
Briyan selesai makan malam, ia beserta ayah dan ibunya sedang duduk bersantai di ruang tengah. Briyan dengan santai menyalakan rokok nya sambil bermain ponsel.
"Briyan, apa kamu sudah bertemu keluarga Dewi?" tanya Ayah Briyan membuka percakapan mereka malam itu.
"Belum, ayah... ma'afkan aku."
"Ayah dan ibumu sudah mengirim orang untuk menyelidiki tentang orang tua Dewi." Ayahnya menyodorkan beberapa foto dan identitas yang berhasil ia dapatkan.
Briyan segera memandangi foto berukuran kecil yang diletakkan ayah ya di meja. Ia memandangi dengan seksama foto itu satu persatu.
Salah satu foto menunjukkan Ibu Dewi sedang berjualan di pinggiran jalan.
"Jadi, ibunya seorang pedagang kaki lima?" tanya Briyan.
"Ya, begitulah."
"Pedagang kecil bukan pekerjaan yang hina, dia sama seperti kita... kita juga berdagang, hanya saja skala nya yang membedakan. Mereka pedang kecil, sedangkan kita pedagang besar." Ucap Briyan membela ibunya Dewi.
"Tepat sekali, kamu benar." Sahut ayahnya, sedangkan ibunya masih diam tak bersuara.
Briyan memperhatikan sebuah foto, mereka tinggal di komplek kumuh.
"Jadi, mereka keluarga miskin..."
Orang tua Briyan hanya diam mendengarkan perkataan Briyan. Ia menatap sebuah foto seorang pria dengan tato di pasar yang kumuh.
"Siapa ini? ayahnya?"
Ayah Briyan menghembuskan nafas perlahan. "Ya,dia ayah Dewi."
"Dia terlihat seperti mafia gadungan, apa dia preman??"
"Ya, dia preman di pasar itu."
Briyan agak terkejut mendengarnya. Ia hampir kehilangan pikiran jernihnya melihat foto itu.
Briyan kembali melihat foto berikutnya, seorang perempuan sedang di club malam dengan pakaian seksi.
"Siapa ini??"
"Itu ibunya Dewi."
"Apa yang dia lakukan ditempat seperti ini?"
__ADS_1
"Pada malam hari, ia bekerja sebagai pekerja *** komersial." Ayahnya mengatakan dengan nada kurang yakin.
"Benarkah??" Briyan kembali ke foto ibu Dewi yang berjualan di pinggiran. Ia membolak balik foto itu untuk meyakinkan bahwa foto itu adalah orang yang berbeda. Akan tetapi ia tidak menemukan perbedaannya.
Briyan kembali melihat sebuah foto, ada beberapa orang yang datang ke rumah Dewi beserta dengan dokumen dan identitas yang berhasil agen ayahnya dapatkan.
Ternyata ayah dan ibu Dewi terlilit hutang di bank, koperasi dan rentenir. Data-data mereka juga nampak asli.
Briyan semakin syok dengan apa yang dia lihat. Ia memijat-mijat keningnya, bahkan rokoknya sudah mati dengan sendirinya.
"Siapa ini??" Briyan menanyakan foto selanjutnya.
"Itu adalah saudara dan saudari Dewi."
Foto itu menunjukkan saudara Dewi yang mengemis di jalanan.
"Kenapa keadaan mereka begitu mengenaskan? apa ayah yakin ini benar-benar mereka, keluarga Dewi?"
"Ya, ayah yakin sekali. Informasi yang ayah dapat sangat akurat." Ucap ayahnya meyakinkan.
Briyan juga mendapatkan catatan kepolisian bahwa ibunya adalah mantan nara pidana tuduhan kurir narkoba.
Briyan semakin frustasi dibuatnya. Ia tak tahu harus bagaiman selanjutnya. Namun kali ini ayah dan ibunya yang biasa tegas dalam mengambil keputusan, kini mereka hanya diam dan berharap bahwa Briyan tidak akan mengambil langkah yang salah.
Briyan mulai berpikir keras, akan tetapi semakin ia pikirkan akan semakin percuma saja. Ia merebahkan dirinya di kasur dan berusaha memejamkan mata.
Akan tetapi bayangan Dewi dan keluarganya terus muncul di benaknya. Ia bangkit dan mengambil kunci mobil, mengambil jaket dan topi rajut lalu ke garasi mengeluarkan mobilnya.
Ayah dan ibunya hanya diam melihat tingkah anak semata wayangnya. Mereka tak berniat menghentikan ataupun menasihatinya. Karena mereka yakin dengan pilihan anaknya. Selama ini Briyan adalah kebanggaan bagi mereka.
Sementara itu Briyan keluar dari garasi melakukan mobilnya. Ia pergi menuju pantai, tempat dimana ia biasa menenangkan diri.
Ia memesan segelas kopi hitam dan duduk di pinggiran jembatan. Ia hanya merenung dan memikirkan apa yang baru saja ia lihat di rumahnya. Ia begitu bimbang dan tak tahu harus bagaimana. Menikah dengan Dewi sama dengan mencoreng nama baik ayah dan ibunya.
Sesekali ia nampak kesal. Ia mengambil batu di tanah dan melemparkan ke lautan sejauh mungkin.
Pluk!
Pluk!
Pluk!
Pluk!
__ADS_1
Sekian batu ia lempar, namun hati dan pikirannya tak juga kunjung membaik. Ia semakin frustasi.
Hingga tengah malam, ia masih di sana dan tak berubah dari posisinya. Rokoknya pun juga sudah habis sekian batang.
Ia mengambil ponselnya dan menelpon Sean, ia meminta Sean untuk datang ke pantai menemaninya kalau dia sedang tidak sibuk. Sean mengiyakan, ia meminta Briyan menunggu.
20 menit kemudian Sean tiba di sana.
"Apa yang kamu lakukan di sini Bri...? angin malam nggak bagus buat kesehatan." Sean membawa secangkir kopi susu panas dengan gelas besar, lalu duduk tepat di samping Briyan.
Briyan tak bergeming dan tak menjawab pertanyaan Sean. Ia hanya menyalakan rokoknya lagi dengan raut wajah tak menyenangkan.
"Apa ayah dan ibu mu berulah lagi? wajahmu sampai kesal begitu." Sean mencoba menggali apa yang sedang terjadi.
"Bukan ayah dan ibuku yang berulah, tapi aku..."
Sean memandang Briyan penuh tanya. "Benarkah? jadi kamu memang pembuat onar... pantas saja ayah dan ibumu sering memarahi mu."
Briyan tak berniat menjawab perkataan Sean, dia hanya menunduk menghembuskan asap rokoknya.
"Sepertinya masalahmu sangat serius."
Sean mengambil sebatang rokok Briyan, Briyan terheran dan merebutnya.
"Apa yang kamu lakukan?! kamu bukan perokok, jangan coba-coba menyentuhnya!"
Tapi terlambat, Sean berhasil mendapatkan sebatang rokok dan menyalakannya dengan korek.
"Bukan hanya karena kamu nggak pernah melihatku merokok, kamu mengira aku nggak bisa merokok." Sean menghembuskan asap rokoknya. "Sama seperti Dewi, dia juga sudah mengalami hal berat di dalam keluarganya. Karena itu dia memutuskan pergi sejauh mungkin... posisi Dewi jauh lebih berat daripada kamu Bri, tapi menurutku kalau kamu nggak bertekad kuat untuk hidup bersamanya, lebih baik tidak sama sekali."
Briyan terkejut mendengar perkataan Sean.
"Kamu sudah tahu segalanya??" Briyan menatap Sean.
"Tentu saja Bri... ayahmu memerintahkan agen untuk menyelidiki keluarga Dewi, sementara agen ayahmu juga agen ku. Mana mungkin aku nggak tahu?"
"Jadi, tentang keluarga Dewi... apa semua itu benar??"
Sean terdiam sejenak. "Semua itu benar."
Briyan tertunduk lesu.
"Kamu masih punya pilihan, meskipun pilihan itu berat. Sedangkan Dewi, dia nggak punya pilihan sama sekali Bri... dia nggak punya alasan untuk mempertahankan hubungan kamu dengannya. Dia ibarat burung yang bebas, bisa terbang kesana dan kemari tanpa paksaan atau ikatan. Karena baginya memiliki ikatan denganmu cuma akan membuat kehancuran baru."
__ADS_1