Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 47


__ADS_3

Aku dan Briyan sudah berada di halaman depan rumahnya. Briyan menggandeng tanganku.


Aku menatapnya. "Kamu ngapain?"


"Apa? kita kan sudah boleh bergandengan tangan? bukannya kita sudah halal?" tanya Briyan tak membalas tatapanku.


Jantungku seakan mau copot, padahal dia hanya menggandeng tanganku saja. Aku tak berani melawannya, hanya saja aku sangat malu dalam hal semacam ini.


Kami terus berjalan masuk ke dalam rumahnya. Briyan langsung menuntun ku ke dalam ruang tengah. Untuk ke dua kalinya aku berada di dalam rumah mewah ini.


"Duduk." Bu Presdir menyuruhku duduk dengan gaya kaku nya seperti biasa.


Aku buru-buru melepaskan pegangan tangan Briyan dan duduk di sofa. Aku hanya berani memandang sekilas tatanan ruangan ini. Sebelumnya aku bahkan tak bernyali untuk melihat-lihat apa yang ada di ruangan ini.


"Dari mana saja kalian?" tanya ayah Briyan.


Briyan langsung menjawab dengan santai. "Aku nggak dari mana-mana yah, dari kantor langsung menjemput Dewi. Kenapa ayah nggak pergi ke kantor hari ini?"

__ADS_1


Ayah Briyan menyeruput kopinya lalu meletakkannya kembali di meja.


"Ayah ini sudah tua, masa pergi ke kantor terus? kamu lah yang bertanggung jawab sekarang.. mengerti?"


Briyan tersenyum tipis menanggapi perkataan ayahnya. Tak berapa lama, kakek dan nenek Briyan muncul dari kamar. Mereka berdua nampak berjalan saling menopang satu sama lain.


"Kakek, hati-hati... perhatikan jalanmu..." kata nenek memperingatkan kakek.


"Iya, aku tahu... meskipun sudah tua begini penglihatan ku masih sangat bagus..." sahut kakek. Sebenarnya kakek baru saja hampir menabrak lemari bufet di sampingnya, kalau saja nenek tidak menarik tubuh kakek perlahan. Pemandangan itu membuat kami sedikit tegang dan juga lucu.


Briyan dan ayah membantu kakek duduk di sofa, sementara ibunya menuangkan teh ke dalam gelas untuk kakek dan nenek.


"Briyan, Dewi. Kami semua sudah menetapkan tanggal pernikahan kalian, kalian akan menikah minggu depan di gedung yang sudah kami sewa kemarin. Undangan sudah siap, tinggal kalian berdua sebarkan saja." Ucap ayah mengeluarkan tumpukan undangan di sampingnya.


"Kita nggak mengundang orang banyak, hanya ada 30 undangan yang tersebar. Kami pikir ini demi kebaikan kalian juga, pertama jangan sampai hari pernikahan kalian menjadi target kejahatan Kenan. Yang kedua, tidak perlu menghamburkan uang secara berlebihan. Lebih baik uang nya kalian gunakan untuk membuka usaha lain."


"Mamah, kalau memang takut kita menjadi sasaran kejahatan Kenan kenapa harus menyebarkan undangan? tanpa undangan pun sebenarnya nggak masalah." Sahut Briyan.

__ADS_1


"Menikah tanpa undangan juga terasa aneh Briyan, itu juga akan menjadi pertanyaan nantinya. Orang-orang akan berpikir kalau kalian cuma menikah kontrak." Ucap Ayah Briyan, ia kembali meminum kopi di depannya.


"Baiklah, terserah ayah dan mamah saja... aku yakin keputusan seperti apapun yang kalian ambil itu semua untuk kebaikan kami dan kita semua."


"Ya," sahut ayah lagi.


"Ini, pakailah cincin turun temurun keluarga kita." Nenek mengeluarkan sebuah cincin dan meletakkannya di atas meja.



Aku tak dapat berkata-kata, cincin apalagi ini?


kenapa banyak sekali cincin.


"Kamu sudah menolak cincin yang mamah belikan, jadi sekarang kamu akan menggunakan cincin turun temurun keluarga kita saja. Mungkin kamu bingung kenapa ada banyak sekali cincin. Tapi, inilah tradisi keluarga kami Sekarang kamu menjadi bagian dari keluarga ini."


Briyan mengenakan cincin yang nenek berikan untuk ku. Dan aku tak bisa menolaknya lagi. Selama ini jari-jariku tak pernah memakai perhiasan murahan sekalipun. Hari ini, ada 3 cincin yang melingkar di jari-jari tangan ku.

__ADS_1


Setelah berbincang sebentar, Briyan mengajakku berjalan-jalan di sekitar rumahnya yang sangat luas. Rumah ini bak istana di negeri dongeng bagi ku. Bahkan halamannya yang luas bak taman surga yang setiap jengkalnya ada tanaman hias yang cantik.


Yang paling membuatku begitu terpesona adalah tanaman mawar rambat yang begitu cantik. Mawar dengan warna pink, merah dan merah muda bersatu padu. Kami berdua berjalan santai melihat-lihat surga kecil di halaman rumah Briyan.


__ADS_2