Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 29


__ADS_3

Aku mulai bisa mengimbangi dayungan pada pengayuhku. Malam semakin sepi dan gelap, semakin bertambah dingin. Arus air sungai agak melambat tetapi semakin pasang. Debit sungai semakin melebar.


"Briyan, sungai ini menurut kamu sekitar berapa meter lebarnya?"


Briyan menyimak dan mulai mengira-ngira lebar sungai itu.


"Mungkin sekitar 6 meter. Ada apa?" tanya Briyan heran.


"Kamu bisa berenang?"


"Bisa, aku sering ke kolam renang. Bahkan di rumahku ada kolam renang."


Benar juga, kenapa aku menanyakan pertanyaan bodoh padanya? tukas ku dalam hati.


"Aku cuma memikirkan, kalau perahu ini tenggelam, kamu mungkin harus menyelamatkanku karena aku nggak bisa berenang."


"Apa?? kamu nggak bisa berenang??"


"Kamu nggak percaya? apa nanti kamu nggak mau menolongku?"


"Mustahil, perempuan galak sepertimu nggak bisa berenang."


Kalimat Briyan yang satu ini membuatku terdiam dan membisu dengan mulut manyun.


Briyan kemudian bernyanyi perlahan, suaranya kecil dan merdu.


Rembulan malam berbalut sepi,


Suasana dingin merayu hati.


Cahaya di bulan ikut menghiasi,


nuansa misteri menyelimuti.


Hilang pandangan di dalam mata,


bayanganmu menepi di sangkasa.


Entah berapa lama kau di sana,


sehingga diriku ingin bersua.


Korbankan diri dalam ilusi,


hilangkan rindu yang membelenggu.


Membuang waktu bersama mimpi,


walaupun sepi takkan berlalu.


Pada malam ku titipkan salam,


untuk dirimu yang aku sayang.


Semoga cinta kan abadi,


sampai mati ku akan menanti.


"Suara ku merdu kan??" tanya Briyan menyudahi nyanyiannya.

__ADS_1


Aku menggeleng dengan manyun.


"Sebenarnya aku lebih berbakat jadi penyanyi daripada jadi presdir di perusahaan." ucapnya berhenti mengayuh. Ia memijat-mijat kedua lengannya yang mulai pegal.


"Kamu terlalu percaya diri sekali, dari pada jadi presdir atau penyanyi kamu lebih cocok jadi pembawa acara."


"Pembawa acara?? ha ha ha ha boleh jadi... itu salah satu cita-citaku waktu kecil." Briyan tertawa mengatakan itu.


Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah sebuah cahaya senter.


"Briyan... sssstttt." Aku mengisyaratkan Briyan agar diam dan menunjuk ke arah cahaya.


Briyan berbalik dan melihat kearah datangnya cahaya.


"Apa kita berada di sisi jalan raya??" tanya Briyan berbisik.


"Sepertinya iya." sahutku.


Tiba-tiba pemilik perahu dan istrinya juga terbangun. Ternyata mereka menyadari apa yang terjadi.


Si pemilik perahu mengambil dayung dari tangan Briyan.


"Kalian berdua duduk telungkup dan tutupi tubuh kalian menggunakan kain ini!" perintah pemilik perahu dengan berbisik, ia menyerahkan selembar kain pada kami.


Sementara si istri perahu mengeluarkan sesuatu dari ujung perahu, membuka sebuah penutup dari kayu, buah nanas. Si istri mulai menumpuk buah nanas di badan kami dibantu oleh suaminya.


Setelah beberapa saat kurasakan berat. Nanas sudah bertumpuk diatas ku dan Briyan.


"Kalian mau kemana?!" tanya seseorang dari kejauhan. Suaranya dapat kudengar jelas.


"Ke pasar subuh pak, mau jual nanas. Bapak mau beli??" tanya si pemilik perahu dengan tegas dan jelas.


"Nggak!" sahut orang itu lagi.


Jantungku berdetak lebih kencang menghadapi semua ini. Kulihat Briyan tak bergerak dari tempatnya. Sebelum mendapat aba-aba dari pemilik perahu, kami tidak bisa bergerak seenaknya.


Setelah jarak semakin jauh, si istri pemilik perahu menyuruh kami berbaring dengan posisi tengkurap. Dia membantu kami untuk bernafas lebih nyaman dengan gundukan nanas masih diatas kami.


Sekarang kami benar-benar seperti 'orang hilang' dan 'tersesat'. Aku hanya membayangkan jika benar-benar akan menjadi istri Briyan mungkin kehidupan setelah menikah ku tidak akan tentram dan damai.


Sayup-sayup ku dengar suara jangkrik dan katak yang berbunyi nyaring. Mereka menjadi suara pengantar tidurku. Sesekali lenganku terasa tertusuk duri nanas. Dan membuatku meringis kesakitan.


"Dewi...!" Panggil Briyan.


Aku pura-pura tidak mendengar panggilannya.


"Wi....!" Briyan kembali memanggil.


Aku tak bergeming.


Krik


Krik


Krik


Krik


Kroogggg

__ADS_1


Kroooogggg


Kroooogggggg


Suara jangkrik dan katak berbunyi silih berganti, membuatku samar-samar berada dialam mimpi.


Gerimis mulai turun.


Oh, tidak!


Apa akan turun hujan? aku terus berdo'a agar hujan tidak turun sekarang.


Angin mulai berhembus kencang.


Lagi-lagi aku gagal bermimpi karena ini, padahal mataku sudah ngantuk sekali. Rintik terus turun membasahi buah nanas.


Sekarang angin bertiup lebih kencang dan menakutkan. Aku berusaha memejamkan mata, di iringi hujan yang mulai turun.


Akan tetapi hujan itu segera reda. Dan berganti dengan gemuruh. Perutku terasa sangat lapar. Mungkin yang lain juga merasakan ketakutan dan rasa lapar yang aku rasakan sekarang.


Tiba-tiba si pemilik perahu menghidupkan mesin di perahunya.


Gleg


Glek


Glek


Glek


Glek


Klop klop klop klop klop klop klop tok tok tok tok tok tok


Perahu menyala dan melaju kencang. Kami seperti naik sebuah sepeda motor yang berlantai luas. Si pemilik perahu mengisyaratkan kami keluar dari tumpukan nanas.


Kami tidak jadi tidur dan menikmati perjalanan dengan perahu ini. Laju perahu ini setara dengan laju sepeda motor dengan kecepatan 40 km/jam.


Cuaca semakin dingin, gelap dan bergemuruh. Aku tak tahu kemana arah kami, tetapi aku berharap di depan sana ada sebuah tempat perhentian untuk berlindung kami sementara.


Rintik masih membasahi kepada kami yang tak tertutup apapun. Meskipun kami mengenakan jaket, jaket ini tidak memiliki topi.


Kilat mulai menyambar dari arah belakang kami. Dan tak berapa lama, kami tiba di sebuah perkampungan, banyak rumah di bantaran sungai itu. Sekarang sungai melebar dengan ukuran 30-40 meter.


Aku pikir kami akan berhenti, akan tetapi si pemilik perahu meneruskan perjalanannya. Di tengah gemuruh angin dan rintik, kami menikmati perjalanan dini hari.


Pukul 01.30.


Kini sungai semakin melebar, kurasa sekarang sudah tidak mungkin bagi para penjahat itu mengejar kami. Sekarang hanya ada hamparan air di hadapan kami. Beberapa perahu juga terlihat melintas dan membawa banyak sayuran dan buah-buahan.


Sekitar 2 jam perjalanan kami tempuh dan satu pemandangan dari kejauhan kulihat, lampu-lampu di pinggiran sungai. Kemudian pemandangan perkotaan yang terang benderang dengan berbagai cahaya lampu. Kami telah tiba di pelabuhan kota.


Tiada hentinya kuucapkan rasa syukur di dalam hati. Akan tetapi, si pemilik perahu tidak berhenti di pelabuhan. Dia memilih tempat pelosokan di samping rumah warga.


Pukul 04.00 dini hari.


Perahu semakin melambat dan berhenti diantara perumahan warga pinggir sungai.


"Saya hanya mengantar kalian di sini. Saya pikir tempat ini aman untuk kalian," ucap si pemilik perahu.

__ADS_1


"Terima kasih pak! bapak sudah menyelamatkan nyawa kami." Briyan sedikit membungkuk tanda hormatnya.


Setelah berjabat tangan, kami bergegas berjalan naik ke atas dan mencari jalan untuk pulang ke rumah. Hari masih gelap, hanya lampu jalan yang menerangi perjalanan kami. Di sini lumayan sepi.


__ADS_2