
Pagi ini, aku berniat menelpon ibu dan ayahku. Aku harus memastikan keadaan ayah baik-baik saja.
["Halo Bu."]
["Dewi... keadaan ayah kamu semakin baik, terima kasih sudah mengirimkan uang sebanyak itu."]
["Iya, bagaimana dengan melati? apa dia membantu mu di sana?"]
["Iya, Melati selalu membantu ibu di sini. Bagaimana dengan Sena?"]
["Sena sudah mendapat ganjaran dari perbuatannya, kalian tenang saja. Masalah surat-surat rumah aku sedang mengusahakan surat-surat itu kembali."]
Ibu terharu mendengar apa yang aku katakan.
["Ibu sangat frustasi Wi... Ayah kamu juga di datangi beberapa orang, mereka bilang ayahmu kalah judi dan masih berhutang sekian juta pada mereka."]
Ibu menangis mengatakan itu.
["Terpaksa uang yang kamu kirim kemarin sebagian untuk melunasi hutang-hutang ayahmu. Ibu sangat frustasi dengan semua ini, kalau tidak ada kamu dan Briyan entah apa yang akan terjadi pada kami."]
["Ya, tidak masalah. Tapi, itu uang terkahir yang bisa aku dan Briyan berikan. Setelah itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi."]
["Iya, baiklah ibu mengerti. Apa kamu mau bicara sama ayahmu?"]
["Nggak Bu, aku harus pergi bekerja. Ini sudah terlambat."]
["Baiklah."]
Ibu mengakhiri panggilan telpon.
Setelah menelpon ibu, aku bergegas pergi bekerja dan tak lupa membawa surat pengunduran diriku.
*********
Di tempat kerja, aku segera memberikan surat pengunduran diriku pada atasanku. Itu cukup membuatnya terkejut, akan tetapi aku tak bisa melanjutkan bekerja di sana. Cepat atau lambat aku pasti akan berhenti juga.
"Ma'af kan aku mbak Lia. Aku mungkin mengejutkanmu.
"Ya, aku jadi harus merekrut SPG yang baru. Tapi kamu jangan senang dulu, karena semua butuh proses. Oke?"
"Iya, itu nggak masalah. Terima kasih."
Aku kembali bekerja bersama dengan teman-temanku, Sela dan Dian.
"Dewi, kamu ngapain ke ruangan mbak Lia?" tanya Dian penasaran.
"Aku menyerahkan surat pengunduran diriku."
__ADS_1
"Apa??!" Dian dan Sela terkejut bersamaan mendengarkan apa yang aku katakan.
"Kenapa kamu berhenti?" tanya Sela.
"Kenapa tiba-tiba?" Dian juga bertanya.
"Aku sudah lama ingin mengundurkan diri, lagian semua kan butuh proses... mana bisa hari ini aku menyerahkan surat pengunduran diriku, besok aku sudah berhenti?"
"Iya, betul juga. Jadi... apa kamu punya pekerjaan lanjutan?" tanya Sela.
"Nggak, aku nggak punya. Aku kan sudah menikah, jadi aku akan mengurus rumah saja." Ucapku duduk di kursi plastik di samping mereka.
"Sayang sekali Wi, kamu melepaskan begitu saja karirmu... Belum tentu nanti suami mu bisa memenuhi semua keinginanmu." Ucap Dian padaku.
"Iya, kamu benar.... mungkin nanti aku berpikir untuk mencari pekerjaan baru kalau dia nggak bisa memenuhi semua keinginanku."
"Ada banyak sekali kasus ibu rumah tangga yang ditelantarkan suaminya, menjadi korban KRDT, anak-anak yang pada akhirnya menjadi korban sesungguhnya. Aku sangat takut membayangkannya, karena itu aku berpikir 2 kali untuk menikah muda." Ucap Dian lagi.
"Ngomong-ngomong suamimu bekerja apa? kamu menikah saja nggak mengundang kami." Tanya Sela, ia ikut duduk di kursi di sampingku.
"Ma'af aku nggak mengundang kalian, karena acara pernikahanku sangat sederhana. Suamiku bekerja sebagai buruh."
"Oh, begitu... aku berharap semoga kamu bahagia bersamanya." Ucap Sela.
"Terima kasih."
Kami bertiga bekerja hingga sore hari, akan tetapi atasan kami mengatakan kalau bulan ini penjualan kami menurun jadi mau tidak mau kami harus bekerja lembur. Dan untuk menarik pelanggan, kami akan membuat diskon ke beberapa produk.
"Menyebalkan, kalau begini penjualan kita nggak akan naik." Sela mengeluh.
"Lihat tuh, produk si Asnah. Dari tadi nggak sepi pembeli." Sela menunjuk kepada Asnah yang bolak balik seperti setrika yang sedang menggosok pakaian.
"Janganlah kamu bandingkan produk kita dan produk Asnah, produknya kan kebutuhan sehari-hari. Sedangkan produk kita ini pakaian bermerk yang nggak mesti di pakai setiap hari dan nggak setiap orang mampu membeli." Sahutku pada Sela.
"Ya, kamu benar. Kalau begini terus bisa-bisa aku buka usaha Hadi penjual gorengan kecil-kecilan saja di depan rumah. Nggak di marahin atasan kalau melakukan kesalahan, kerja sesuka hati kita dan yang pasti mau libur kapan saja nggak akan dapat SP." Ucap Sela
"Menurut kamu penjual kecil-kecilan begitu bisa meraup untung besar?" tanyaku.
"Buat usaha juga perlu perhitungan matang, jangan asal kita 'pengen' saja. Kalau mengandalkan 'pengen' tanpa logika yang ada bisa gulung tikar."
Benar juga apa yang Sela katakan, sebaiknya aku mulai memikirkan dan memperhitungkan dengan matang usaha apa yang akan aku jalankan di toko ku nanti.
Akan tetapi, sekuat apapun aku berpikir aku belum menemukan apapun hingga sekarang. Semua yang aku pikirkan masih sangat jauh dari keinginanku dan kenyataan.
Aku teringat kakek yang sedang kurang sehat, aku memikirkan untuk membelikannya buah-buahan. Aku berkeliling untuk memilih buah-buahan yang bisa di makan kakek, paling tidak bisa di olah jus.
Aku membeli apel merah, anggur dan jeruk orange untuk kakek. Dengan segera aku membayar ke kasir. Sebelum Dian dan Sela menanyakan ini aku harus segera menyimpannya dengan baik.
__ADS_1
********
Pukul 22.30 aku pulang ke rumah, keadaan rumah sudah sangat sepi. Semua orang mungkin sudah tidur pulas. Tiba-tiba nenek keluar dari kamarnya.
"Dewi... apa yang kamu lakukan?" tanya nenek.
"Aku baru pulang kerja nek," sahutku.
"Pulang kerja?" nenek menengok jam dinding. "Memangnya kamu kerja apa pulang tengah malam begini??"
"Aku bekerja di mall, apa yang nenek cari malam-malam begini? apa aku bisa mengambilkannya untuk nenek?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan Dewi, mulai besok nenek nggak mau melihat kmu bekerja sampai larut malam begini. Ini sama sekali nggak bagus untuk mu dan juga rumah tanggamu. Kamu kan bisa bekerja di perusahaan suamimu."
"Iya, nek. Mulai besok aku nggak akan bekerja di sana lagi."
"Bagus kalau begitu."
Nenek berlalu dari hadapanku, tiba-tiba Briyan juga keluar dari kamar.
"Apa yang terjadi??" tanya Briyan.
"Ssstttt." Aku mengisyaratkan Briyan untuk tidak bertanya apapun.
Kami berdua masuk ke dalam kamar.
"Apa nenek memarahimu?" tanya Briyan.
"Ya, nggak juga. Aku sudah biasa mendengar yang seperti itu."
"Baguslah kalau begitu."
"Sepertinya mamah menurunkan sifat nenek dengan baik."
Briyan terkekeh mendengar ucapanku.
"Apa yang kamu bawa?"
"Buah-buahan untuk kakek, tadinya mau aku letakkan di dapur. Tapi karena nenek sudah memarahiku, jadi besok pagi saja aku letakkan di dapur."
Aku merebahkan tubuhku yang kelelahan di atas kasur. Briyan perlahan mendekatiku.
"Stop! jangan mendekat!"
"Kenapa?" tanya Briyan.
"Aku kelelahan, jangan coba merayu!"
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku cuma ingin tidur sambil memeluk istriku saja, boleh?"
"Boleh. Ingat, cuma itu!"