
Obrolan kami bertiga siang itu sangat santai dan hangat. Kalia memang terlihat sudah tua, akan tetapi jiwanya masih sangat muda. Ia memakai celana jeans hotpant berwarna biru terang dengan atasan berwarna putih. Dengan kulitnya yang putih ia nampak seksi. Dan riasannya sekarang lebih baik daripada saat ia memakai bikini tadi.
Tanpa basa basi Briyan meminta tolong untuk mengantarkan kami kembali ke wisma. Jadi ponselku tak berguna meskipun sekarang dayanya terisi penuh. Karena Kalia bersedia mengantar kami pulang.
"Boy, kalau kamu minta tolong sama aku kamu harus bayar weekend sama aku." ucap Kalia.
"Ya, kita akan weekend berdua... malam minggu aku jemput."
"Thankyou Boyy...." ucapnya genit.
Aku hanya menatap Briyan dengan tatapan heran. Ia menerima begitu saja permintaan Kalia. Benar-benar di luar dugaan ku, mereka akrab sekali.
Pukul 15.00.
Kalia mengantar ku dan Briyan ke wisma. Akan tetapi kali ini Kalia bergegas pulang karena harus menyelesaikan pekerjaannya.
Aku dan Briyan turun dari mobil Kalian dengan perasaan sangat lega. Briyan segera memeriksa mobilnya yang terparkir di halaman.
Kemudian Sean membuka pintu kamarnya dan ekspresinya terkejut melihat kedatanganku dan Briyan.
"Bri...! kamu baik-baik saja??!" tanya Sean dengan ekspresi tak percaya melihat kedatangan kami.
"Aku baik, aku baik-baik saja berkat Dewi." Ucap Briyan terduduk di teras.
"Jadi kalian bisa lolos, syukurlah! sepertinya aku harus segera memberitahu Bu presdir." Sean mengambil ponselnya dan menelpon ibu Briyan.
Briyan tak melarang aksi Sean, sepertinya semua orang sedang khawatir sekarang. Aku dan Briyan tak henti mengucap syukur karena bisa pulang dengan selamat.
"Terima kasih Dewi, kamu sudah menyelamatkan aku.... dan, tentang sepeda motor kamu nggak perlu khawatir. Oke?"
__ADS_1
Ibu Briyan yang mendengar kabar kedatangan Briyan langsung ingin segera bertemu. Akan tetapi. Briyan mengatakan kalau ia akan pulang segera, jadi ibunya tidak perlu menyusul. Aku bisa mendengar nada suara khawatir dari bu presdir. Akan tetapi Briyan meyakinkan kalau dia baik-baik saja.
Tak berapa lama Merry juga datang dan terkejut melihatku bersama Briyan. Ia dengan sederetan pertanyaan menghujani kami berdua.
*********
Aku mendapat telpon dari tempat kerjaku, aku mendapat teguran karena tidak masuk kerja 2 hari. Jadi, aku kehilangan hari liburku selama 2 minggu. Aku menjadi sedih karena itu.
Besok pagi aku harus kembali bekerja, aku mencoba memejamkan mataku malam ini. Tubuhku masih sangat lelah, hanya kamarku ini yang bisa membuatku merasa aman dan nyaman.
Tiba-tina ponsel ku bergetar, Briyan mengirim pesan chat.
[Makasih Wi, kamu sudah menyelamatkan aku]
Aku membalas pesannya.
[Kalau kamu perlu sesuatu kamu tinggal bilang saja Wi]
[Ya, terima kasih]
[Ngomong-ngomong bagaimana kamu kerja besok tanpa sepeda motor?
[Aku bisa naik taksi, tenang saja]
Briyan tak membalas pesanku lagi, dia pasti ketiduran. Tak lama kemudian aku juga tertidur di dalam balutan mimpi yang indah.
Keesokan hari aku bangun agak kesiangan karena kemarin malam aku hampir tidak tidur. Mataku masih lengket rasanya. Ku lihat Merry sudah berangkat ke kantor. Aku menuju dapur, kulihat sarapan sudah siap. Rupanya Merry sangat pengertian, ia mengerti penderitaan ku selama dua hari ini.
Aku sarapan dengan masakan yang dimasak oleh Merry. Kulihat dapur dan kompor terlihat bernoda, jadi aku membersihkannya. Kulihat pakaian ku sudah menumpuk, begitu juga dengan pakaian Merry. Aku membungkus pakaian kami untuk di bawa ke laundry.
__ADS_1
Aku masih sangat lelah, akan tetapi harus tetap bekerja. Aku menghela nafas panjang, hari ini aku pasti akan di marahi atasanku. Tak apa, yang penting aku dan Briyan bisa kembali dengan selamat.
Setelah mengunci pintu, aku berjalan kaki menuju tempat laundry terdekat. Jaraknya hanya sekitar 30 meter dari wisma. Setelah membayar tunai, aku mencari taksi untukku bekerja.
Aku telah mendapatkan sebuah taksi dan menuju ke tempat kerjaku. Aku merindukan sepeda motorku, aku berharap Briyan segera menggantikan sepeda motorku. Meskipun sepeda motor dengan harga murah, itu lebih baik daripada harus pergi bekerja menggunakan taksi. Kalau kuingat-ingat lagi, ini kali kedua Briyan melenyapkan sepeda motorku. Aku mulai berpikir apa di memang suka membuang-buang barang?
Sesampainya di tempat kerja, semua nampak tenang dan biasa saja. Hari ini produk-produk ku tak ada diskon, jadi sangat sedikit sekali pembeli.
Sesekali aku bercanda dengan teman-temanku. Mereka menanyakan kenapa aku tidak bekerja selama dua hari. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada mereka. Jadi, aku harus memikirkan kebohongan ini. Sayangnya, aku belum memikirkannya. Ini membuatku sedikit frustasi.
Pukul 12.00 siang, perutku sangat lapar sekali. Akan tetapi aku tak dapat menemukan dompetku, sial sekali. Aku tak dapat membeli makanan siang ini, tapi aku tidak mungkin meminjam uang pada teman-temanku. Itu memalukan buatku.
Tetapi, sesuatu yang tak terduga terjadi. Sebuah mobil meluncur di dekatku. Briyan keluar dari mobilnya dan mengajakku makan siang bersama.
Pucuk dicinta ulampun tiba. Aku menerima ajakannya tanpa berpikir. Kami berdua makan siang di rumah makan pilihan Briyan. Sungguh beruntungnya diriku.
"Kamu tahu, aku meninggalkan dompetku di rumah. Aku hampir nggak makan siang ini." Ucapku pada Briyan.
Briyan menatapku penuh ejekan, "kamu beruntung masih ada aku yang akan selalu perhatian padamu."
"Oya? apa itu artinya 'ada udang di balik batu'?" tanyaku mengejek ya balik.
"Udang di balik batu?? no no no... aku nggak suka cara seperti itu."
Aku menatapnya, "terserah saja, yang penting perutku sudah kenyang."
Aku melahap makanan di hadapanku. Briyan mengerti selera makan ku tidak pernah yang berlebihan dan aneh. Rumah makan ini sangat cocok untukku.
Soto spesial yang kupesan rasanya lumayan enak, sedangkan Briyan memesan daging rendang.
__ADS_1