyum kecut mendengar perkataan ku.


"Baiklah nona, ambil saja yang mana yang kamu suka... tapi kamu yakin itu dengan pilihanmu? jangan sampai besok kamu menyesal."

__ADS_1


"Keputusanku sudah bulat, tetapi aku cuma bisa berterima kasih padamu. ma'af terus merepotkan mu."


Briyan tersenyum dan mengangguk, dia melakukan pembayaran. Setelah itu aku langsung memakai sepeda motor baru ku.


"Wi... nanti malam aku akan ke wisma lagi." Ucapnya dari jendela mobilnya.


"Memangnya kamu ke wisma masih perlu izin ku pak?"


Briyan tersenyum. "Aku takut kamu akan bosan melihatku."


"Itu tergantung..."


"Tergantung apa?"


"Kalau kamu menyebalkan tentu saja aku akan mengusir mu."


"Mana mungkin kamu bisa mengusir ku, aku kan pemilik tempat tinggalmu."


Aku memberikan senyum kecut padanya. Briyan berlalu dan memberikan ku ciuman jauh.


Sepeda motor ku hampir oleng oleh kelakuan yang dia buat. Benar-benar membuatku illfeel.


Akhirnya aku memiliki sepeda motor lagi. Aku langsung membawanya berkeliling kota, dan kembali ke wisma sore hari. Aku berbelanja sedikit keperluan dapur.


Aku juga memasak untuk Merry, sebagai teman kami sangat senang bisa saling membantu. Terkadang Merry yang memasak untuk kami berdua, terkadang aku lah yang memasak. Selera kami tak jauh berbeda, tak sulit untuk saling mengerti dan memahami.


Setelah Merry pulang dari kantor, kami makan malam bersama. Tak berapa lama, Briyan datang dengan membawa beberapa makanan dan buah.


"Apa kalian mu jalan-jalan?"


"Aku sangat lelah pak, kalian berdua saja yang jalan-jalan. Malam ini kan malam Minggu." Sahut Merry.


Aku dan Briyan saling bertatapan. Aku dan Briyan nampak sama-sama malu.


Tiba-tiba Sean datang dari kamar sebelah. "Apa yang sedang kalian lakukan malam-malam begini? apa sedang ada rapat?" tanya nya penuh heran.


"Kami sedang merencanakan jalan-jalan, tetapi para nona-nona ini menolak." Ucap Briyan duduk di teras dan menyalakan rokok.


"Bukannya kita sudah jalan-jalan tadi siang?" tanyaku pada Briyan.


"Aku nggak suka jalan-jalan siang hari, lebih nyaman kalau malam hari." Sahutnya.


"Bri... apa kamu lupa malam ini ada pertandingan bola??!" tanya Sean bersemangat.


"Apa?! aku lupa, sial sekali!" Briyan mengumpat.


"Sean, keluarkan tv nya! kita akan menonton sepak bola malam ini di teras!!"


"Ayo, cepat bantu aku! sebentar lagi pertandingannya dimulai!" Ucap Sean sangat bersemangat.


Kami berempat menyiapkan makanan, cemilan dan air minum di teras. Satpam yang baru bekerja di sana juga ikut menonton pertandingan bola bersama kami. Ada juga 2 orang laki-laki penghuni wisma yang ikut menonton bersama kami. Suasana malam itu menjadi sangat ramai sekali.

__ADS_1


__ADS_2