
"Sayang... sayang... kamu demam?" Briyan mengguncangkan tubuhku pagi-pagi sekali. Sayang, aku tak sama sekali tak dapat meresponnya. Aku merasakan kesadaran ku semakin menipis.
Beberapa kali Briyan menempelkan punggung tangannya ke dahi ku, lengan dan juga telapak kaki. Kemudian dia hilang begitu saja, tak ada suara apapun yang dapat ku dengar.
Hingga tiba-tiba suasana kamar ku menjadi ramai. Ku dengar suara ibu Briyan samar-samar, akan tetapi aku tak bisa membuka kedua mataku. Seakan aku sedang pingsan, tetapi sebenarnya samar-samar aku masih sadar.
"Astaga! suhu tubuhnya tinggi sekali! cepat panggil dokter Moe kemari!" Perintah ibu Briyan.
Briyan segera menelepon dokter Mie yang disebutkan ibu nya. Ibunya lalu menggunakan termometer untuk mengukur suhu tubuhku. Sedangkan satu orang lagi sedang mengompres kening ku dengan air hangat, dari suaranya sepertinya itu adalah seorang ART.
Tit tit!
Suara termometer berbunyi, tanda sudah dapat dibaca hasilnya.
"Ya ampun, panasnya tinggi sekali 42 derajat!". Ibu Briyan terperanjat melihat hasil termometer di tangannya.
"Mamah, apa kita bawa saja dia ke rumah sakit??" tanya Briyan khawatir.
"Jangan terburu-buru dulu, kita tunggu saja dokter Moe. Biar dia yang putuskan apakah harus ditangani lebih lanjut atau cukup memberikan obat saja."
Setengah jam kemudian, dokter Moe tiba. Dokter perempuan itu langsung masuk ke dalam kamar dan dia berbincang sedikit dengan ibu Briyan lalu segera memeriksaku. Ku rasakan dia sedang memeriksa tekanan darahku dan denyut jantung.
"Tekanan darahnya terlalu rendah, hanya 90/50 saja. Denyut jantungnya sangat cepat karena demamnya yang sangat tinggi. Saya akan memasang infus."
Sesaat kemudian, kurasakan punggung tanganku sedikit ditusuk dengan jarum. Dokter itu lalu menyuntikkan beberapa obat melalui selang infus.
"Jadi, ini menantu anda Bu Presdir?" tanya si dokter.
"Ya, namanya Dewi."
"Ada kemungkinan dia hamil, tapi harus diperiksakan dahulu lebih lanjut. Apakah dia menggunakan alat kontrasepsi?"
"Sama sekali tidak, dok." Sahut Briyan.
"Untungnya saya membawa alat deteksi jantung bayi. Kalian nggak usah khawatir, kita akan tahu."
Si dokter mengeluarkan sebuah alat deteksi jantung bayi. Dia lalu menyingkap pakaianku sampai ke bawah rusuk. Dia mengoleskan cairan dingin di bagian perut lalu meletakkan alat deteksi jantung.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, terdengar suara detak jantung agak cepat namun teratur.
"Dengarlah! ini detak jantung bayi nya." Si dokter tersenyum lebar.
Semua orang di dalam kamar itu tersenyum dan bersorak bahagia. Tak ku sangka, berita kehamilanku akan diketahui dengan cara seperti ini. Aku bahkan belum bisa membuka mataku.
"Sepertinya dia mengalami infeksi di bagian dalam perutnya. Perutnya nampak kembung dan keras, beruntung saya bisa menemukan detak jantungnya dengan akurat. Tapi tenang saja, obat-obatan yang saya berikan adalah yang terbaik, dan yang pasti aman untuk perempuan hamil."
Dokter Moe meresepkan beberapa obat untuk ku beserta vitamin yang harus aku minum.
"Obat ini jangan diminum dulu, karena dia sedang di infus dan saya akan menyuntikkan obat melalui infusuntuk hari ini dan besok."
"Ya, dok!" Sahut Briyan bersemangat.
Aku yakin sekarang wajahnya sangat senang dan berseri mendengar kabar kehamilanku.
*******
Keesokan hari aku sudah bisa bangkit dan duduk, meskipun masih agak demam. Dokter Moe melepaskan infus dari tanganku.
"Ingat, obatnya di minum sesuai anjuran. Kalau ada apa-apa panggil saja saya." Ucap dokter Moe.
Setelah berkemas, dokter Moe langsung pulang.
Kulihat Briyan membayar semua tagihannya. Setelah itu Briyan mendekatiku.
"Sayang.. bagaimana rasanya keadaanmu sekarang?"
"Masih lemas sekali, tapi sudah jauh lebih baik."
"Kamu cuma makan bubur ayam 3 sendok pagi ini, kamu harus makan lagi. Kasian bayi kita di dalam perutmu."
"Aku nggak berselera makan."
"Bagaimana kalau buah?" tanya Briyan.
"Aku mau, tapi yang rasanya masam. Supaya menggungah selera makan ku."
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku akan tanyakan pada ART di dapur. Makanan apa yang mungkin ibu hamil suka. Mereka pasti lebih berpengalaman kan?"
Aku mengangguk saja mengiyakan perkataannya. Dengan bersemangat Briyan segera pergi ke dapur.
Di dapur.
"Tenang saja pak Briyan, kami nggak akan mengecewakanmu." Sahut salah seorang ART sambil tersenyum lebar.
"Oke, baiklah. Terima kasih ya!"
Briyan kembali bergegas menuju kamar.
*******
Satu jam kemudian, seorang ART ke kamarku mengantarkan makanan. Briyan dengan cepat menyambutnya.
Aku tercengang melihat menu masakan kali ini. Ada 5 wadah, satu wadah ada sambel dengan potongan jeruk purut, tomat. Di wadah satunya lagi Acar timun, wortel, kubis yang di iris tipis tanpa bawang. Nasi putih, tahu dan tempe goreng.
Briyan juga tercengang melihat menu masakan di hadapannya.
"Sa... sayang... sepertinya para ART sudah salah memasak menu makanan untuk mu." Briyan menggeleng melihat menu makanan di depannya.
"Sama sekali nggak sayang, sepertinya aku bisa menghabiskan semua makanan ini."
Briyan terkejut mendengar perkataan ku.
Aku langsung merebut nampan yang Briyan pegang dan makan perlahan. Perlahan tapi pasti.
"Bagaimana rasanya sayang?" tanya Briyan.
"Sayang, tolong beritahu ART. Aku mau makan malam dengan menu ini lagi."
"A—apa?? kamu nggak salah sayang??"
"Dan tolong beritahukan, tolong tambahkan jeruk lebih banyak lagi di dalam sambel ini tapi jangan pakai tomat."
"Kamu suka??"
__ADS_1
Aku mengangguk mengiyakan. Briyan hanya memandangiku yang sedang makan dengan lahap sekali.