
Untuk pertama kalinya aku, Briyan, Sean dan Merry berkumpul di halaman rumah. Cuaca malam ini sangat terang. Di hadapan kami berempat ada banyak sekali makanan dan minuman dingin.
Briyan menuangkan kopi panas dari dalam termos kecil ke dalam gelasnya.
"Bri... aku perhatikan badanmu semakin melar saja, jagalah pola makan dan olahragamu." Ucap Sean menasihati Briyan.
"Aku selalu menyisihkan waktu untuk berolahraga teratur di kantor, hanya saja.... aku nggak bisa menahan kelezatan setiap makanan di hadapanku. Karena makanan itu rezeki, dan aku nggak mau mengurangi jatah makan ku alias rezeki ku."
"Kamu terlalu banyak ngeles, kamu tahu?"
Briyan dan Sean berdebat kecil. Sesekali ku lihat Sean mencubit perut Briyan yang semakin buncit, terkadang ia juga mencubit lengan Briyan atau pipinya yang semakin montok.
"Akhirnya, kamu dan Sean akan menikah dalam waktu dekat." Ucapku pada Merry yang nampak canggung malam ini.
"Ah, ya. Aku hanya beruntung." Sahutnya.
"Kamu nampak tidak senang, ada apa?" tanyaku setengah berbisik. Suara kami tenggelam di telan musik dari salon amply di dalam rumah dan juga candaan Briyan dan Sean.
"Banyak hal yang aku khawatirkan..."
Merry nampak ketakutan, ia menggenggam erat jari jemarinya seakan mengumpulkan kekuatan.
"Ada apa Merry? ceritakan!"
Merry tidak langsung menjawab, matanya berkaca-kaca.
"Aku dan Sean... kami juga mengalami apa yang kamu dan Briyan alami. Kamu ingat Kenan? Kenan saudara laki-laki ibu Sean dan Briyan. Dia sekarang juga mengincar ku dan Sean."
Betapa terkejut aku mendengar pernyataan Merry.
"Jadi, apa yang sudah terjadi padamu dan Sean?" Aku menggenggam kepalan tangan Sean berusaha menenangkannya.
"Dia hampir menculik ku, dia tidak akan membiarkan aku dan Sean menikah. Kenan juga mengancam kami. Aku selalu merasa dalam bahaya, tak sedikitpun aku merasa aman dan nyaman dimana pun aku berada." Tutur Mery dengan nada agak gemetar.
"Tenanglah, bukannya orang bayaran keluarga kita juga selalu membantu? kamu tenanglah..." Ucapku setengah berbisik.
"Ya, karena itulah aku berhasil selamat, kalau tidak... entahlah apa yang akan terjadi padaku tempo hari." Merry semakin murung, air matanya mengalir di pipinya yang putih bersih.
"Ma'af kan aku, aku nggak berguna di saat kamu dalam bahaya..." Aku turut sedih mendengarnya dan melihat Merry yang ketakutan.
"Keluarga kita sudah mengerahkan lebih banyak mata-mata dan penjaga untuk kita semua. Akan tetapi yang membuatku sangat takut adalah, ketika dalam perjalanan kemari aku melihat seorang yang mencurigakan sedang mengintai rumah ini."
Degh!
Aku dibuat ketakutan oleh perkataan Merry.
__ADS_1
"Benarkah? apa kamu yakin?"
Merry menggeleng. "Aku nggak terlalu yakin... tapi, bagaimana kalau itu memang komplotan Kenan?"
Aku menjadi waspada mencuri pandang ke kanan dan ke kiri memastikan tak ada yang mencoba mengintai.
SREK!
Dedauan di luar pagar bergoyang, padahal tidak ada angin yang berhembus. Penglihatan ku menjadi sangat fokus dan instingku menajam.
"Merry tunggulah di sini, sepertinya aku melihat sesuatu. Jangan memperhatikan kemana aku pergi, berpura-pura lah sedang sibuk dengan ponselmu." Ucapku setengah berbisik.
Aku beranjak masuk ke dalam rumah, sementara Merry mengeluarkan ponselnya. Aku terus berjalan menuju pintu samping dan keluar perlahan mengendap-endap.
Aku memegang erat pemukul baseball yang kuambil di dapur sebelumnya, kemudian terus berjalan dan bersembunyi. Penerangan yang cukup di luar pagar membuatnya sedikit terlihat, aku yakin seseorang sedang bersembunyi di balik tanaman rimbun itu.
Nampak sekali kulihat ia sedang mempersiapkan sesuatu.
Pistol?!
Jantungku berdebar melihat laki-laki itu menyiapkan sebuah pistol. Aku terus berusaha mendekatinya, untung saja pagar ini sudah di modifikasi dengan pintu rahasia. Aku bisa keluar perlahan melalui sedikit celah di pagar.
Tap!
Dia mengisyaratkan dengan telunjuk nya untuk diam.
Ternyata dia orangnya Briyan.
Hampir saja. Jantung ku kembali berdetak kencang.
Orang Briyan tersebut juga sudah menyiapkan pistol dan siap menembak sasarannya.
Aku sangat takut ketika si penjahat mulai menodongkan pistol ke arah Briyan dan Sean. Siapakah yang ingin dia tembak sebenarnya?
Tepat ketika penjahat itu menodongkan pistol, orang Briyan langsung menembaknya tepat di lengan.
DOR!
Tembakan pertama mengejutkan ku.
DOR!
Aaaaarrrgghhhh!!!!!
Tembakan kedua mengejutkan semua orang.
__ADS_1
DOR!
Tembakan ketiga membuatku terduduk lesu tak berdaya.
Briyan, Sean dan Merry lari berhamburan ke dalam. Sedangkan orang rumah berlari menuju ke luar.
Si penjahat di ringkus tepat di depanku. Bantuan langsung datang, beberapa orang Briyan yang sedang bersembunyi juga ikut menangkapnya.
Aku masih duduk lemas tak berdaya, apalagi darah orang tersebut mulai berceceran. Semakin membuatku bergidik.
Briyan berlari ke sekeliling rumah berteriak memanggil namaku. Namun aku tak dapat menjawab panggilannya.
Salah seorang dari orang Briyan yang melihat keadaanku langsung membantuku. Ia membopong ku masuk ke dalam dalam rumah dan segera menutup pintu pagar modifikasi.
Briyan yang melihat keadaanku sangat terkejut dan langsung membantuku duduk di sofa ruang tengah.
"Sayang, kamu nggak kenapa-kenapa kan??! sayang.. sayang...!" Briyan menepuk-nepuk pipiku.
Briyan menghadap ke orang suruhannya. "Apa yang terjadi padanya? katakan!"
"Dia hanya syok karena melihat langsung kejadian penembakan tadi. Istirahatkan saja dia sebentar."
"Oh, begitu... yasudah." Briyan memelukku yang masih terduduk lemas sambil menutup wajahku menggunakan kedua tanganku.
"Tidak apa-apa... semua baik-baik saja," ucapnya terus memeluk dan mengusap rambutku.
Sedangkan semua orang sedang di luar menonton penyergapan itu dan mulai menginterogasi si penjahat tepat di samping rumah.
10 menit kemudian barulah aku merasa lebih baik seperti sedia kala. Aku melepaskan pelukan Briyan.
"Kemana semua orang?" tanyaku pada Briyan.
"Sepertinya mereka semua sedang mengadili penjahat itu di samping rumah, jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja, lebih baik sekarang kamu masuk ke kamar dan istirahat. Wajahmu pucat sekali."
"Ya." Aku menurutinya dan masuk ke kamarku.
Sedangkan Briyan kembali ke luar menuju halaman rumah menyusul yang lain.
Aku berbaring di kasur. Tidak menyangka aku akan syok seperti ini, seperti bukan diriku saja. Aku ke kamar mandi dan mencuci wajahku.
Berbagai cara aku lakukan agar tidak mengingat kejadian tadi. Semakin aku berbaring tidur, semakin gelisah diriku. Aku memutuskan untuk bangkit berdiri dan menyusul yang lain ke halaman rumah.
Akan tetapi, aku terlambat. Si penjahat sudah di bawa dengan mobil. Hanya saja, darahnya masih berceceran di sepanjang halaman rumah. Membuatku muak dan kembali ke kamar mandi dan mengeluarkan isi lambungku.
Briyan semakin khawatir dengan keadaanku. Ia kembali menyusul ku. Tubuhku sangat lemas, hanya bisa terbaring di kasur hingga keesokan pagi.
__ADS_1