Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 48


__ADS_3

Hari ini hari yang ku tunggu, aku dapat cuti kerja selama 3 hari. Sungguh membahagiakan untukku. Tak ada hal berarti yang aku lakukan hari ini. Hanya berbaring seharian dan menonton tv.


Besok lusa adalah hari resepsi pernikahanku dengan Briyan, hanya saja aku tak perlu repot melakukan ini dan itu. Misalnya saja untuk konsumsi, Bu Presdir sudah memesan makanan dari catering langganannya. Kemudian untuk rias dan dekorasi dia sudah memiliki langganan juga. Mereka semua siap membantu nya dalam semua urusan resepsi pernikahan aku dan Briyan nanti.


Aku berbaring menonton siaran tv kartun anak-anak. Bagiku, ini lebih baik dibandingkan menonton berita gosip. Sesekali aku tertawa kecil melihat tingkah lucu pemain kartun.


Sayang sekali tak ada makanan apapun di rumah, sedangkan sekarang ini perutku sangat lapar. Dengan terpaksa aku mengambil kunci motor dan pergi membeli makanan jadi.


Dengan gaji ku yang sekarang yang terbilang lebih kecil dibandingkan pekerjaan ganda ku tempo dulu, akan tetapi aku tak memiliki tekanan pengeluaran untuk sepeda motor dan tempat tinggal. Kali ini aku hanya tinggal memikirkan perutku saja.


Karena aku orang yang cukup hemat, aku hanya perlu mengeluarkan uang 1500 untuk biaya makan dan pulsa selama 1 bulan. Jadi sisa gaji ku bisa ku tabung dengan sangat baik.


Aku menyalakan motor dan melaju kencang mencari penjual makanan matang. Beberapa kilometer aku melaju belum menemukan penjual apapun. Biasanya di sisi jalan ini ada 2 orang penjual makanan, akan tetapi seprtinya mereka tidak berjualan hari ini.


Terpaksa aku melaju ke sisi jalan lainnya, beberapa ratus meter kemudian aku menemukan penjual nasi uduk lengkap dengan kue basah olahan tangan.


Hari ini aku akan memanjakan diriku, tak apa sesekali membelanjakan uang agak banyak untuk makanan. Yang penting habis di makan, bukan dibuang. betinaku berbicara.


Aku memesan 2 nasi uduk, mengambil kantong plastik tanggung untuk di isi dengan kue basah dihadapan ku. Di sini menyediakan kue basah seperti kue donat, roti goreng, pisang goreng, dan lain lain.


Setelah itu aku membayar dan kembali pulang. Sekitar 5 km perjalanan aku sampai ke wisma. Di sana ku lihat Briyan sudah menunggu duduk di teras.


Aku memarkirkan sepeda motor dan turun.


"Dari mana aja kamu sayang?" tanya Briyan padaku.


"Aku lapar, hari ini aku nggak masak jadi aku hanya beli aja di penjual kaki lima." Sahutku membuka kunci pintu.


"Banyak sekali makanan yang kamu bawa." Briyan nampak heran dengan makanan yang sangat banyak ku tenteng dengan satu tanganku.


"Iya, aku beli semua ini dengan uang seratus ribu lebih. Wajar saja kalau banyak begini. Lagipula, aku tahu kamu pasti akan datang, jadi aku sengaja memesan lebih banyak." Ucapku meletakkan bawaan ku dan menuju dapur untuk membuatkan Briyan kopi dan mengambil piring untuk wadah kue dan nasi yang ku beli.


Sedangkan Briyan langsung menyantap kue basah yang ku beli. Ia nampak sangat menikmatinya. Jujur saja, perutnya semakin buncit dan matanya terlihat lebih sipit akibat berat badannya yang naik. Pipinya juga lebih bulat daripada sebelumnya.


Aku menyuguhkan segelas kopi susu pada Briyan. Meletakkan nasi uduk yang kubeli ke dalam piring lalu aku makan dengan lahap karena perutku sudah sangat melilit.


"Bagaimana rasanya, apa itu enak??" tanya Briyan yang memperhatikan aku makan.

__ADS_1


"Kamu mau coba??" aku memberanikan diri untuk menyuapinya. "Aaaaaaa....." Aku menyuruhnya membuka mulut.


Ngap!


Briyan melahap satu suapan yang kuberikan. Jantungku mulai berdetak kencang, aku yakin sekarang ini raut wajahku berubah dan memerah.


"Lagi." Briyan membuka mulutnya lagi. "Aaaaaa."


"Sudah."


"Sudaah?? aku masih lapar, dan masih mau disuapin istriku."


"Kamu belum pernah menimbang berat badan kamu lagi??" tanyaku pada Briyan.


"Ng—nggak, memangnya kenapa? apa aku terlihat lebih gemuk??"


"Hm_em!" Aku mengangguk.


"Jadi, karena berat badanku bertambah aku nggak boleh makan bersama istriku??"


Degh!


"Aku nggak melarangmu banyak makan, hanya saja kamu harus menghitung atau paling tidak mengira-ngira kalori yang telah masuk. Dan juga dinimbangi dengan olahraga. Aku nggak mau nanti kamu penyakitan karena banyak makan sembarang kemudian kamu masuk rumah sakit dan 'is deaht' lebih dulu. Ingat, warisan mu kan sangat banyak. Bisa-bisa nanti hartamu aku gunakan untuk foya-foya!"


Briyan menatapku, aku membalas tatapannya dengan sangat meyakinkan. Briyan nampak bingung mendengar ucapan ku.


"Kenapa? aku benar kan??" tanyaku pada Briyan.


Briyan meminum kopinya. Setelah itu dia menggenggam tanganku dan memaksaku menyuapinya.


Ngap!


Ngap!


Ngap!


Sekarang mulutnya sangat penuh, dia malah tersenyum padaku. Dasar, laki-laki ini!

__ADS_1


"Sayang, kamu tahu... aku belum makan seharian ini. Aku ke sini cuma mau kamu suapin aku makan. Sekarang, Aaaaaa!" Briyan membuka mulutnya lagi meminta untuk disuap makan lagi.


Laki-laki ini... benar-benar bisa membuat jantungku berdebar.


Aku terpaksa menyuapinya, bahkan aku dan Briyan makan semua nasi uduk yang ku beli. Hanya butuh waktu 15 menit untuk menghabiskan semuanya.


Fuuuuhhhh!!


Aku menghembuskan nafas kasar.


"Kalau sudah selesai makan, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Ucap Briyan bersandar di sofa.


"Kemana?"


"Masih rahasia, bersiap-siap saja dahulu." Briyan menghabiskan kopinya.


Aku membereskan bekas kami makan dan ke dapur untuk mencuci piring yang ada. Hanya sedikit yang perlu aku cuci, sebelumnya Merry juga sudah mencucinya.


Setelah itu, aku ke kamar untuk mengganti pakaian dan mengambil jaket. Seketika aku berpikir, untung saja Briyan bukan laki-laki yang penuh pikiran mesum. Dia tidak akan menggangguku di kamar ini, dia laki-laki yang sangat menghargai ku. Atau... apakah dia takut padaku?


Ah, tidak! kenapa aku jadi berpikiran yang bukan-bukan.


Aku keluar dari kamar dengan pakaian santai ku. Celana kain slim fit berwarna krim dan atasan panjang berwarna coklat muda.


Briyan memperhatikan sekilas ke dalam kamarku.


"Apa yang menggantung itu? apa itu mukena?" tanya Briyan.


Aku menoleh sekejap pada mukena di dalam kamar yang ku gantung rapi.


"Iya, itu mukena."


"Kamu ternyata rajin sholat..." Briyan tersenyum manis kepadaku.


"Nggak juga... sholatku sebenarnya masih bolong-bolong." Aku malu mengatakannya jadi hanya menunduk saja.


"Itu juga sudah bagus, kalau bisa kamu tingkatkan lagi kerajinan sholatmu. Aku juga ingin punya istri Sholeha." Briyan mengatakan itu sambil membelai rambutku.

__ADS_1


Perlakuan Briyan yang seperti itu membuat hatiku menjadi tenang. Aku harap dia selamanya akan seperti ini, jangan pernah berubah.


"Ayo, waktu kita semakin sempit. Nanti sore aku masih ada pertemuan penting." Briyan menggandeng tanganku berjalan keluar rumah.


__ADS_2