
Malam semakin larut, akan tetapi aku masih tak dapat tidur. Briyan hanya terdiam sampingku memainkan ponselnya. Malam ini kami tanpa kasur lagi, hanya beralaskan bad cover yang aku bawa dari wisma. Aku dan Briyan sepakat untuk tidak meributkan masalah ini.
"Kamu nggak keberatan tidur di lantai seperti ini?"
"Sudah nggak terkejut sih, waktu aku bersama Sean di hutan beberapa bulan yang lalu aku malah tidur ayunan." Briyan masih menatap layar ponselnya.
"Ayunan? kenapa?"
"Karena saat itu aku makan dan membuang sembarang sisa-sisa nasi dan tulang ikan, akhirnya semut-semut merah langsung menyebar memenuhi tempat tidur kami. Jadi, karena takut aku tiap malam tidur di ayunan. Menurutku tidur di sini lebih menyenangkan."
"Syukurlah, aku berharap kita cepat pulang ke wisma. Atau, ke rumah ayah dan mamah mu juga nggak masalah."
"Iya... em, ngomong-ngomong Sena bilang dia sampai kelaparan di stasiun, apa itu benar??"
Aku terdiam mendengar pertanyaan Briyan, aku menghembuskan nafas perlahan.
"Jangan terlalu percaya sama omongannya, dia itu bukan pelajar. Dia juga sudah bekerja, termasuk Melati. Jadi, mana mungkin mereka nggak punya uang. Satu lagi... kalau mereka minta uang, jangan kamu berikan lagi, oke?" Ucapku kepada Briyan.
"Kenapa??" Briyan sangat heran.
"Selagi kamu memberi mereka, mereka akan terus meminta darimu."
"Selagi jumlah nya wajar kan nggak apa-apa??"
__ADS_1
Aku melotot pada Briyan mendengar perkataannya.
"I—iya iya, kamu tenang saja. Ngomong-ngomong kalau kamu perlu sesuatu ambil saja di dalam tas selempang ku, ambil lah berapa pun yang kamu butuhkan."
"Iya, terima kasih. Memangnya ada berapa banyak uang di dalam sana?"
"Nggak banyak, cuma 6 juta."
Aku terperangah mendengar kata 'cuma' yang ia lontarkan.
"Kenapa?" Briyan bertanya melihat ekspresi ku.
"Nggak, nggak apa-apa."
"Apa semua orang belum tidur??" tanya Briyan.
"Mereka lagi nonton tv di depan, memangnya kenapa?"
"Kenapa kamu nggak duduk bersama dengan mereka? bukannya mereka besok akan pulang??"
Itu pertanyaan yang agak sulit ku jawab, jujur saja meskipun aku tinggal bersama dengan mereka, aku memang sangat jarang berkumpul. Aku lebih suka di kamar menyendiri dan mengerjakan tugas sekolahku dulu.
"Aku memang terbiasa begini, meskipun mereka sedang berkumpul bersama."
__ADS_1
"Lebih baik kita bergabung, nggak baik kalau kita terus mengurung diri di sini." Ajak Briyan.
Aku dan Briyan bangkit berdiri dan bergabung bersama mereka di luar.
Melati mengeluarkan mic dan speaker kecil, ia memutar lagu untuk nya karaoke dan bernyanyi di hadapan kami. Suaranya merdu dan nampak mahir dengan lagu-lagu yang ia bawakan.
"Melati, kecilkan suaramu. Ayah lagi nonton berita." Ayah menegur Melati.
"Ayah bukan nonton berita, tapi nonton gosip artis. Buat apa ayah nonton yang seperti itu?? kurang kerjaan!" Sahut melati.
"Kamu berisik sekali, ayah yang menonton tv ini lebih awal dibandingkan kamu karaoke. Jadi sekarang kamu yang pindah! ke kamar atau teras!" Ayah mengusir Melati dengan nada suara geregetan.
Melati membawa mic dan speaker kecilnya dengan mulut manyun. Ia membawanya ke kamar tidur.
Sedangkan Sena sedang membalur kakinya dengan lulur. Sena selalu ingin tampil cantik di manapun ia berada. Ia menggunakan headset sambil menelpon seseorang. Sesekali ia nampak tertawa terbahak-bahak dan kembali membalur kakinya dengan lulur.
Sedangkan aku dan Briyan masih terdiam tak bergeming dari tempat duduk kami. Tiada henti kami memperhatikan tingkah mereka semua.
"Mereka semua lucu." Ucap Briyan menoleh ke arahku.
Aku tak menyahut perkataannya. Baginya mereka sekarang lucu, tapi mungkin suatu saat nanti... entahlah, aku tak dapat membayangkan apa yang yang pernah terjadi padaku dulu akan terjadi pada Briyan juga.
Aku yakin Briyan dapat beradaptasi dengan mudah, akan tetapi apakah keluargaku dapat beradaptasi juga? aku tak pernah mengharapkan lebih dari mereka. Cukup dengan tidak membuat masalah atau meminta uang.
__ADS_1