
Setelah sarapan, Briyan dan aku membereskan rumah dan halaman yang berantakan. Sebenarnya Briyan atau aku bisa saja membayar orang lain untuk bersih-bersih. Akan tetapi, sekali lagi aku tak ingin melakukan itu.
"Apa yang mau kamu lakukan??" tanyaku pada Briyan.
"Apalagi? aku sudah memegang sapu ini lengkap dengan serokan untuk membantumu." Ucapnya melototkan matanya padaku.
"Sini!" Aku merebut sapu dan serokan di tangan Briyan.
Akan tetapi Briyan menepis tangan ku dan menjauhkan sapu dan serokan yang dipegangnya.
"Menyingkirkan dari sini, aku yang akan menyapu!" Briyan meletakkan serokan dan mulai menyapu.
Aku berusaha merebut sapu darinya.
"Kalau kamu terus berusaha merebut sapu dariku, jangan salahkan aku kalau aku akan mencium mu!"
"A—pa?!" Aku terbelalak mendengarnya.
"Kenapa sekarang kamu terkejut begitu?? bukannya itu hal yang lazim dilakukan suami dan istri?? bukannya sekarang kita sudah sah?"
Glek!
Aku mematung mendengar si bos ini bicara.
"Yasudah, bersihkan yang benar. Oke?" Aku bergegas meninggalkannya.
"Kamu nggak jadi membantuku??
__ADS_1
"Enggak!"
Aku berlari kecil meninggalkannya menuju dapur. Kini aku membersihkan sisa-sisa sampah yang berserakan.
Aku tertegun melihat adik-adikku dan juga ibuku yang keluar dari kamar dengan pakaian seksi. Mereka mengenakan celana pendek hampir sama pendek dengan ****** ***** mereka.
"Dewi... ibu nggak jualan hari ini, sedangkan nanti sore ibu harus kembali ke kampung. Kamu masih punya uang kan, buat kami di perjalanan pulang nanti??" tanya ibu kepadaku.
Aku sudah menduganya, ibu akan meminta uang padaku. Tapi itu bukan masalah besar.
"Sebenarnya aku dan Briyan masih berhutang sama tukang catering makanan sebesar 3 juta. Aku hanya membayar setengahnya semalam."
"Astaga...." Wajah ibu berubah menjadi sedih. "Bagaimana ini... ibu sudah nggk punya uang sama sekali. Untuk bisa sampai ke sini saja ibu meminjam uang dari tetangga." Ekspresinya semakin sedih.
Sena berjalan kearah kami berdua.
Perkataan Sena sukses membuatku emosiku naik. Tiba-tiba Briyan muncul.
"Aku akan memberikan uang gaji ku bulan ini untuk kalian pulang, kalian tenang saja." Ucap Briyan bergegas ke kamar dan mengambil uang.
Briyan kembali dan memberikan uang pada ibu.
"Gunakanlah uang ini dengan baik, untuk kalian gunakan pulang nanti."
"Terim—"
Belum sempat ibu mengambil seluruh uang dan mengucapkan terima kasih, ayahku sudah merebut semua uang itu dari ibu.
__ADS_1
"Terima kasih menantu yang baik hati, kamu sudah memberikan kami uang untuk ongkos pulang. Tapi, ibumu ini sangat boros sekali apalagi Sena dan Melati. Lebih baik uang ini biar ayah yang pegang, pasti lebih aman."
Setelah mengatakan itu ayah mengantongi uangnya dan berlalu dari hadapan kami. Kejadian ini membuat emosiku semakin memuncak. Andai saja Briyan tak di hadapanku, bisa ku pastikan aku akan mengamuk saat ini juga.
Aku pergi dari hadapan mereka semua dengan perasaan kesal. Aku pergi ke pekarangan belakang untuk membersihkannya dan mengumpulkan sampah.
Seharian penuh aku membersihkan rumah, semua kulakukan tanpa bantuan adik-adikku. Hanya ibu yang nampak sebentar-sebentar menyapu rumah. Hingga kulihat mereka pergi tanpa berpamitan.
"Kemana semua orang??" tanya Briyan yang baru saja bangun dari tidur siang.
"Kemana lagi? pasti sedang menghamburkan uang yang kamu berikan tadi pagi." ucapku santai.
"Biarkan saja, mereka juga berhak bahagia kan?" Briyan duduk di depan pintu pekarangan belakang rumah.
Aku yang kelelahan hanya duduk di bawah pohon belimbing yang ada di dekat sana. Aku duduk berselonjor karena kurasakan kaki ku sangat kaku dan pegal.
Aku tak menggubris kalimat Briyan karena kekesalanku belum juga hilang. Hingga petang menjelang, keluargaku pulang dari menghamburkan uang, mereka nampak menenteng paper bag dan beberapa kantong plastik belanjaan.
Aku membakar sampah yang sudah ku kumpulkan, ku dengar keluarga ku tertawa riang dengan belanjaan yang mereka bawa. Aku tak ingin berbicara apapun atau pun mengeluh tentang sikap mereka kepada Briyan.
Ibu datang dengan tergesa-gesa mendatangi Briyan.
"Menantu... terima kasih sudah memberiku uang yang sangat banyak, kamu tahu.. dengan uang itu aku bisa membeli pakaian yang layak, pakaian ku sudah banyak yang rusak. Begitu juga dengan adik-adik ipar mu Sena dan Melati."
"Iya Bu, sama-sama."
"Ngomong-ngomong, ma'afkan sikap ibu kemarin sangat judes sama kamu. Ibu nggak menyangka ternyata kamu laki-laki yang sangat baik dan ngga pelit... dan kamu juga tampan sekali." Ucap ibu sambil mencubit pipi Briyan dengan gemas.
__ADS_1
Api terus membakar sampah di hadapan ku dan Briyan di iringi senja yang semakin gelap.