
Aku duduk di kursi plastik sambil menelpon Briyan. Akan tetapi Briyan tak mengangkat telpon dariku. Aku mengirimkan pesan chat pada Briyan untuk menyusul ku dan membelikan kunci baru untuk pintu rumah.
Sementara aku membongkar lubang kunci pintu, karena harus diganti sepaket. Aku meminjam sebuah obeng dari tetangga.
Sekitar 15 menit aku berhasil membongkarnya. Hanya tinggal memasang kunci yang baru. Pekerjaan ini sebenarnya gak memakan tenaga, akan tetapi rasa kesal ku masih tak berkurang sedikit pun.
Tak berapa lama, kudengar sebuah mobil parkir di halaman. Briyan masuk ke dalam menenteng sebuah perumahan kunci yang baru.
"Sayang, apa ini benda yang kamu minta?" Briyan memberikan bungkusan plastik kecil kepadaku.
Aku membuka isi plastik yang Briyan bawa. "Terima kasih."
Aku langsung memasang perumahan kunci itu ke dalam lubang pintu dengan menggunakan obeng. Briyan nampak heran dan memperhatikan dengan seksama.
"Sayang, kamu bisa memperbaikinya?" tanya Briyan heran.
"Iya, aku dulu sering mengganti kunci seperti ini di rumahku. Karena ibu dan ayah ku sering bertengkar, mereka saling mendobrak dan menghancurkan pintu." Aku masih sibuk pekerjaanku.
__ADS_1
"Benarkah? kamu kelihatannya sudah ahli mengganti ini. Ngomong-ngomong kenapa ayah dan ibu mu bertengkar sampai mendobrak pintu dan menghancurkannya begitu?"
"Karena mereka silih berganti membawa selingkuhan mereka ke dalam rumah."
"Apa?!" Briyan seolah tak yakin dengan apa yang dia dengar.
"Ya, saat itu kami bertiga masih sangat kecil. Kira-kira umur kami saat itu masih 7-9 tahun."
Briyan tak dapat mengatakan apapun tentang apa yang dia dengar dariku.
"Ia, aku juga sering mendengar perkataan tetangga kalau aku bukan anak kandung mereka, tapi anak selingkuhan ibuku."
"Apa?!"
"Sayang, emosi mu nggak stabil... apa sudah terjadi sesuatu di rumah ini?? jangan bilang kamu yang menghancurkan pintu ini??"
"Aku nggak segila itu.... ketika aku masuk dan hendak membuka kunci pintu, ternyata pintu terbuka sendiri. Dan kamu tahu, siapa yang ada di dalam sini?" tanya ku menatap Briyan tajam.
__ADS_1
"Siapa??" Briyan nampak sangat penasaran.
"Sena dan kekasih, mereka berdua ada di sini. Dan laki-laki itu tengah mabuk berat. Aku sangat frustasi dengan kelakuan Sena, dia sama sekali tak bisa menghargai ku."
"Jangan emosi begitu, yang penting mereka sudah nggak di sini lagi kan..."
"Iya, kalau mereka berani kembali lagi ke sini aku akan patah kaki dan tangan mereka berdua."
Aku telah selesai memasang perumahan kunci pintu. Kami berdua lalu pergi dari sana dan makan bersama di rumah makan sederhana langganan kami.
Setelah beberapa saat Briyan mengantarkan ku pulang ke rumah.
"Sayang, aku akan menjemputmu besok pagi. Kita harus membantu persiapan pernikaha, kamu sudah siap kan?"
"Iya." Aku mengangguk tanda setuju.
"Aku mengantuk sekali, aku langsung pulang saja ya sayang..." Briyan mengecup keningku, Itu membuatku terkejut.
__ADS_1
Aku melambai padanya yang mulai menutup kaca mobilnya dan melemparkan senyuman manisnya.
Aku baru menyadari, ternyata dia sangat tampan dan juga manis. Terlebih lagi senyum nya. Aku masuk ke dalam wisma, Merry pun juga sedang tak berada di kamarnya. Dia sedang kencan bersama Sean, mungkin. Atau sesuatu telah terjadi padanya? ku harap semua baik-baik saja.