Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 46


__ADS_3

Angin malam sepoi-sepoi meniup rambutku, aku dan Briyan pergi ke pantai untuk makan malam. Akan tetapi menu makan malam kali ini agak berbeda, pedagang kaki lima yang biasa menjadi langganan kami tidak membuat sate malam ini, ia menjual mie ayam dan pentol bakso.


"Rasanya lumayan..." Briyan memakan dengan lahap mie ayam dan bakso di hadapannya. Tak tanggung-tanggung, dia memesan masing-masing 2 porsi untuk kami berdua. Dan 1 mangkok lagi pentol bakso mercon tanpa kuah.


"Kamu rakus sekali." Ucapku menatap Briyan.


"Kamu tahu nggak sayangku, makanan ini tidak kalah enak dengan bakso terkenal yang di jual dengan nama pasaran yang sedang melejit dan viral." Briyan terus menyantap bakso di hadapannya.


Aku mulai berpikir mungkin dia sengaja belum makan cuma untuk bisa makan bersamaku malam ini.


"Sebenarnya aku nggak terlalu suka ini, tapi rasanya lumayan enak sih."


Kami berdua menghabiskan makan malam kami.


"Em, sayang... besok mamah dan ayah ingin membicarakan tentang pernikahan kita." Briyan mengatakannya dengan santai dan senyuman yang mengembang lebar.


"Benarkah...?" entah kenapa aku menjadi gugup dan ekspresi ku berubah drastis mendengar Briyan mengatakan itu. Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi, seperti mereka membatalkan pernikahan kami. Aku berharap besok hanya ada hal baik.


"Kenapa ekspresi mu begitu? apa kamu nggak senang kita akan menikah?"


Aku menghela nafas panjang mendengar pertanyaan Briyan.


"Aku rasa kamu sudah tahu jawabannya... Ada banyak sekali kebimbangan yang aku rasakan." Aku meletakkan sendok di samping mangkuk dan meminum minumanku. Rasanya tenggorokan ku sangat haus.


Aku hanya mencoba rilex dengan semua keadaan yang aku alami. Pernikahan yang akan aku jalani, sedikitpun aku tak pernah mengira akan menikah dengan laki-laki seperti Briyan. Dia sangat jauh dari angan-angan ku.

__ADS_1


"Jangan terlalu dipikirkan, semua akan baik-baik saja. Kamu percaya kan?"


"Iya."


"Em, ngomong-ngomong ini cincin pernikahan kita nanti. Mamah sudah membelinya untuk kita." Briyan mengeluarkan kotak kecil perhiasan berbentuk love.


"Ci—cincin??"


Aku menatap kotak kecil perhiasan di hadapanku.


"Ini cincin spesial yang mamah belikan untuk kamu."



Aku terperangah melihat cincin berlian di depan mataku. Aku sangat menyukainya, aku sangat menyukai harta berharga. Bahkan semua hartaku, aku begitu bahagia memiliki segalanya. Akan tetapi, kali ini....



Briyan terdiam sejenak mendengarkan perkataan ku. Namun aku tak memperdulikan ekspresinya saat ini.


"Ma'af kan aku, aku harap mamah nggak tersinggung..."


"Ya sudahlah... apa boleh buat, aku akan sampaikan ke mamah besok. Tapi aku tetap jemput kamu, kita akan ke rumahku besok pukul 2 siang, okey??"


Aku mengangguk mengiyakan perkataannya. Sekarang perut kami sudah sangat kenyang. Kami berjalan-jalan kecil di pinggiran laut. Malam ini ombaknya agak tinggi.

__ADS_1


Sesekali cipratan air membuat kami menepi. Kemudian terus berjalan. Hingga mataku tertuju pada seseorang.


"Awas, berbalik!" Aku membalikkan tubuh Briyan dan menggandeng tangannya.


"Ada apa??" Briyan terkejut dengan apa yang aku lakukan.


"Ada 2 orang anak buah mafia yang pernah menculik kamu dulu, sssttttt!" aku berusaha tenang dan menuntun Briyan ke mobil. "Kamu masuk saja duluan ke mobil, makanan kita belum dibayar. Tunggulah di sini!" Aku agak mendorong Briyan masuk ke dalam mobil.


Dengan cepat aku membayar makanan yang tadi kami pesan. Kulihat sekilas di sana juga ada Kenan, si bos mafia!


Setelah selesai membayar makanan, kami segera pulang melaju dengan mobil. Aku dan Briyan dibuat gugup oleh Kenan dan anak buahnya. Hampir saja mereka melihat keberadaan kami.


"Mereka ngapain sih, pergi ke sini?" tanyaku pada Briyan.


"Entahlah, aku nggak tahu. Sebelumnya aku nggak pernah bertemu mereka di sana. Mungkin mereka datang dari dermaga dan mampir untuk jalan-jalan."


Aku tak hentinya mengucapkan syukur karena kami berdua masih selamat dan bisa kabur dari sana. Briyan mengantarkan aku hingga sampai depan pagar wisma. Satpam yang bertugas dengan ramah membukakan pagar untuk ku.


Untuk pertama kalinya aku melambaikan tangan pada Briyan setelah mengantarkan ku pulang. Dia membalas ku dengan senyuman manja dan kedipan matanya yang genit.


Astaga! laki-laki ini.


Aku menjadi salah tingkah dibuatnya dan segera berbalik membuka kunci pintu. Briyan juga pergi dari depan pagar. Aku yakin jika satpam melihat kelakuan Briyan dia pasti menertawakan kami berdua.


Memang dasar laki-laki genit.

__ADS_1


Timpal ku lagi dalam hati. Aku segera masuk ke kamar dan merebahkan badan. Ku lihat jam dinding sudah pukul setengah 1 dini hari. Kalau setiap hari aku tidur rata-rata jam segini, lama-lama aku bisa sakit.


Dengan segera aku memejamkan mataku. Malam ini aku bermimpi indah. Hanya wajah Briyan yang selalu muncul dalam mimpiku.


__ADS_2