Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 66


__ADS_3

Badanku masuk angin setelah kehujanan bersama Briyan tadi malam. Seluruh badanku terasa lemas, kaku dan pegal-pegal. Akan tetapi Briyan pagi-pagi sekali sudah mendapat telpon penting, jadi ia langsung pergi tanpa sarapan terlebih dahulu.


"Sayang, kami bisa atasi masalah di toko sendirian kan? kalau kesulitan panggil saja kuli yang biasa datang, oke?" Briyan memasang kaus kaki dan sepatunya.


Aku mengangguk. "Kamu tenang saja, aku bisa mengatasi masalah di toko. Tapi lebih baik kamu sarapan terlebih dahulu, perut kenyang barulah bisa berpikir lancar," aku mencoba membujuk Briyan agar ia tetap makan sarapannya, tapi sayang ia tetap menolak.


"Aku berangkat dulu, daahh." Briyan beranjak menuju mobilnya.


Aku melambaikan tangan padanya, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan sarapan.


Sarapan pagi ini dengan menu seperti biasa, sayur rebus, ikan laut kukus, sup daging dan beberapa roti yang ku panggang sendiri.


Selesai sarapan, semua orang beranjak untuk melanjutkan aktivitas tak terkecuali aku. Pagi ini aku memesan 2 etalase baru untuk di toko.


Sayang sekali, toko mebel tempatku membeli etalase sebelumnya kehabisan stok barang dan bahan. Jadi aku kembali berkeliling mencari yang lain.


Ternyata tidak mudah menemukan etalase seperti yang ku beli tempo hari. Hampir setengah hari aku berkeliling namun tidak menemukan hasil apapun.


"Ma'af mbak, kalau mau etalase model begini harus pesan terlebih dahulu. Tapi sayang, bahan-bahannya untuk saat ini terlambat karena pengirimannya yang terhambat. Saya belum bisa memastikan kapan bahannya akan datang." Ucap pemilik mebel.


Aku terkulai lemas mendengar perkataannya. Ini toko ke-5 yang sudah aku datangi. Aku mengambil kursi plastik di dekatku dan duduk dalam pikiranku yang kacau.


"Pak, kirim kan saja etalase yang model nya seperti itu." Aku menunjuk salah satu etalase yang ada di depanku, ukurannya yang paling besar diantara yang lain. Hanya saja lebih tinggi, agak kurang cocok untuk roti.


"Baik mbak, saya akan kirim sekarang juga. Silahkan tulis alamat lengkapnya." Penjual memberikan pulpen dan secarik kertas padaku.


Aku membayar ke pemilik mebel dan segera pergi ke toko. Hanya toko milikku yang sedang tutup, sedangkan yang lain terbuka lebar dengan pelanggan yang lalu lalang masuk ke dalam.


Kepalaku terasa sakit karena masih masuk angin dan kelelahan. Aku memutuskan berjalan kaki sedikit untuk membeli obat. Untungnya di dekat sana ada apotik.


"Tolong minyak angin roll on 1 buah, dan paracetamol 1 keping!" Pintaku pada petugas apotik.


Dengan cepat ia memberikan apa yang aku minta. Setelah membayar aku berbalik badan dan melangkah pergi. Akan tetapi, pandanganku semakin gelap dan gelap....


Bruuukkk!!


Samar-samar kudengar seseorang berteriak histeris. Aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi setelah itu.

__ADS_1


"Mbak!"


"Mbak, bangun!"


"Mbak, buka matanya!"


Seseorang sedang berusaha menyadarkan ku. Aku seakan bangun dari tidurku, akan tetapi seluruh tubuhku terasa berat.


Aroma alkohol menyengat tepat di depan hidungku, perlahan aku menyingkirkan benda itu dari depan hidungku.


Aku tersadar dan mencoba bangkit untuk duduk. Beberapa orang sudah berada di depanku.


Salah seorang dari mereka mendekatiku dan memeriksa tekanan darahku. Satu menit kemudian.


"Tekanan darahnya rendah sekali, hanya 80/60. Kenapa kamu berjalan seorang diri? seharusnya kalau kamu sakit jangan pergi sendirian." Ucap perempuan yang berpakaian serba rapi tepat di depan ku. Mungkin perempuan ini adalah dokter praktik di apotik ini, pikirku.


"Suami saya sedang sibuk, jadi dia nggak bisa menemani hari ini. Saya yakin bisa pulang sendirian, terima kasih." Ucapku berdiri dan meraih tas dan belanjaan ku.


"Tunggu dulu, saya dokter praktik di apotik ini. Saya curiga kalau kamu mungkin sedang hamil, mungkin kamu mau periksa kehamilan di sini?"


Aku tertegun mendengarnya.


"Ya, mungkin kamu lupa kapan terakhir kali kamu mengalami menstruasi?" tanya nya lagi.


Aku kembali duduk di bed kecil di samping ku yang tadi hampir aku aku tinggalkan.


"Memangnya semua perempuan hamil mengalami hal seperti aku? tekanan darah rendah, atau pingsan?"


"Sebagian besar ya." Sahut si dokter.


"Aku lupa kapan terakhir kali aku menstruasi, lagipula jadwal menstruasi ku nggak selancar perempuan lain. Jadi, aku nggak begitu memperhatikannya."


"Kala kamu mau memeriksakannya langsung saja, lebih cepat mengetahui kehamilan kamu akan lebih baik. Mencegah kekurangan nutrisi pada bayi dan yang pasti kamu bisa menjaga kondisi tubuh supaya tetap bisa vit."


Aku mencerna sesaat apa yang dokter ini katakan.


"Baiklah," aku mengangguk.

__ADS_1


Si dokter meminta seorang apoteker untuk mengambilkan sebuah tes pack dan memberikannya padaku.


"Kamu sudah tahu cara menggunakannya?" tanya si dokter.


Aku menggeleng. "Belum."


Si dokter membawa sebuah wadah kecil dan menjelaskan dengan singkat cara menggunakan tes pack padaku. Setelah itu ia menyuruhku ke kamar mandi dan membaca hasil tes pack seorang diri.


Dan kenapa aku menjadi gugup begini?


Perlahan aku mencelupkan ujung tes pack hingga ke batas garis. Dan garis yang muncul hanya satu. Aku menarik nafas lega, separuh hati ku lega. Separuhnya lagi, kecewa.


Satu menit kemudian garis merah itu tetap hanya ada satu. Separuh hatiku menginginkan garis itu tiba-tiba mengganda. Akan tetapi, hingga ku buang sisa urin di dalam wadah garis itu tidak bergerak.


Aku mencuci wadah dan kembali ke luar. Kemudian menyerahkan hasil tes pack ku pada si dokter.


"Sepertinya negatif." Aku memperlihatkan hasilnya.


Tapi si dokter melongo melihat hasil tes pack itu. Ia mengambil benda itu dari tangan ku.


"Mustahil, lihat ini! ada dua garis, hanya saja yang satunya samar!"


Dia menunjuk ke garis satunya lagi, sejujurnya aku tidak bisa melihat garis itu dari kejauhan. Jadi aku mendekat dan memperhatikan dengan seksama.


"Jadi... apa artinya aku hamil tapi kehamilanku lemah?" tanyaku pada si dokter.


"Bukan begitu, kamu positif hamil. Hanya saja alat ini nggak bisa mendeteksinya secara akurat. Lebih baik kamu periksakan ke dokter kandungan lagi. Ingat, periksakan di dokter kandungan yang memiliki alat USG."


"USG?"


"Ya ampun, kamu benar-benar polos. Semoga saja kamu bisa menjadi ibu yang baik buat anak kamu kelak." Si dokter berdecak heran melihatku.


"Jadi, apa artinya aku hamil?"


"Ya."


Hari ini sungguh mengejutkan untuk ku. Apakah ini nyata? tapi, aku belum siap untuk ini. Bahkan toko roti ku di depan sana masih belum apa-apa. Masih banyak hal yang aku ingin lakukan sebelum aku benar-benar menjadi seorang ibu.

__ADS_1


Akan tetapi aku merasa sangat bahagia, aku seakan ingin melompat kegirangan. Haruskah aku menelpon Briyan sekarang?


__ADS_2