
Malam pertama pengantin, orang-orang bilang malam yang menegangkan. Akan tetapi malam ini sumpek sekali. Rumah ini ada 2 kamar, akan tetapi adikku Sena dan melati tidur di kamar pengantin dengan springbed.
Sedangkan kamar satunya lagi sesak penuh dengan berbagai macam barang. Tak ada kasur, bantal ataupun selimut di sana. Bahkan sekedar untuk duduk saja hampir tak ada tempat.
Ibu dan ayahku tidur dengan pulas di ruang tengah. Mereka sudah mendengkur dengan keras membuat kebisingan yang tak asing bagiku.
"Nggak ada tempat tidur buat kita, ini sangat mengenaskan. Lebih baik kita pulang saja ke wisma, jaraknya nggak terlalu jauh kan? cuma sekitar 10 km dari sini."
"Ini sudah hampir dini hari, lebih baik kita tidur di sini saja. Aku akan mengemasi barang-barangnya." Sahut ku sambil membereskan beberapa barang yang bertumpuk.
Briyan juga ikut membantuku. Kamar ini sangat sumpek dan sempit, sehingga kami kesulitan untuk menggeser barang-barangnya.
Pukul 01.00 barulah kami dapat berbaring dengan lega. Itupun tak dapat meluruskan kaki, kaki hanya bisa di tekuk karena terhimpit barang.
Briyan nampak kelelahan dan sangat mengantuk, ia tidur dengan menekuk kaki dan tubuhnya. Menghadap ku dan memegang tanganku dengan erat. Aku menjadi gugup dibuatnya.
Tak berapa lama kudengar ia mendengkur kecil, dan genggaman tangannya mulai merenggang. Aku merasa kasihan padanya, ini baru awal pernikahan kami. Akan tetapi kami sudah mengalami hal yang tak menyenangkan seperti ini.
Aku mengusap kepalanya lembut, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa bahagia, sekaligus merasakan kesedihan yang mendalam.
__ADS_1
Tanpa terasa aku juga tertidur pulas hingga pagi hari. Aku bangun untuk mandi, aku tak perlu memasak atau pun membeli makanan. Karena sisa makanan semalam masih banyak, aku hanya perlu menghangatkannya.
Aku menghangatkan beberapa menu masakan dan menyiapkannya untuk sarapan semua orang. Satu persatu orang di rumah bangun, begitu juga dengan Briyan.
"Sayang, apa nggak ada menu makanan lain selain sisa kemarin?" tanya Briyan padaku.
"Sssttt, jangan protes. Aku susah payah menyiapkannya, jadi kamu hargai saja. Oke?" ucapku dengan senyuman tipis.
"Kakak, di kota ini sangat indah. Aku mau tinggal beberapa hari lagi di sini." Melati mendekatiku dan mengambil piring untuk sarapan.
"Nggak boleh! 2 hari lagi pemilik rumah ini kembali. Jadi, besok kita harus merapikan rumah ini serapi dan sebersih mungkin." Sahut ku ketus.
"Apa kak?! nggak! aku nggak mau membereskan rumah ini. Kakak lihat, sangat berantakan sekali!" melati merengek mendengar perkataan ku.
"Aku nggak mau!" Melati membawa piring nasinya keluar dari dapur.
Aku dan Briyan saling bertatapan, melihat tingkah Melati yang tidak sopan.
Sena yang mendengar perbincangan kami juga mendekatiku.
__ADS_1
"Kakak, aku mau ikut bekerja denganmu.. bolehkan?? please...."
"Nggak! kamu cuma akan merepotkan aku Sena!"
"Aku janji kak, aku nggak akan merepotkan kamu... ya, please...." Sena merengek.
"Boleh saja sih, tapi kamu punya tugas."
"Tugas apa kak?"
"Karena kami masih tinggal di kost, kamu kan cuma numpang gratis... jadi, tugas kamu adalah bersih-bersih rumah, memasak untuk kakak dan mencuci baju."
"Apa?!! nggak! aku nggak mau!"
"Kamu tenang saja Sena, kakak akan membayar kamu dengan layak." Ucapku santai.
"Mana mungkin Sena mengerjakan semua itu Wi?? setiap hari ibu berteriak menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah, sekarang kamu yang menyuruhnya?? itu nggak akan pernah mungkin!"
Sena kesal, ia mengambil piring nasinya dan makan di ruang tengah. Briyan kembali menatapku dengan tatapan heran, aku hanya menunduk dan kembali menghabiskan makananku seolah tak terjadi apa-apa.
__ADS_1
Makanan di hadapan kami sangat banyak, ada 1 wajan besar ayam yang di masak kari, telur rebus di masak bistik. Akan tetapi selera makan ku hilang begitu saja melihat tingkah Sena dan Melati.
Sampai kapan kami akan menyembunyikan yang sebenarnya dari mereka. Aku khawatir suatu saat nanti mereka akan menyadarinya dan menjadi benalu untuk Briyan dan keluarganya. Hal seperti itulah yang sangat aku takutkan, melebihi kehidupanku sendiri.